
"Di pantai, mana ada yang main sepak bola, bang? Apanya yang, gol?"celetuk Ayana yang mendengar kata-kata Toyib.
"Pufff... hahahahaha..." Toyib tidak bisa menahan tawanya saat mendengar celetukan Ayana. Sedangkan Dimas hanya bisa memijit pelipisnya sendiri seraya menghela napas panjang.
"Kenapa Abang malah ketawa? Apanya yang lucu? Di pantai memang nggak ada yang main bola, bang. Yang ada main voli pantai,"ujar Ayana malah membuat Toyib semakin tertawa.
"πΌπ¨π©ππππ..! πππ£ππ₯π ππ¨π©π§ππ πͺ πππ¨π π¨ππ₯π€π‘π€π¨ ππ£π? πππ’ππ£π ππ πͺ π£ππππ πππ’ππ¨ π¨ππ’π πππ, π ππ‘ππͺ πππ π¨ππ₯ππ§π©π ππ£π,"gumam Dimas yang benar-benar gemas dengan istri kecilnya itu.
"Astagaaa..! Adik Abang memang sangat menggemaskan. Dim, istri kamu memang benar-benar polos,"ujar Toyib mati-matian menahan tawa.
"Diam kamu! Berisik!"ketus Dimas.
"Issh.. Abang kalau ngomong suka nggak jelas, deh!"sahut Ayana.
"Akhirnya gol juga,"ucap Toyib kembali terkekeh kemudian mendekati Dimas,"Dim, sudah berapa kali belah duren nya? Sampai jalannya aneh gitu?"tanya Toyib seraya berbisik, kemudian kembali terkekeh.
"Nggak usah banyak tanya! Mendingan diam dan makan!"ketus Dimas.
"Cie..cie.. sewot banget. Tapi wajahmu jadi bersinar cerah,"ujar Toyib.
"Memangnya matahari, apa? Pakai bersinar cerah segala,"sahut Dimas.
"Abang tadi udah masak nasi, 'kan?"tanya Ayana yang sudah menyiapkan sate yang di bawanya tadi.
"Sudah. Setelah kamu chat tadi, Abang langsung masak nasi,"sahut Toyib yang dua jam yang lalu memang di chat Ayana agar memasak nasi.
Tak lama kemudian, Ayana sudah selesai menyiapkan makan malam.
"Ayo, makan!"ajak Ayana.
"Pengantin baru makan sate kambing aja. Sate ayamnya buat Abang aja,"ujar Toyib mengambil sate ayam sama wadahnya.
"Mana bisa begitu! Aku juga mau sate ayam,"sambar Ayana menarik kembali wadah sate yang ditarik Toyib tadi.
"Kamu makan sate ayamnya sedikit aja, Ay. Banyakin makan sate kambing, biar nggak kurang darah. Aku yakin kalian akan mulai suka begadang,"ujar Toyib mulai makan.
"Iiihh.. Abang kok ngatur, sih. Lagian siapa yang mau begadang? Besok aku mau sekolah,"sahut Ayana yang juga mulai makan.
__ADS_1
"Yakin, nih, malam ini nggak bakal begadang? Abang nggak yakin, deh!"ujar Toyib, melirik Dimas dengan senyum penuh arti. Tapi seperti biasanya, Dimas hanya diam, malas menanggapi perkataan Toyib. Dimas hanya menghela napas menatap keduanya.
"Yakin,"sahut Ayana tanpa ragu, seraya mengambil sate ayam.
"Abang nggak yakin,"ujar Toyib seraya melirik Dimas yang makan dengan tenang.
"Terserah Abang,"sahut Ayana.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah selesai makan. Ketiganya duduk di ruang tamu. Toyib asyik main game online, Dimas sibuk dengan laptopnya dan Ayana sibuk belajar.
"Yib, aku merasa produk baru yang diluncurkan papa Geno akan semakin meledak di pasaran. Gimana kalau saham kamu aku jual dan aku investasikan di perusahaan papa Geno? Keuntungannya akan lebih menjanjikan dari pada jual beli saham. Gimana? Apa kamu setuju?"tanya Dimas.
"Kamu tahu sendiri, aku sama sekali tidak mengerti dengan saham dan investasi. Aku hanya mengandalkan kamu. Jadi, mana yang menurut kamu lebih menguntungkan, aku nurut aja. Aku, 'kan cuma menitipkan uangku padamu. Uang yang aku kumpulkan selama hampir empat tahun agar aku bisa membeli rumah dan membawa anak, istriku ke kota. Nyatanya istriku malah selingkuh dengan pria lain,"ujar Toyib menghela napas berat.
