SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
202. Kamu Cemburu?


__ADS_3

...🌸Bagi yang belum cukup umur harap menepi. Ada yang mau lewat.🌸...


"Kamu sendiri yang datang kemari untuk menyerahkan diri. Kenapa aku harus melepas kamu?"tanya Diky yang bahkan hembusan napasnya terasa di wajah Wulan.


"A.. Abang..."


Wulan memejamkan matanya saat wajah Diky semakin dekat hingga Wulan merasakan ada benda kenyal yang menempel di bibirnya.


Perlahan Diky memagut bibir Wulan. Bibir yang sudah lama tidak dinikmati nya dan benar-benar menggoda di matanya. Memagut, menyesap dan menggigit kecil bibir itu hingga bibir Wulan terbuka.


Secara naluriah, Wulan yang memang mencintai Diky pun membalas ciuman Diky. Seolah lupa dengan pertengkaran hebat mereka tadi. Sepasang kekasih yang sesungguhnya saling merindukan. Melepaskan rindu yang sudah satu bulan ini terpendam. Ciuman yang awalnya lembut menjadi agresif. Saling menyesap, memagut dan berbelit lidah.


Darah mereka terasa mengalir semakin deras, tubuh keduanya semakin memanas dan debaran jantung mereka pun tidak teratur.


Diky melepaskan pagutannya saat Wulan mulai kesulitan bernapas. Namun pemuda itu beralih mencium leher Wulan. Tanpa sadar Wulan yang baru pertama kali merasakan lehernya di cium pun mendesaah. Dan tentu saja, sebagai pria normal, desahaan Wulan itu semakin memancing gairaah Diky.


Diky mencium dan menyesap leher putih mulus Wulan memberikan beberapa tanda di sana. Sedangkan jemari tangan Diky bergerak melepaskan kancing kemeja yang dipakai Wulan. Gadis itu tidak menyadari jika Diky telah melepaskan semua kancing kemejanya. Karena terkena oleh cumbuuan Diky di lehernya. Merasakan nikmat dan geli secara bersamaan.


"Abang!"ucap Wulan yang terkejut saat Diky berhenti mencumbuui lehernya dan tiba-tiba membuka kemeja yang di pakainya. Hingga kain penutup dadanya yang berwarna hitam itu terlihat. Wulan berusaha menutup kembali kemejanya, namun Diky langsung mencekal kedua tangan Wulan dan kembali mencium Wulan.


Saat Wulan kembali terbuai dengan ciumannya, Diky melepaskan tangan Wulan. Dengan perlahan tangan Diky menyusup di bawah punggung Wulan. Pemuda itu sedikit mengangkat punggung Wulan, kemudian melepaskan pengait penutup dada milik Wulan. Sedangkan Wulan mencengkram lengan Diky menikmati setiap tautan bibir dan lidah mereka.


Diky melepaskan pagutannya kemudian kembali mencium area leher Wulan yang membuat Wulan kembali mendesaah. Bibir Diky terus bergerak ke bawah dan tiba-tiba Diky menarik kain penutup dada Wulan ke bawah.


"Abang!"Wulan membulatkan matanya saat tiba-tiba Diky menarik kain penutup dadanya ke bawah hingga dua benda kenyal miliknya terekspos sempurna.


Diky menelan salivanya kasar saat melihat dua benda putih mulus bulat yang ukurannya cukup besar itu.


Wulan berusaha menutup tubuhnya, tapi Diky kembali mencekal kedua tangan Wulan. Dan langsung menyerang salah satu dari benda kembar di depannya.


"Abang, jangan....ahh.. "Wulan tidak bisa melanjutkan kata-katanya dan malah mendesaah saat Diky menguluum lembut salah satu puncak bukit kembar miliknya.

__ADS_1


Diky melepaskan tangan Wulan dan tangannya beralih menggoda kedua bukit kembar milik Wulan. Diky menjilat, menyesap, dan menyusu pada Wulan seperti bayi yang kehausan. Sedangkan tangannya meremass-remass kedua benda bulat kenyal itu dengan lembut. Membuat Wulan mendesaah dan bergerak gelisah di bawah kungkungan Diky. Wulan menjambak rambut Diky untuk melampiaskan rasa geli, nikmat, dan gelisah yang terasa secara bersamaan.


"A.. Abang.."ucap Wulan dengan mata yang sudah terlihat sayu karena gairaahnya yang sudah naik. Berusaha menyadarkan dirinya saat Diky mendudukkan tubuhnya. Wulan memegang tangan Diky saat Diky ingin melepaskan kemejanya yang kancingnya sudah terbuka sempurna.


"Aku menginginkanmu. Kamu juga menginginkan aku, 'kan?"tanya Diky dengan suara berat dan mata yang sudah berkabut hassrat,"Aku berjanji akan secepatnya menikah kamu,"ucap Diky kemudian kembali mencium bibir Wulan.


Saat Wulan kembali terbuai dengan ciumannya, Diky melepaskan kemeja dan kain penutup dada Wulan, hingga mereka sama-sama bertelanjang dada. Diky bahkan membuka pengait dan resleting rok yang di pakai Wulan. Diky mengangkat tubuh Wulan ingin membawa Wulan ke dalam kamarnya.


