SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
15. Pulang


__ADS_3

Pak Parman keluar dari halaman sekolah Wulan dan Ayana. Wajah pria paruh baya itu terlihat senang setelah mengambil raport milik Wulan dan Ayana. Saat melewati sebuah warung bakso, pria paruh baya itu pun mampir membeli bakso dan es degan yang berada di sebelah warung bakso. Dengan hati senang, Pak Parman kembali mengendarai motor tuanya pulang. Setelah beberapa menit, akhirnya pria paruh baya itu pun tiba di rumah nya yang sederhana.


"Assalamu'alaikum! Bapak pulang!"ucap Pak Parman seperti biasanya dengan gaya hebohnya.


Tak lama kemudian, tiga orang perempuan pun keluar dari dalam tempat mereka masing-masing. Dan seperti biasa, ketiganya akan mencium punggung tangan Pak Parman secara bergantian.


"Gimana, Pak? Apa nilai mereka bagus? Apa mereka naik kelas?"tanya Bu Lastri nampak sangat penasaran, dan tidak sabaran. Begitu pula dengan Wulan dan Ayana.


"Bagus, dong! Walaupun nggak ranking satu, tapi mereka masuk lima besar Bu,"sahut Pak Parman nampak bangga.


"Oh, ya? Benarkah? Berarti naik kelas, 'kan, Pak?"tanya Bu Lastri tersenyum lebar.


"Ya iyalah, Bu. Naik kelas. Masa masuk ranking lima besar nggak naik kelas? Nggak tahu kalau ngitung ranking nya dari belakang,"sahut Pak Parman kemudian terkekeh.


"Hais, bapak ini malah bercanda,"tukas Bu Lastri menghela napas panjang.


"Aku ranking berapa, Pak?"tanya Wulan penasaran, demikian pula dengan Ayana dan juga Bu Lastri.


"Cepat bilang, ranking berapa, Pak?"titah Bu Lastri.


"Anak gadis kita sama-sama ranking tiga, Bu,"sahut Pak Parman memberikan raport kepada Wulan dan Ayana.


"Benarkah? Wahh.. anak-anak kita memang pintar, ya, Pak!"puji Bu Lastri dengan senyuman lebar.


"Ranking kita sama?"tanya Ayana dan Wulan bersamaan, kemudian saling berpelukan terlihat senang.


"Karena kalian sudah belajar keras dan mendapat ranking tiga, bapak membelikan kalian bakso dan es degan spesial untuk merayakan nya,"ucap Pak Parman menunjukkan dua kantong plastik yang berisi bakso dan es degan.


"Terimakasih, bapak!"ucap Wulan dan Ayana bersamaan kemudian mengambil kantong plastik yang di bawa Pak Parman.

__ADS_1


"Ibu di belikan tidak pak?"tanya Bu Lastri.


"Tentu saja. Bapak beli empat bungkus. Biar kita bisa makan bersama. Ayo, kita makan!"ucap Pak Parman seraya berjalan ke ruang makan.


Bu Lastri, Ayana dan Wulan bergegas mengambil mangkok, gelas, sendok dan garpu. Mereka kemudian menikmati bakso dan es degan yang dibeli Pak Parman bersama-sama.


Ayana nampak menikmati makanan dan minuman yang dibawa Pak Parman. Dan juga menikmati kebersamaan mereka. Walaupun makan makanan yang sederhana, tapi saat dimakan bersama-sama dalam keluarga yang saling menyayangi, semua terasa nikmat. Dan jujur, kebersamaan seperti ini tidak pernah Ayana rasakan bersama keluarganya.


"Pak, Bu, Nanti sore aku akan pulang,"pamit Ayana setelah mereka selesai makan.Semua orang langsung menatap Ayana saat mendengar Ayana mengatakan ingin pulang.


"Kenapa tiba-tiba kamu mau pulang?"tanya Wulan yang nampak tidak rela.


"Tadi orang tuaku menghubungi aku dan menyuruh aku untuk pulang,"sahut Ayana tersenyum tipis.


Sebenarnya Ayana malas untuk pulang. Namun juga merasa rindu pada kedua orang tuanya. Walaupun mereka selalu mengabaikan Ayana, mereka tetaplah orang tua Ayana. Ayana masih berharap jika suatu saat nanti orang tuanya akan memberikan sedikit perhatian kepada Ayana.


"Syukurlah! Akhirnya mereka ingat sama kamu,"ujar Pak Parman menghela napas panjang.


Pak Parman sama sekali tidak merasa keberatan jika Ayana tinggal bersama keluarga nya. Pak Parman hanya menyayangkan sikap kedua orang tua Ayana. Untung Ayana tinggal bersama mereka dan tidak salah dalam bergaul. Bagaimana jika Ayana sampai salah bergaul?


