
Setelah makan malam bersama, Dimas, Ayana, Toyib dan Diky langsung berangkat menuju ke kediaman Geno. Setelah berdiskusi sore tadi, mereka sepakat untuk mengatakan apa yang kemarin terjadi. Walaupun mungkin apa yang akan mereka katakan akan menjadi pukulan berat bagi keluarga Geno, terutama bagi Nando. Namun mereka berpikir, tidak ada gunanya menyembunyikan sesuatu, apalagi jika yang di sembunyikan itu bukanlah hal yang baik.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam karena kemacetan lalu lintas, akhirnya ke empat orang itu pun tiba di rumah Geno.
"Nyonya, Tuan, ada non Ayana, Tuan Dimas dan teman-temannya,"lapor seorang pelayan saat melihat kedatangan rombongan Ayana.
"Benarkah? Kenapa mereka tidak memberitahu sebelumnya, jika mereka akan datang?"tanya Hilda nampak terkejut sekaligus senang,"Tolong dorong kursi roda Nando, bi!"pinta Hilda pada pelayan itu.
"Iya, nyonya,"sahut pelayan itu.
"Tidak biasanya mereka datang bersama seperti ini tanpa memberitahu terlebih dahulu. Apa mereka akan menyampaikan sesuatu yang penting,"gumam Geno yang merasa aneh dengan kedatangan empat orang itu.
"Aku juga merasa aneh, pa. Biasanya, mereka sangat sulit untuk di undang ke sini, walaupun hanya sekedar makan malam bersama di rumah kita,"sahut Nando yang entah mengapa merasakan ada sesuatu yang membuat dirinya gelisah dari kemarin.
"Kita temui saja mereka. Nanti kita juga tahu, apa maksud kedatangan mereka ke mari,"sahut Hilda.
"Pa,.ma, kak!"sapa Dimas saat melihat ke tiga orang itu. Keempat orang itu pun menyalami Geno dan Nando bergantian.
"Papa senang sekali kalian mau ke sini. Kenapa tidak dari sore saja? Kita bisa makan malam bersama,"ujar Geno menyambut kedatangan ke empat orang itu dengan hangat.
"Benar kata papa. Bukankah lebih baik jika makan bersama di sini? Biar lebih ramai,"sahut Nando yang semakin ke sini semakin menyukai kehadiran empat orang itu.
"Biasanya Diky selalu sibuk. Kebetulan hari ini Diky ada waktu senggang, kak,"sahut Dimas.
"Ayo, duduk! Kita mengobrol di ruangan keluarga saja,"ajak Geno agar mereka bisa lebih nyaman mengobrol.
"𝘼𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙩𝙖𝙝𝙪, 𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙧𝙚𝙖𝙠𝙨𝙞 𝙠𝙚𝙩𝙞𝙜𝙖 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙞𝙣𝙞 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙩𝙖𝙝𝙪 𝙖𝙥𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙟𝙖𝙙𝙞,"gumam Toyib dalam hati. Toyib sudah lumayan lama mengenal Geno, Hilda dan Nando.
__ADS_1
"𝘼𝙥𝙖 𝙠𝙖𝙠 𝙉𝙖𝙣𝙙𝙤 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙢𝙗𝙖𝙡𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙞𝙠𝙖𝙥 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙙𝙪𝙡𝙪 𝙠𝙚 𝙥𝙖𝙙𝙖𝙠𝙪, 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙚𝙩𝙖𝙝𝙪𝙞 𝙖𝙥𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙠𝙚𝙢𝙖𝙧𝙞𝙣?"gumam Dimas dalam hati. Takut jika kehangatan keluarga yang baru dirasakan akhir-akhir ini tidak akan lama bertahan setelah keluarga istrinya itu mengetahui kejadian kemarin.
"𝙎𝙖𝙖𝙩 𝙞𝙣𝙞, 𝙘𝙪𝙖𝙘𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙘𝙚𝙧𝙖𝙝. 𝘼𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙩𝙚𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙖𝙙𝙖𝙞 𝙙𝙖𝙩𝙖𝙣𝙜, 𝙘𝙪𝙖𝙘𝙖 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙢𝙗𝙖𝙡𝙞 𝙘𝙚𝙧𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙞𝙣𝙞?"gumam Diky dalam hati. Menyayangkan apa yang terjadi kemarin, yang mungkin akan melenyapkan keharmonisan yang akhir-akhir ini terasa.
"𝙃𝙪𝙗𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙗𝙖𝙧𝙪 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙞𝙠, 𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙨𝙞 𝙗𝙪𝙩𝙚𝙠 𝙞𝙩𝙪 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙪𝙡𝙖𝙝. 𝘼𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙩𝙖𝙝𝙪, 𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙝𝙪𝙗𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙠𝙚 𝙙𝙚𝙥𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖,"gumam Ayana yang merasa tidak rela jika kebahagiaan, kehangatan dan keharmonisan yang akhir-akhir ini tercipta akan hancur karena masalah Bening.
"𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙖𝙪𝙧𝙖 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙗𝙚𝙙𝙖? 𝘼𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙖𝙙𝙖 𝙨𝙚𝙨𝙪𝙖𝙩𝙪 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙝𝙖𝙩𝙞 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙨𝙚𝙙𝙞𝙝 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙚𝙨𝙖𝙡𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙨𝙪𝙖𝙩𝙪,"gumam Hilda yang merasa ada sesuatu yang membuat keempat orang itu seperti menanggung beban.
"Bagaimana kabar kalian?"tanya Geno membuka obrolan.
"Baik, Om,"sahut Diky mewakili.
"Apa ada sesuatu yang ingin kalian sampaikan pada kami? Tidak biasanya kalian datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Apa ada masalah?"tanya Geno yang semakin ke sini semakin merasa ada sesuatu yang serius yang sepertinya akan di sampaikan oleh empat orang yang sudah dianggap keluarganya itu.
"Sebenarnya, memang ada yang ingin kami sampaikan. Dan mungkin papa, mama dan kakak tidak akan suka mendengarnya,"ujar Dimas membuat Geno, Hilda dan Nando penasaran.
"Ini ada hubungannya dengan istri kak Nando,"ucap Dimas seraya menatap Nando.
"Katakan saja!"pinta Nando yang merasa akan mendengar berita yang tidak mengenakkan.
"Kemarin istri kakak berusaha untuk menculik aku dan membawa aku ke hotel yang ada di pinggir kota,"ujar Dimas membuat Geno, Hilda dan Nando terkejut.
Dimas akhirnya akhirnya menceritakan semua yang terjadi kemarin di bantu Diky dengan memberikan bukti-bukti yang di dapatkan Diky dari anak buah Saman.
Semua bukti yang di tunjukkan Diky membuat Geno, Hilda dan Nando tidak bisa berkata-kata untuk beberapa saat. Bening yang selalu menunjukkan sikap lembut manis dan tidak berdaya itu teryata wanita yang tidak terduga. Bisa punya niat menculik suami orang hanya untuk bercinta.
"Papa tidak menyangka jika Bening akan bertindak sejauh itu,"ujar Geno menghela napas yang terasa berat.
__ADS_1
"Dari awal, mama memang tidak terlalu suka dengan Bening,"sahut Hilda dengan wajah yang terlihat kecewa.
"Lalu, bagaimana tanggapan kamu, Nan?"tanya Geno yang merasa iba melihat putranya itu.
"Akhir-akhir ini, aku memang merasa jika Bening tidak tulus padaku. Terutama semenjak aku mengalami kecelakaan. Bening seperti terpaksa mengurus aku dan selalu mencari alasan untuk keluar rumah dengan alasan ngidam. Tapi aku tidak menyangka jika Bening akan berbuat seperti ini. Perbuatannya ini benar-benar di luar dugaan,"ujar Nando menghela napas panjang.
Terlihat jelas di wajah pria itu kekecewaan yang sangat mendalam. Tidak menyangka jika istri yang bahkan sedang mengandung darah dagingnya berniat selingkuh dari nya. Dan mirisnya lagi menculik adik iparnya sendiri untuk di jadikan teman bercintanya.
"Lalu, apa rencana kamu untuk ke depannya?"tanya Geno yang ingin mendengar keputusan Nando.
Sedangkan Hilda benar-benar merasa geram kepada Bening yang telah berani mengkhianati putranya. Sebagai seorang ibu, tentu saja Hilda merasa tidak rela dan sakit hati karena putranya di khianati.
"Aku ingin menceraikan dia, pa. Aku ingin mengambil hak asuh anakku jika anak itu sudah lahir. Mama dan papa tidak keberatan, 'kan, jika aku ingin mengambil anak itu dan membesarkan nya di rumah ini bersama kita?"tanya Nando penuh harap kedua orang tuanya akan menyetujui keinginannya itu.
"Mama tidak keberatan,"sahut Hilda tanpa keraguan.
"Papa juga tidak keberatan,"sahut Geno, membuat Nando merasa lega karena kedua orang tuanya mendukung dirinya.
"Apa kamu sudah tidak mencintai dia lagi, hingga kamu mengambil keputusan seperti ini?"tanya Hilda yang melihat Nando nampak mantap, tanpa keraguan dan juga tanpa kesedihan, saat mengatakan ingin menceraikan Bening.
"Aku rasa begitu, ma. Semenjak aku mengalami kecelakaan, sedikit demi sedikit dia telah menunjukkan wajah aslinya. Dia mulai berubah saat aku mengalami kecelakaan dan seperti enggan untuk mengurus aku. Apalagi, saat aku mengurangi uang belanjanya. Aku merasa dia banyak membeli barang-barang yang tidak penting. Karena itu, aku mengurangi uang belanjanya. Sejak saat itu, semakin terlihat bahwa dia menikah dengan aku karena uangku saja,"ujar Nando jujur adanya.
"Kak, kenapa kakak tidak menceritakan semuanya pada kakak, sekalian pada mama dan papa?"tanya Ayana membuat semua orang menatap Ayana.
...🌸❤️🌸...
To be continued
__ADS_1