SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
74. Cincin


__ADS_3

"Dimanapun kita tinggal, tidak masalah bagiku. Asalkan kakak selalu bersama ku. Kakak tidak akan meninggalkan aku, 'kan?"tanya Ayana menatap Dimas sendu.


"Tentu saja aku akan meninggalkan kamu,"sahut Dimas tersenyum tipis.


"Kakak benar-benar ingin meninggalkan aku?"tanya Ayana dengan bibir bergetar dan mata yang sudah berkabut. Sesak rasanya dadanya mendengar jawaban Dimas itu.


"Lalu untuk apa besok kita membuat foto pernikahan jika kakak ingin meninggalkan aku?"tanya Ayana menatap Dimas dengan wajah yang terlihat sangat sedih, matanya mulai berkaca-kaca.


"Tentu saja buat kenang-kenangan, Ay. Buat apalagi?"sahut Dimas enteng.


"Ke.. kenapa kakak ingin meninggalkan aku? Apa yang kurang dari ku? Aku..aku akan berusaha menjadi seperti yang kakak mau. Aku pasti bisa. Katakan saja aku harus bagaimana, agar kakak tidak meninggalkan aku?"tanya Ayana yang jika mengedipkan matanya sekali saja, air matanya pasti akan jatuh.


"Apa aku harus membawa kamu jika aku ingin buang air? Tidak mungkin, 'kan? Aku juga akan meninggalkan kamu saat aku mau jualan,"ujar Dimas mengulum senyum menahan tawa.


"Kakak! Kakak mempermainkan aku! Nggak lucu, tahu! Aku sebel sama kakak! Sebel! Sebel! Sebel!"teriak Ayana seraya memukul-mukul dada Dimas yang berotot. Tentu saja pria itu tidak merasa kesakitan, bahkan malah tertawa karena telah berhasil menggoda Ayana.


Ayana merasa sangat kesal pada Dimas. Ayana pikir Dimas benar-benar akan meninggalkan dirinya. Tapi ternyata Dimas malah sengaja menggoda dirinya. Ayana membalikkan tubuhnya, berbaring membelakangi Dimas yang masih menertawakannya dengan wajah cemberut dan bibir mengerucut. Benar-benar sangat kesal pada Dimas.


"Dasar pengantin baru! Tapi, ngomong -ngomong, baru kali ini aku mendengar Dimas tertawa seperti itu. Ternyata punya istri yang jauh lebih muda tidak buruk juga buat Dimas,"gumam Toyib di kamarnya. Malah tersenyum mendengar keributan di kamar sebelah.


Dimas menghentikan tawanya, kemudian memeluk Ayana yang memunggunginya dari belakang.


"Aku hanya bercanda. Mana mungkin aku meninggalkan istriku yang menggemaskan ini? Kamu tidak perlu menjadi seperti yang aku mau. Jadilah dirimu sendiri. Aku suka dengan semua yang ada pada dirimu. Cerewet mu, manja mu, suara cempreng mu. Semuanya aku suka,"ucap Dimas.


Pria itu mengecup pipi Ayana beberapa kali. Tapi Ayana masih tetap cemberut. Masih merasa kesal pada Dimas.


"Jangan ngambek lagi, dong! Aku, 'kan cuma bercanda,"ujar Dimas seraya merapikan rambut Ayana dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya masih memeluk perut Ayana.


"Bercanda kakak nggak lucu,"sahut Ayana masih tetap dengan wajah cemberutnya.


"Iya..iya.. aku minta maaf!"sahut Dimas. Jangan ngambek lagi, dong! Apa bibirnya pengen di cium biar nggak monyong lagi? Hemm?"goda Dimas.


"Aku sebel sama kakak!"ketus Ayana.


"Masih sebel?"tanya Dimas tersenyum smirk.


"Kakak!"pekik Ayana.