Banyak remaja yang kurang perhatian dari orang tuanya menjadi suka bolos sekolah, malas belajar. Gemar merusak atau mencuri fasilitas umum. Merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol. Mengonsumsi obat-obatan terlarang, hingga ada yang melakukan sekss bebas karena kurangnya perhatian dari orang tua mereka.


Apa orang tua Ayana tidak takut jika Ayana menjadi anak yang seperti itu? Kedua orang tua Ayana akan menyesal jika sampai Ayana menjadi anak yang seperti itu. Itulah yang dipikirkan oleh Pak Parman selama ini. Karena itu Pak Parman memperlakukan Ayana seperti putrinya sendiri. Karena menurut Pak Parman, Ayana adalah gadis yang baik. Sayang jika Ayana sampai salah dalam bergaul. Dan untunglah Ayana terdampar di keluarganya.


"Apa kamu nggak bakal ke sini lagi?"tanya Wulan nampak sedih. Wulan sudah terbiasa tidur, belajar dan melakukan banyak hal bersama Ayana. Wulan akan merindukan Ayana jika Ayana pulang ke rumahnya.


"Orang tuaku jarang di rumah. Aku pasti akan ke sini lagi,"sahut Ayana tersenyum pada Wulan.


"Syukurlah,"gumam Wulan merasa lega.

__ADS_1


"Syukurlah kalau kamu mau tinggal di sini lagi. Rumah ini kurang rame kalau cuma bapak, ibu dan Wulan saja,"sahut Bu Lastri yang juga merasa tidak rela jika Ayana tidak tinggal lagi bersama mereka.


"Ya sudah. Nanti hati-hati di jalan! Maaf, Bapak nggak bisa mengantar kamu, karena bapak harus kerja,"ujar Pak Parman seraya mengelus kepala Ayana.


"Iya, Pak. Nggak apa-apa,"sahut Ayana tersenyum pada Pak Parman.


Ayana memutuskan pulang ke rumah nya dengan ojek online. Rumah yang sudah satu bulan ini ditinggalkannya. Menghela napas panjang, Ayana berjalan masuk ke rumahnya. Gadis itu nampak tertegun melihat para ART yang nampak sibuk menata ruangan. Sepertinya akan ada acara di rumah nya. Entah acara apa, Ayana juga tidak tahu.


"Akhirnya kamu pulang juga. Cepat masuk ke kamar kamu! Bersihkan dirimu dan pakai gaun yang sudah mama siapkan di kamar mu! Bik, bantu Ayana membersihkan diri!"ujar mama Ayana kemudian meninggalkan Ayana yang belum sempat mengatakan apapun.


Ayana menatap punggung mamanya dengan tatapan sendu. Setelah satu bulan tidak bertemu, mamanya nampak biasa saja. Tidak menanyakan kabarnya sama sekali. Atau sekedar tersenyum dan memeluk dirinya karena sudah lama tidak bertemu. Apa mamanya sama sekali tidak merindukan dan menyayangi dirinya? Bahkan Bu Lastri yang hanya ibu dari temannya saja lebih perhatian pada dirinya.


Bu Lastri yang selalu menyambut dirinya dan Wulan dengan senyuman hangat setiap mereka pulang sekolah. Bu Lastri juga sering merangkul nya, mengelus kepalanya dan bersenda gurau bersama dirinya dan Wulan. Bahkan mereka selalu memasak bersama. Selama satu bulan tinggal bersama keluarga Pak Parman, Ayana bahkan sudah bisa memasak beberapa macam menu masakan sederhana.


Tapi mamanya malah seperti orang asing saat bertemu dengan dirinya. Bahkan tersenyum padanya pun tidak. Apakah dirinya hanya anak pungut, sehingga kedua orang tuanya tidak mempedulikan dirinya? Itulah yang selalu menjadi tanda tanya di hati Ayana.


"Bik, ada apa ini? Apa akan ada acara di rumah ini?"tanya Ayana pada salah satu ART yang membimbing nya masuk ke dalam kamar.


"Nanti Nona juga tahu,"ujar salah satu ART tersenyum tipis.


Ayana berusaha mengorek informasi dari dua orang ART di rumahnya itu. Tapi tidak satupun dari mereka yang mau memberi tahu Ayana ada acara apa di rumahnya. Ayana hanya pasrah saat dua orang ART itu mendandaninya.


...🌟"Perhatian kecil pun sangat berarti, jika yang memberikannya adalah orang yang kita sayangi."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2