"Sudah, orang yang meninggalkan kita nggak perlu dikenang. Lagian, kamu juga sudah punya tunangan yang lebih cantik dan muda, 'kan?"ujar Dimas.
"Ikan hiu makan ketan, bang. Lupakan l love you, dia udah jadi mantan,"sahut Ayana.
"Iya, sih. Aku juga nggak mikirin dia lagi. Untuk apa aku mengingat hubungan yang sudah kandas. Unfaedah, nggak guna. Aku malah pengen tunjukkin ke dia bahwa aku baik-baik saja walaupun tanpa dia. Aku ingin lebih sukses dari sekarang agar dia menyesal karena telah mengkhianati dan meninggalkan aku,"ucap Toyib antusias.
"Memangnya seberapa kaya suami mantan istri kamu itu, Yib?"tanya Dimas.
"Suaminya sekarang punya rumah, sawah dan kebun. Kalau di nominal kan, mungkin sekitar delapan ratus jutaan,"ujar Toyib.
"Berarti sekarang kamu lebih kaya dari suami mantan istri kamu, dong, Yib?"ujar Dimas.
"Ah, yang bener, Dim? Memangnya sudah menjadi berapa uang yang aku titipkan sama kamu?"tanya Toyib nampak terkejut mendengar penuturan Dimas.
"Sekarang uang empat ratus juta yang kamu titipkan itu sudah menjadi satu miliar,"sahut
Dimas.
"Yang benar, Dim?"tanya Toyib tidak percaya.
"Benar. Kita mendapatkan keuntungan besar saat jual beli saham,"sahut Dimas serius.
"Wahh.. aku belum pernah melihat uang sebanyak itu,"sahut Toyib.
__ADS_1
"Wahh.. Abang sekarang kaya, dong,"sahut Ayana.
"Masih lebih kaya suami kamu. Uang yang aku miliki tidak ada apa-apanya di banding dengan uang yang dimiliki suami kamu,"sahut Toyib.
"Kekayaan memang bisa menunjang seseorang untuk bahagia. Tapi tidak bisa menjamin hidup jadi bahagia. Karena jika kita tidak bisa bersyukur dengan apa yang kita miliki, kita tidak akan pernah merasa cukup dan tidak akan pernah merasa bahagia,"sahut Dimas.
"Benar kata kakak. Kebahagiaan itu tidak bisa di ukur dengan uang,"sahut Ayana.
"Iya juga. Cinta itu lebih berharga dari segalanya,"sahut Toyib menghela napas panjang.
"Nggak juga, bang. Cinta nggak bisa di bilang lebih berharga dari segalanya,"sambar Ayana.
"Kenapa?"tanya Toyib, sedangkan Dimas nampak mengernyitkan keningnya menatap Ayana yang ada di sebelahnya.
"Karena kalau cinta memang lebih berharga dari segalanya, seharusnya kita bisa membayar apapun yang kita beli dengan pelukan,"sahut Ayana tanpa dosa, membuat Toyib dan Dimas menghela napas, memasang wajah tidak berdaya.
"Nggak gitu juga konsepnya, Ay! Maksudnya, cinta itu nggak bisa di bandingkan dengan harta. Karena cinta tidak bisa di beli dengan harta,"sahut Dimas mencubit hidung Ayana gemas.
"Iya, aku tahu.Cinta dan harta itu dua hal yang berbeda. Tapi intinya, hidup tanpa cinta nggak bisa bahagia. Hidup tanpa harta juga tidak bisa bahagia. Jadi, keduanya harus seimbang agar kita bisa bahagia. Dan jangan lupa, bersyukur dengan apa yang kita punya. Karena jika kita tidak pandai bersyukur, seberapa banyak cinta dan harta yang kita punya pun, kita tidak akan pernah bisa merasa bahagia,"ujar Ayana dengan senyuman tipis di bibirnya.
"Betul!"ucap Toyib seraya menunjukkan kedua jari jempolnya.
"Istri kecilku semakin pintar dan dewasa aja,"ucap Dimas seraya mengacak-acak rambut Ayana karena merasa gemas.
"Kakak! Rambutku jadi kusut, nih!"protes Ayana seraya merapikan rambutnya yang baru saja diacak-acak Dimas.
"Adik Abang memang tambah pintar dan dewasa. Tapi tetap saja polos,"sahut Toyib kemudian terkekeh.
...π"Cinta dan harta ibarat tangan kanan dan tangan kiri. Tanpa salah satunya, kebahagiaan kita tidak akan sempurna."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
To be continued
__ADS_1