
Dimas melihat Ayana keluar rumah dan nampak diikuti Delvin, Dimas jadi penasaran dan memutuskan mengikuti Delvin. Dimas melihat Delvin bersembunyi menatap Ayana yang masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian, Delvin nampak keluar mengendarai mobilnya. Dimas pun meminta seorang supir untuk mengantarnya menyusul Ayana.
Setelah beberapa menit perjalanan, Delvin berbelok ke arah yang lain dan Dimas pun merasa lega. Entah mengapa Dimas jadi merasa tidak suka melihat Delvin yang terlihat menyukai Ayana.
Sesampainya di rumah sakit, Dimas tertegun melihat Ayana dengan wajah sendunya menatap semua orang yang ada di sekitarnya. Di sekitar Ayana, semua ibu hamil yang ingin memeriksakan kandungannya di temani oleh suami mereka. Bahkan ada yang kandungannya belum terlalu besar juga ditemani oleh suaminya. Sedangkan Ayana yang perutnya sudah besar hanya duduk sendirian tanpa ada yang menemani.
"Suami macam apa aku ini? Walaupun aku tidak bisa mengingat dia, tapi semua bukti sudah menunjukkan bahwa dia adalah istriku. Bahkan semenjak aku sadar, dia lah orang pertama yang aku lihat. Orang yang selalu ada untuk ku, menjaga dan merawat aku hingga aku sehat. Benar kata mama, seharusnya aku belajar menerimanya,"gumam Dimas dalam hati merasa bersalah.
Dimas berjalan menghampiri Ayana yang duduk dengan wajah sendu. Bahkan wanita yang sedang mengandung itu tidak menyadari jika Dimas melangkah mendekati dirinya.
"Nyonya Ayana!"panggil perawat yang keluar dari ruangan dokter kandungan itu.
"Iya,"sahut Ayana.
"Aku temani,"ucap Dimas yang sudah berada di samping Ayana. Dimas melihat Ayana yang nampak terkejut mendengar suaranya.
"Deg"
Jantung Ayana serasa berhenti berdetak mendengar suara bariton yang sangat di kenalnya itu. Mata Ayana berkaca-kaca saat menoleh dan melihat Dimas yang berada di sampingnya.
"Ayo, masuk!"ucap Dimas menggenggam tangan Ayana dan menuntunnya masuk ke ruangan pemeriksaan.
Ayana mengusap air matanya yang tanpa terasa menetes karena merasa terharu sekaligus bahagia saat Dimas tiba-tiba muncul. Mengatakan akan menemaninya dan menggenggam jemari tangannya dengan hangat. Sudah enam bulan lamanya Ayana tidak merasakan genggaman hangat jemari tangan suaminya. Sudah enam bulan Ayana menunggu pria ini sadar dari komanya. Berharap masa-masa indah dan manis diantara mereka dulu kembali terulang.
"Anda ini, siapanya nyonya Ayana?"tanya dokter yang selama ini menjadi dokter kandungan Ayana. Tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama seperti dulu. Memarahi orang yang salah,"Tampan sekali,"gumam dokter itu dalam hati saat menatap Dimas.
"Saya suaminya, dok,"sahut Dimas.
"Saya sudah mendengar cerita tentang anda. Syukurlah, anda sudah sehat kembali. Saya harap, kedepannya anda bisa menjaga nyonya Ayana dengan baik. Selama enam bulan ini, nyonya Ayana begitu tegar dan sudah berusaha menjaga kandungannya dengan baik. Anda harus bangga memiliki istri setangguh nyonya Ayana. Dalam keadaan anda koma selama enam bulan, nyonya Ayana masih optimis jika anda akan kembali sadar,"ujar dokter itu yang sudah mendengar banyak hal tentang Dimas.
__ADS_1
Semenjak Tuan Buston sibuk mendatangkan dokter dari luar negeri dan dari beberapa negara untuk menyembuhkan putranya yang mengalami koma, semua tenaga medis di rumah sakit itu jadi tahu tentang Ayana. Karena kebetulan Ayana sedang mengandung dan selalu memeriksakan kandungannya di rumah sakit itu juga. Belum lagi terkadang Ayana diantar Liliana saat memeriksakan kandungannya. Tapi, tidak terlalu banyak yang tahu wajah Dimas, karena hanya orang tertentu saja yang bisa mengunjungi dan masuk ke ruangan Dimas.
Tuan Buston memiliki saham lebih dari separuh di rumah sakit itu. Apalagi semua orang juga tahu kalau Tuan Buston adalah pengusaha terkaya di negeri ini. Jadi semua tenaga medis di rumah sakit itu tahu siapa Dimas dan Ayana. Walaupun hanya beberapa orang tenaga medis yang pernah melihat Dimas.
