SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
99. Gagal Lagi


__ADS_3

Setelah makan malam, Dimas dan Ayana pergi ke rumah sakit dengan mengendarai motor. Sebenarnya Ayana malas untuk pergi ke rumah sakit, Tapi Dimas harus melaporkan pekerjaannya hari ini kepada Geno dan mendiskusikan tentang beberapa hal. Mau tak mau, Ayana harus mengikuti Dimas, karena tidak ingin suaminya di dekati dan di goda oleh mantan pacar sang suami.


Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya sepasang suami-isteri itu pun tiba di rumah sakit tempat Geno dan Nando di rawat. Mereka langsung menuju ruangan tempat Geno dan Nando di rawat.


"Ah, kalian sudah datang?"sapa Geno dengan wajah yang terlihat cerah, begitu pun dengan Hilda, saat melihat kedatangan sepasang suami-isteri itu.


Semenjak Dimas membantunya mengurus administrasi suami dan putranya, bahkan mendonorkan darahnya, pandangan Hilda pada Dimas jadi berubah. Apalagi setelah mendengar pujian dari orang kepercayaannya Geno untuk Dimas tadi, penilaian Hilda pada Dimas semakin baik. Sedangkan Nando? Tentu saja dari rasa tidak suka mulai berkembang menjadi rasa iri. Merasa dirinya tersisihkan karena kehadiran Dimas.


"Kalian sudah makan?"tanya Hilda lembut.


"Sudah, ma. Tadi Ayana masak rendang dan telur balado,"sahut Dimas tersenyum manis seraya mengelus kepala Ayana. Pria itu tampak membanggakan istrinya.


"Wahh.. rendang? Enak itu. Sudah lama papa tidak makan rendang,"sahut Geno antusias.


"Papa belum makan makanan berat seperti itu. Papa harus makan sesuai arahan dokter gizi, agar papa cepat sembuh,"sahut Hilda mengingatkan.


"Hais.. papa ingin segera sembuh agar papa bisa makan apa saja yang papa suka,"ujar Geno yang merasa bosan dengan masakan yang disediakan oleh pihak rumah sakit.


Ayana hanya diam tanpa mengatakan apapun. Ayana masih sakit hati dengan kejadian semalam. Gadis itu memilih membaca buku pelajaran yang dibawanya, dari pada berinteraksi dengan keluarganya. Sedangkan Dimas langsung mendiskusikan beberapa hal dengan papa mertuanya. Nando hanya bisa merasa dongkol pada Dimas yang ternyata lebih pintar dari dirinya.


Tak lama kemudian, orang yang membuat Ayana enggan datang ke rumah sakit itupun datang. Siapa lagi kalau bukan Bening? Ibu hamil itu nampak mengernyitkan keningnya saat melihat dan mendengar Dimas membahas masalah bisnis dengan papa mertuanya. Wanita itu menghampiri suaminya yang terlihat suram.


"𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙝𝙖𝙨 𝙨𝙤𝙖𝙡 𝙗𝙞𝙨𝙣𝙞𝙨 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙥𝙖𝙥𝙖? 𝘼𝙥𝙖 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙗𝙚𝙠𝙚𝙧𝙟𝙖 𝙙𝙞 𝙥𝙚𝙧𝙪𝙨𝙖𝙝𝙖𝙖𝙣 𝙥𝙖𝙥𝙖? 𝙅𝙞𝙠𝙖 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙠𝙚𝙧𝙟𝙖 𝙙𝙞 𝙥𝙚𝙧𝙪𝙨𝙖𝙝𝙖𝙖𝙣 𝙥𝙖𝙥𝙖, 𝙖𝙠𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙡𝙞𝙠𝙞 𝙗𝙖𝙣𝙮𝙖𝙠 𝙠𝙚𝙨𝙚𝙢𝙥𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙪 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙚𝙠𝙖𝙩𝙞 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙪𝙖𝙣 𝙨𝙞𝙖𝙥𝙖𝙥𝙪𝙣,"gumam Bening dalam hati.


"Sayang, aku kupas apel buat kamu, ya?"tanya Bening pada Nando.

__ADS_1


"Iya,"sahut Nando yang kekesalan nya agak berkurang karena kedatangan Bening.


Bening mengupas apel seraya mempertajam pendengaran nya. Ingin mengetahui apa saja yang dibicarakan Dimas dan Geno.


"Papa serahkan semuanya pada kamu. Bagaimana baiknya menurut kamu,"ujar Geno setelah selesai berdiskusi dengan Dimas.


"Terimakasih atas kepercayaan papa. Aku akan berusaha sebaik mungkin,"sahut Dimas.


" 𝙅𝙖𝙙𝙞, 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙠𝙚𝙧𝙟𝙖 𝙙𝙞 𝙥𝙚𝙧𝙪𝙨𝙖𝙝𝙖𝙖𝙣 𝙥𝙖𝙥𝙖. 𝙆𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙞𝙩𝙪𝙠𝙖𝙝, 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙢𝙖𝙢𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙝𝙖𝙨 𝙗𝙖𝙟𝙪 𝙠𝙖𝙣𝙩𝙤𝙧 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨? 𝙆𝙖𝙡𝙞 𝙞𝙣𝙞 𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙚𝙨𝙚𝙢𝙥𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙚𝙢𝙖𝙨. 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙝𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜𝙞 𝙖𝙠𝙪 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙪 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙚𝙠𝙖𝙩𝙞 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨,"gumam Bening dalam hati. Wanita itu merasa sangat senang saat mengetahui jika Dimas bekerja di perusahaan Geno.


"Sayang, besok aku mulai bekerja di kantor lagi, ya?"ujar Bening meminta persetujuan dari suaminya.


"𝘿𝙖𝙨𝙖𝙧 𝙥𝙚𝙧𝙚𝙢𝙥𝙪𝙖𝙣 𝙜𝙖𝙩𝙖𝙡! 𝘿𝙞𝙖 𝙥𝙖𝙨𝙩𝙞 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙜𝙤𝙙𝙖 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞𝙠𝙪 𝙙𝙞 𝙠𝙖𝙣𝙩𝙤𝙧. 𝙏𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙞𝙖𝙧𝙠𝙖𝙣,"gerutu Ayana dalam hati mulai tersulut emosi lagi.


"Suami masih sakit dan perlu ditemani malah ingin di tinggal kerja. Seharusnya lebih fokus untuk merawat dan menjaga suami dari pada bekerja. Toh juga tidak akan kekurangan apapun jika berhenti bekerja,"celetuk Ayana mengundang perhatian semua orang.


"Iya, benar. Sebaiknya Bening menjaga Nando dan papa saja. Apalagi saat ini, Bening, 'kan, sedang hamil muda. Harus banyak istirahat. Jika di sini, Bening bisa beristirahat lebih banyak, dari pada di kantor,"sahut Geno yang setuju dengan Hilda.


"Iya, sayang. Sebaiknya kamu di sini saja. Menjaga aku dan papa. Aku kesepian jika tidak ada kamu,"imbuh Nando yang sependapat dengan Hilda dan Geno.


"Baiklah. Jika itu yang terbaik menurut kalian semua. Aku tidak akan bekerja dan akan tetap menjaga kalian di sini,"ujar Bening berkata-kata lembut, membuat citra istri dan menantu yang baik dan penurut.


Wanita itu menundukkan kepalanya menyembunyikan emosinya yang rasanya sudah mau meledak. Kedua tangan wanita hamil itu bahkan sudah mengepal erat.


"𝘿𝙖𝙨𝙖𝙧 𝘼𝙮𝙖𝙣𝙖 𝙨𝙞𝙖𝙡𝙖𝙣! 𝘿𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙜𝙖𝙜𝙖𝙡𝙠𝙖𝙣 𝙧𝙚𝙣𝙘𝙖𝙣𝙖 𝙠𝙪 𝙡𝙖𝙜𝙞,"umpat Bening yang rencananya gagal total karena kata-kata dari Ayana tadi.

__ADS_1


"𝙃𝙖𝙝𝙖𝙝𝙖𝙝𝙖... 𝙧𝙖𝙨𝙖𝙞𝙣! 𝘼𝙠𝙝𝙞𝙧𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙡𝙖𝙨 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙟𝙪𝙜𝙖. 𝘿𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙡 𝙩𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡 𝙙𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙡 𝙞𝙩𝙪 𝙝𝙖𝙩𝙞. 𝘿𝙖𝙨𝙖𝙧 𝙢𝙪𝙣𝙖𝙛𝙞𝙠!"gumam Ayana dalam hati, yang kali ini merasa menang telak dari Bening.


"Kak, karena sudah ada mama dan kakak ipar di sini, kita pulang, yuk! Sebentar lagi aku udah mau ujian Nasional, nih. Kakak ajarin aku belajar di rumah.Lagian, kalau di sini, aku takut tidurku terganggu dan tidak nyenyak. Aku takut bakal ada drama ngidam lagi. Bikinnya bukan sama kakak, kenapa kakak yang harus repot-repot ngeladenin ngidamnya. Aku tidak akan meminjamkan kakak pada siapapun. Kakak terlalu tampan, aku takut ada yang khilaf karena melihat ketampanan kakak,"ujar Ayana yang menohok di hati Bening. Istilah lainnya, menampar menggunakan kata-kata. Tidak terlihat, tapi sakit terasa.


Geno menghela napas panjang mendengar perkataan Ayana yang terdengar sarkas itu. Mengingat bagaimana terjadi perdebatan di ruangan itu semalam karena Bening ngidam soto. Sedangkan Nando yang tidak mengetahui kejadian semalam pun mengernyitkan keningnya tidak mengerti dengan maksud perkataan Ayana. Sedangkan Hilda juga hanya bisa menghela napas berkali-kali.


"Pa, ma, kami pulang dulu,"pamit Dimas yang mulai merasakan aura kebencian pada istri kecilnya yang mulai menguar. Jika tetap tinggal di tempat itu, mungkin akan pecah perang dunia ke-tiga di ruangan itu.


"Baiklah. Hati-hati di jalan!"ucap Hilda.


"Hati-hati!"ucap Geno.


Dimas merangkul pinggang Ayana, kemudian membawa Ayana keluar dari tempat itu. Sedangkan Bening merasa sangat dongkol pada Ayana.


"𝘼𝙣𝙖𝙠 𝙨𝙞𝙖𝙡𝙖𝙣! 𝙎𝙚𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙗𝙞𝙠𝙞𝙣 𝙨𝙚𝙗𝙚𝙡 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙜𝙖𝙜𝙖𝙡𝙠𝙖𝙣 𝙧𝙚𝙣𝙘𝙖𝙣𝙖 𝙠𝙪. 𝘼𝙥𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙖𝙣𝙩𝙚𝙩 𝙤𝙣𝙡𝙞𝙣𝙚 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙖𝙣𝙖𝙠 𝙞𝙩𝙪? 𝘽𝙞𝙖𝙧 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨-𝙢𝙚𝙣𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙝𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙪,"geram Bening dalam hati.


"Kenapa Ayana bicara seperti itu?"


...🌟"Terkadang lebih baik mengungkapkan, dari pada menyimpan perasaan yang akhirnya menjadi beban dan kepikiran."🌟...


..."Nana 17 Oktober"itu...


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2