Dimas yang merasa sangat gemas pada Ayana, tiba-tiba membalikkan tubuh Ayana dan mengungkungnya. Memegang kedua tangan Ayana untuk mengunci pergerakan Ayana. Dimas mencium bibir Ayana agresif. Ayana yang tadinya tidak mau membalas, akhirnya terlena juga dengan ciuman Dimas.

__ADS_1


Dimas menyelipkan jemari tangannya di sela-sela jemari Ayana. Menggenggam lembut jemari Ayana dengan bibir yang masih saling bertautan dengan bibir Ayana. Menikmati perpaduan bibir mereka yang seakan tidak ada puasnya untuk dinikmati. Membuat darah di tubuh mereka mengalir deras, mengantarkan gelenyar-gelenyar aneh yang membuat tubuh mereka semakin gelisah.


Dimas melepaskan pagutan bibir mereka saat Ayana sudah mulai kesulitan untuk bernapas. Menyatukan kening mereka seraya mengatur napas.


"Selama aku masih bernapas, aku berjanji tidak akan meninggalkanmu. Kamu bisa pegang janji ku,"ucap Dimas dengan wajah serius.


"Bagaimana aku bisa memegang janji kakak? Janjinya saja tidak kelihatan bagaimana wujudnya,"sahut Ayana enteng.


"Ay..!"ucap Dimas terlihat kesal.


"Hahahaha.. ampun, kak! Geli, kak!"ucap Ayana menggeliat geliat kegelian karena digelitik oleh Dimas.


Toyib yang berada di kamar sebelah pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar suara dari kamar sebelah.


***


Pagi harinya, Ayana beraktivitas seperti biasanya. Gadis itu merasa sangat bahagia karena Dimas berjanji akan mengajaknya membuat foto pernikahan mereka.


"Kakak sudah siap?"tanya Ayana saat melihat Dimas sudah siap. Sedangkan dirinya baru saja selesai beres-beres,"Tunggu aku, kak! Aku akan cepat-cepat,"ucap Ayana hendak bergegas bersiap-siap. Namun tiba-tiba Dimas memegang tangannya.


"Kamu santai saja siap-siap nya. Nggak usah buru-buru! Aku mau pergi dulu, ada perlu sebentar. Nanti balik lagi buat jemput kamu,"ucap Dimas dengan seulas senyum.


"Memangnya kalian mau kemana?"tanya Toyib yang mendengar percakapan Dimas dan Ayana.


"Mau bikin foto pernikahan, bang. Abang mau ikut?"tanya Ayana.


"Abang banyak tagihan, Ay. Mau nganterin pesanan konsumen juga. Kalian berdua saja. Bikin yang bagus, ya! Nanti kirimin Abang hasilnya,"pinta Toyib.


"Beres, bang,"sahut Ayana.


"Ya udah, aku jalan dulu,"sela Dimas kemudian mengambil helmnya.


Satu jam kemudian, Ayana sudah siap. Dimas pun sudah kembali untuk menjemput Ayana. Dimas melajukan motornya membonceng Ayana. Semenjak Dimas memiliki motor, mereka sering pergi berdua. Dulu Dimas suka belanja kebutuhan dapur sendirian. Tapi sekarang, Dimas selalu berbelanja bersama Ayana, agar Ayana bisa memilih bahan memasak ataupun bahan untuk membuat kue sesuka hatinya. Namun Dimas juga tetap menyuruh Ayana untuk memakai masker.


Setengah jam kemudian, Dimas dan Ayana sudah tiba di sebuah studio foto. Keduanya langsung memilih pakaian pengantin yang mereka inginkan. Dimas hanya menuruti apa kemauan Ayana. Hingga akhirnya mereka memakai baju pilihan Ayana, dan Ayana pun dirias.


Ayana sangat cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna putih tulang. Demikian pula Dimas yang tampan dengan tuksedo berwarna senada dengan gaun Ayana. Dimas begitu kagum melihat kecantikan gadis yang sudah tiga bulan ini dinikahinya.