"Bang, ini..ini tidak benar,"ucap Wulan yang akal sehatnya kembali.


"Aku sudah tidak bisa menahannya lagi, Lan. Aku janji akan segera menikahi kamu,"ucap Diky melangkah cepat menuju kamarnya.


"Ta.. tapi bang..."


"Aku tidak akan mengingkari janji ku,,"potong Diky cepat. Merebahkan tubuh Wulan di atas ranjangnya dan langsung mengungkung tubuh Wulan. Diky kembali' menyerang Wulan dengan agresif.


Helai demi helai kain yang menempel di tubuh mereka akhirnya teronggok di lantai begitu saja. Wulan terbuai dengan semua sentuhan yang di berikan Diky. Walaupun pikirannya menyadari bahwa yang mereka lakukan adalah salah, tapi tubuhnya berkhianat. Semua sentuhan Diky di tubuhnya membuatnya merasakan sensasi nikmat yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya.


"Akhh.. sakit bang!"pekik Wulan saat Diky berusaha menerobos memasuki inti tubuhnya.


"Akkh.."


Wulan kembali memekik saat Diky berhasil menyatukan tubuh mereka sepenuhnya. Air mata Wulan menetes karena kesakitan saat Diky menerobos masuk sepenuhnya ke dalam inti tubuhnya. Wulan menjambak rambut Diky, bahkan mencakar punggung Diky untuk melampiaskan rasa sakitnya. Namun Diky terus bergerak di atas tubuh Wulan. Pada akhirnya rasa sakit itu berangsur hilang dan berganti rasa nikmat.


Sore itu, akhirnya Diky mengambil sesuatu yang paling berharga yang sekian lama di jaga Wulan. Sesuatu yang tidak seharusnya di ambil Diky sebelum mereka sah menjadi pasangan suami istri.


Diky mendekap tubuh Wulan yang sama polosnya dengan tubuhnya. Menutupi tubuh mereka dengan selembar selimut yang sama.


"Abang.. Abang benar-benar akan menikahi aku, 'kan?"tanya Wulan dalam dekapan Diky. Wulan sebenarnya merasa takut jika Diky meninggalkan dirinya setelah mengambil kesucian nya.


Diky merenggangkan pelukannya, kemudian memegang pipi Wulan dan mengangkat wajah Wulan agar menatapnya,"Kamu tidak percaya padaku?"tanya Diky menatap Wulan lekat.

__ADS_1


"Abang.. Abang tidak melakukannya dengan gadis tadi, 'kan?"tanya Wulan ingin memastikan.


"Kenapa? Kamu cemburu?"tanya Diky memicingkan sebelah matanya.


"Abang benar-benar melakukannya dengan gadis itu?"tanya Wulan dengan mata yang berkaca-kaca.


"Hei, jangan menangis lagi! Matamu sudah sembab karena menangis. Dia hanya teman ku. Dia lama di dalam apartemenku karena dia sakit perut kebanyakan makan cabe,"jelas Diky yang kali ini tidak ingin Wulan salah paham.


"Tapi.. Abang membiarkan dia memeluk Abang,"sahut Wulan dengan wajah cemberut mengingat Diky di peluk gadis lain saat mengendarai motor tadi.


"Sepertinya, kamu lebih lancar mengungkapkan isi hati mu setelah aku meniduri mu,"bisik Diky kemudian menggigit kecil leher Wulan. Hembusan napas pemuda itu terasa hangat di leher Wulan, membuat tubuh Wulan terasa semakin meremang karena ulah Diky itu..


"Abang!"pekik Wulan saat Diky tiba-tiba kembali mengungkung tubuhnya.


"Aku ingin lagi,"ucap Diky langsung mencium bibir Wulan.


*


Wulan terlelap karena kelelahan melayani Diky di atas ranjang. Baru pertama kali merasakan surga dunia, membuat Diky ingin lagi dan lagi. Sedangkan Wulan, walaupun awalnya menolak, tetap saja tidak tidak bisa mengendalikan tubuhnya saat Diky mulai membuainya.


Diky meninggalkan Wulan di atas ranjang untuk membersihkan diri. Diky tersenyum tipis saat keluar dari dalam kamar mandi dan melihat Wulan masih terlelap di atas ranjang.


"Pantesan, Dimas jadi awet muda. Ternyata, bercinta itu sangat menyenangkan,"gumam Diky kemudian mengambil handphonenya. Pria itu memesan makanan dan juga pakaian untuk Wulan.


Diky memunguti pakaiannya dan pakaian Wulan yang berserakan di lantai kamar. Kemudian menuju ruang tamu, dimana ada pakaian mereka juga yang berserakan di sana. Diky menelan salivanya kasar saat memungut kain penutup dada milik Wulan. Diky jadi teringat dengan dua bukit kembar milik Wulan.


Atensi Diky teralihkan saat melihat handphone Wulan yang ternyata terjatuh di lantai menyala. Sepertinya ada panggilan masuk, tapi handphone Wulan di silent. Sehingga tidak terdengar suara apapun selain layarnya yang menyala. Diky mengambil handphone Wulan dan melihat siapa yang menghubungi Wulan.


"Ibu? Mampus!"


...🌸❤️🌸...

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2