
Tony melajukan mobilnya menuju sebuah apartemen. Marah, kesal, benci, dan dendam menjadi satu dalam dirinya. Axell benar-benar menghajar Tony sampai babak belur. Bibir Tony pecah dan wajahnya terlihat lebam di sana sini.
Tony menekan bel salah satu unit apartemen itu, dan tak lama kemudian, pintu unit apartemen itu pun terbuka.
"Astagaa! Buset, dah! Elu bikin gua jantungan aja, bro! Untung elu datang siang hari, kalau malam hari, udah gua kira hantu, lu!"ujar pria berkacamata yang membukakan pintu unit apartemen itu.
"Gua mau minta bantuan sama elu,"ucap Tony langsung masuk ke dalam unit apartemen itu tanpa menunggu dipersilahkan masuk terlebih dahulu oleh temannya itu.
"Bentar. Gua ambilkan obat sama batu es dulu,"
Tony langsung duduk di sofa dan melepaskan kemejanya yang kotor karena terjatuh dan di injak oleh Axell tadi. Tak lama kemudian, teman Tony pun menghampiri Tony seraya membawa obat dan es batu untuk mengompres luka Tony.
"Kenapa elu bisa babak belur seperti ini, bro? Siapa yang sudah menghajar elu sampai elu jadi mengenaskan seperti ini? Mana nggak cuma di wajah doang, lagi. Itu di badan juga pada lebam semua,"ujar teman Tony seraya membersihkan luka Tony.
"Karena itu, gua mau balas dendam. Gua pengen tahu, siapa orang itu,"
"Hah? Maksudnya elu nggak kenal sama orang yang menghajar elu? Apa orang itu pakai masker? Atau elu lagi pingsan saat dihajar itu orang,"celetuk teman Tony tanpa dosa.
"Sembarangan elu kalau ngomong. Gua sadar sesadar sadarnya. Cuma gua nggak kenal sama itu orang,"
"Gimana ceritanya? Kenapa elu sampai di hajar orang yang enggak elu kenal sampai babak belur seperti ini?"tanya teman Tony seraya mengompres luka di wajah Tony.
"Gua tadi mau menjebak si Rengganis, sudah hampir berhasil, tapi itu cowok malah datang seperti pahlawan kesiangan. Nolongin si Rengganis dan menghajar gua sampai babak belur kayak begini,"
"Rengganis? Cewek yang makin lama makin cantik itu?"
"Hum,"
"Elu apain itu cewek, sampai ada yang nolongin?"
"Gua tarik ke mobil gua. Mau gua ajak bersenang-senang. Tapi dia malah melawan, hingga tuh cowok nolongin dia,"
"Elu juga aneh. Siang bolong kayak begini malah mau nganu nganuin cewek,"sahut pemuda berkaca mata itu menghela napas seraya menggelengkan kepalanya pelan.
"Elu tolong gua cari tahu tentang orang itu, ya?"
"Gimana gua nyari tahunya, kalau elu aja nggak kenal sama itu orang,"
"Gua sudah catat plat mobilnya. Elu bisa, 'kan, melacak siapa pemiliknya?"
"Bisa. Kecil. Asal itu beneran mobil dia, bukan dapat dari minjam, pasti ketemu siapa pemiliknya,"
"Ini nomor plat mobil itu cowok,"ucap Tony menyerahkan secarik kertas pada temannya itu,"Elu cari sekarang aja. Biar gua obati sendiri luka gua,"ujar Tony mengambil obat dan tanga temannya.
__ADS_1
"Okey, gua cari sekarang. Gua sangat penasaran, seperti apa orang yang udah bikin elu babak belur seperti ini,"
Teman Tony itu pun langsung berselancar mencari informasi tentang pemilik plat mobil yang diberikan oleh Tony.
"Ini, yang punya mobil orangnya cungkring begini. Bukan dia, 'kan, yang menghajar elu? Kalau iya, memalukan sekali elu sampai babak belur di hajar orang cungkring begini,"
"Coba, lihat?"ucap Tony langsung memutar layar laptop temannya menghadap dirinya,"Bukan ini orangnya. Orang itu badannya tegap, ganteng. Sial! Gimana caranya cari informasi tentang orang itu, kalau mobil aja dapat dari minjam,'ujar Tony merasa kesal.
"Tapi ini orang kerja di perusahaan cabang milik Tuan Buston, loh,"
"Tuan Buston bapaknya si Delvin, ya?"
"Iya,"ucap teman Tony kembali mengutak-atik laptopnya.
"Tapi, mungkin saja dia bekerja di perusahaan itu. Soalnya, tadi dia pakai stelan jas,"
"Wahh... kakaknya Delvin cakep juga, ya?"ujar teman Tony seraya menatap layar laptopnya.
"Mana?"tanya Tony ikut melihat ke laptop temannya. Tony nampak terkejut saat melihat foto yang ditunjukkan oleh temannya,"Dia.. dia kakaknya Delvin?"gumam Tony tergagap.