Desas-desus tentang ketampanan putra sulung Tuan Buston itu juga menyebar di kalangan tenaga medis. Hingga banyak yang penasaran dengan wajah Dimas.
Dimas merasa terharu saat menatap layar monitor yang terlihat gambar janin dalam kandungan Ayana. Tiba-tiba Dimas merasa ada rasa bahagia yang menyeruak dalam hatinya saat melihat janin dalam kandungan Ayana itu dari layar monitor.
"Jagoannya sehat. Perkembangannya normal. Tidak ada masalah. Semuanya baik-baik saja,"ucap dokter itu dengan seulas senyum.
"Dia.. laki-laki?"tanya Dimas yang mendengar dokter mengatakan jagoannya.
"Iya,"sahut dokter itu walaupun merasa aneh karena Dimas baru tahu jika bayinya laki-laki. Namun tidak berani bertanya lebih lanjut kenapa Ayana tidak memberi tahu soal ini pada Dimas. Tanpa tahu jika Dimas masih merasa canggung pada istri dan semua keluarganya. Hingga Dimas belum banyak berkomunikasi dengan mereka semua.
"Saat melakukan hubungan suami-istri, tolong jangan kasar dan tidak boleh terlalu sering. Jangan sampai nyonya Ayana kelelahan. Pada awal kehamilan kemarin, kalian melakukannya terlalu sering, hingga nyonya Ayana kelelahan dan harus dirawat. Tepat saat anda mengalami kecelakaan lalu koma,"ujar dokter itu menatap Dimas.
"Iya, dok,"sahut Dimas terlihat canggung seraya melirik Ayana sekilas. Sedangkan Ayana juga terlihat salah tingkah saat dokter membahas tentang kejadian enam bulan yang lalu.
"Memalukan sekali! Kenapa juga dokter ini masih saja ingat dengan kejadian waktu itu,"gumam Ayana dalam hati.
"Apa aku begitu maniak, hingga membuat istri ku kelelahan melayani aku hingga harus dirawat di rumah sakit? Tapi, dia memang sangat cantik dan imut,"gumam Dimas dalam hati kembali melirik Ayana.
Dimas pulang bersama Ayana dengan mobil yang sama. Sedangkan mobil satunya hanya ada pak supir di dalamnya.
Sesekali Dimas melirik Ayana yang sedang membalas chat dari mamanya yang menanyakan tentang hasil pemeriksaan kandungannya. Ayana mengatakan pada mamanya bahwa kandungan nya sehat dan suaminya menemaninya saat memeriksakan kandungannya hari ini. Dan hal itu membuat Hilda juga merasa senang.
"Dia wanita yang cantik. Tapi.. kenapa aku menikahi wanita semuda dia?"gumam Dimas dalam hati menatap wajah cantik istrinya itu.
Beberapa menit kemudian, mobil yang mereka tumpangi pun sampai di kediaman keluarga Buston. Dimas membantu Ayana yang sedikit kesusahan keluar dari mobil karena perutnya yang besar. Dan hal kecil itu sukses membuat Ayana menjadi senang.
__ADS_1
Setelah tiba di kamar, Ayana merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Perjalanan pulang pergi ke rumah sakit dan duduk lumayan lama menunggu antrian membuat tubuh Ayana terasa lelah.
"Apa lelah sekali?"tanya Dimas seraya mendekati Ayana, lalu duduk di tepi ranjang sebelah Ayana berbaring.
"Lumayan,"sahut Ayana tersenyum tipis seraya mengusap perutnya.
"Boleh aku menyentuhnya?"tanya Dimas menatap perut Ayana, kemudian menatap Ayana.
"Hum,"sahut Ayana tersenyum lembut.
Dimas meletakkan tangannya yang besar di atas perut Ayana. Namun Ayana memegang tangan Dimas lalu mengarahkan tangan Dimas dimana Ayana sering merasakan pergerakan janin dalam kandungannya.
"Biasanya dia sering bergerak di sini,"ucap Ayana menatap Dimas penuh rasa rindu.
Walaupun selama Dimas koma, Ayana tetap berada di sisi Dimas. Tapi Ayana tidak pernah bisa berinteraksi dengan Dimas seperti saat ini dan seperti sebelum Dimas mengalami kecelakaan.
"Dia benar-benar bergerak,"ucap Dimas dengan senyuman di wajahnya. Pria itu terlihat takjub saat merasakan pergerakan janin dalam kandungan Ayana,"Apa tidak sakit?"tanya Dimas yang tiba-tiba terlihat khawatir.
"Tidak. Tapi, akan sedikit sakit jika dia sedang menendang,"sahut Ayana tersenyum tipis.
Ayana berusaha bangkit dari tempatnya berbaring. Dimas yang melihatnya pun segera membantu Ayana untuk duduk.
"Bisakah? Bisakah kakak memelukku?"tanya Ayana ragu.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1