"Kamu sangat cantik,"ucap Dimas memegang tangan Ayana dengan senyuman di bibirnya.

__ADS_1


"Kakak juga tampan,"sahut Ayana dengan senyuman manisnya.


Keduanya berjalan menuju tempat pemotretan. Seorang fotografer sudah siap untuk membidik gambar sepasang suami-isteri itu.


Tiba-tiba Dimas menekuk satu lututnya di depan Ayana dan membuka sebuah kotak beludru yang berisi sepasang cincin, membuat Ayana terkejut. Sang fotografer pun mengabadikan momen itu dengan jepretannya.


"Saat kita menikah, aku belum membeli cincin pernikahan untuk kita. Walaupun terlambat, sekarang aku ingin memberikannya untuk mu,"ucap Dimas kemudian menyematkan cincin berlian di jari manis Ayana.


Cincin yang sudah di pesan Dimas satu bulan yang lalu. Ayana sangat terharu mendapatkan perlakuan seperti itu dari Dimas. Tidak menyangka jika Dimas akan memberikan cincin pernikahan untuk dirinya. Gadis itu pun memasangkan cincin pernikahan di jari manis Dimas.


Dimas kembali berdiri kemudian dengan perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Ayana, lalu mencium bibir Ayana dengan mesra. Pose berciuman itupun tidak luput dari jepretan sang fotografer.


Setelah mendapatkan foto dengan berbagai pose, akhirnya sesi pemotretan itupun selesai dan sepanjang suami istri itu pun keluar dari studio foto itu. Karena hari sudah siang, Dimas mengajak Ayana untuk makan siang di sebuah rumah makan lesehan.


"Kapan kakak membeli cincin ini?"tanya Ayana setelah mereka memesan makanan. Senyuman terus menghiasi bibir gadis itu, menatap cincin yang diberikan oleh Dimas. Cincin bertahtakan berlian putih.


"Sudah satu bulan yang lalu aku memesannya, tapi baru jadi kemarin, dan baru aku ambil tadi pagi. Apa kamu menyukainya?"tanya Dimas.


"Sangat suka. Terimakasih!"ucap Ayana dengan wajah yang terlihat sangat bahagia.


Jika Dimas tidak nekat menyelamatkan satu keluarga pengusaha yang mengalami kecelakaan lalu lintas waktu itu, Dimas tidak yakin bisa membahagiakan Ayana dengan mengandalkan pekerjaannya sebagai sales pakaian keliling.


Keluarga pengusaha itu sangat berterima kasih pada Dimas atas pertolongan Dimas waktu itu. Bagi mereka, uang seratus milyar bukanlah apa-apa dibanding empat orang dalam mobil itu tewas terpanggang di dalam mobil. Tidak bisa dibayangkan, bagaimana rasanya tewas terpanggang dalam keadaan sadar. Pasti akan sangat tersiksa bukan? Belum lagi, Dimas juga mendonorkan darahnya untuk putri pengusaha kaya itu.


Berapa pun banyak harta yang kita miliki tidak akan berguna lagi bagi kita jika kita mati. Karena itu, pengusaha kaya itu tidak segan memberikan uang sebanyak itu pada Dima, karena Dimas telah menyelamatkan nyawanya dan keluarganya.


Waktu itu, Dimas sudah menolak pemberian orang yang ditolongnya itu. Tapi orang itu terus memohon agar Dimas menerimanya. Menyodorkan amplop tipis pada Dimas. Akhirnya Dimas menerimanya. Setelah tiba di rumah, Dimas membuka amplop itu dan terkejut saat melihat isi amplop itu ternyata adalah cek senilai seratus milyar.


...🌟"Jangan berubah karena ingin dicintai, tapi berubah lah agar kamu layak dicintai,"🌟...


..."Nana 17 Oktober "...


...🌸❀️🌸...


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2