"Yap. Dia kakaknya Delvin. Namanya Axell,"
"Dia orang yang udah bikin gua babak belur,"
"What?! Wahh.. mending elu jangan balas dendam, bro! Jangan cari masalah sama orang kaya! Kalau elu nekat, elu sendiri yang bakal rugi, bro! Apalagi, dalam masalah ini, elu yang salah,"
Tentu saja Tony tidak akan berani balas dendam pada Axell. Karena balas dendam pada Axell, sama saja dengan menggali kuburan sendiri.
"Udah, deh! Ikhlaskan saja! Anggap saja lagi sial,"
"Shiitt! Semua ini gara-gara si Rengganis itu,"
***
Senja menyapa di pantai dengan langit yang berwarna biru. Matahari yang mulai kembali ke peraduannya terlihat memancarkan cahaya keemasan. Perpaduan warna langit biru dan keemasan yang memukau dan memanjakan mata.
Dimas dan Ayana duduk di batu karang dengan posisi Dimas yang memeluk Ayana dari belakang. Ayana duduk di antara kedua kaki Dimas yang di tekuk mirip seperti posisi berjongkok, tapi dengan bokong yang menempel di atas batu karang.
Lengan kekar Dimas memeluk perut Ayana, sedangkan Ayana menyandarkan kepalanya di dada bidang Dimas. Keduanya sama-sama menatap indahnya langit senja.
"Kenapa kamu sangat menyukai senja?"tanya Dimas lembut.
"Karena senja begitu indah, walaupun hanya beberapa saat. Senja mengajarkan artinya menunggu. Karena kita akan melihat nya lagi, jika kita menunggunya kembali esok hari. Senja mengajarkan, bahwa keindahan itu tidak pernah abadi, tapi pasti datang lagi,"sahut Ayana seraya memegang lengan kekar Dimas yang melingkar di perutnya.
__ADS_1
"Usia kita jauh berbeda. Aku akan menua lebih dulu dari mu. Apakah kamu akan tetap mencintai aku, sampai aku menua nanti?"
"Tentu saja. Aku akan mencintai kakak sampai akhir napas ku. Tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi kakak di hatiku. Karena seluruh cinta ku sudah aku persembahkan untuk kakak. Tidak ada lagi yang tersisa,"Ayana tersenyum tipis dengan mata yang menatap langit senja.
"Aku berharap kamu akan tetap mencintai aku, bagaimana pun keadaan ku. Walaupun rambutku telah memutih, kulit ku menjadi keriput, dan mungkin gigi ku pun tak akan bersisa lagi,"
Kata-kata Dimas itu membuat Ayana mengernyitkan keningnya. Ayana mendongakkan kepalanya menatap Dimas. Tangan wanita muda itu terulur untuk menyentuh pipi Dimas.
"Apapun keadaannya, aku akan tetap mencintai kakak. Tidak akan pernah meninggalkan kakak. Baik dalam suka dan duka. Dalam tangis maupun tawa. Kita akan tetap bersama,"ucap Ayana, kemudian meraih tengkuk Dimas, lalu mencium bibir pria yang sudah menjadi suaminya itu lembut. Pria yang sangat dicintainya.
Untuk beberapa saat, mereka saling memagut penuh kehangatan. Keduanya melepaskan pagutan mereka lalu saling melemparkan senyuman. Bayangan sepasang suami-isteri itu terlihat karena pancaran sinar sang senja yang semakin lama semakin tenggelam.
"Ay!"
"Hum,"
"Aku mencintai mu. Sangat mencintai mu. Tapi mungkin aku tidak akan bisa selalu ada untuk menjagamu. Seandainya nanti aku pergi, maka carilah kebahagiaanmu sendiri. Jangan pernah terpuruk karena kepergian ku!"
Mendengar kata-kata Dimas, Ayana pun langsung membalikkan tubuhnya menghadap Dimas, lalu menatap pria di depannya itu.
"Kakak bicara apa, sih?! Kakak berniat untuk meninggalkan aku?"tanya Ayana yang tiba-tiba menjadi emosional.
"Sudah gelap. Ayo kembali ke hotel,"sahut Dimas tanpa menjawab pertanyaan Ayana. Pria itu beranjak dari duduknya, namun Ayana malah terdiam di tempatnya duduk.
"Ay! Ayo kita kembali!"ucap Dimas menatap Ayana yang tidak beringsut dari tempatnya duduk.
"Kakak akan meninggalkan aku?"tanya Ayana masih bergeming di tempatnya duduk.
Dimas duduk berjongkok di depan Ayana, lalu memegang kedua pipi Ayana.
"Aku akan menjadi senja. Walaupun aku pergi, aku akan kembali padamu,"
...Senja...
...Senja datang menenggelamkan matahari. Mengajarkan aku, bahwa segala sesuatu tak ada yang abadi....
...Jadilah malam agar kau tahu rasanya rindu, dan jadilah senja agar kau tahu artinya menanti....
...Senja terdengar lebih romantis dari pada fajar. Karena perpisahan akan lebih mudah dikenang dari pada pertemuan....
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued