
Setelah makan malam Toyib dan Dimas duduk di ruang tamu. Sedangkan Ayana yang belum terlalu sehat memilih untuk beristirahat di dalam kamar. Televisi di ruangan tamu itu menyala, tapi Toyib dan Dimas malah fokus menatap layar handphone mereka masing-masing.
Sebenarnya dua orang pria itu yang menonton televisi, atau televisi nya yang menonton keduanya? Entahlah. Apa gunanya televisi yang menyala jika yang berada di depan televisi malah fokus pada layar handphonenya, bukan pada layar televisi. Bukankah itu pemborosan? Padahal di sekolah selalu di ajarkan untuk hemat energi.
"Argh! Kalah lagi!"pekik Toyib terlihat sangat kesal.
Duda beranak satu itu kemudian menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam, kemudian menatap Dimas yang nampak sangat fokus pada handphone nya.
"Dim, ini sudah malam. Masuk ke kamar kamu sana! Pengantin baru kok, malah begadang di luar kamar. Punya istri cantik kinyis-kinyis malah di anggurin,"ujar Toyib.
"Sebentar lagi,"sahut Dimas masih fokus pada layar handphone nya.
"Kalau aku yang punya istri cantik yang kinyis-kinyis macam Ayana, pasti sudah aku kekepin dari sore tadi. Walaupun belum bisa bobol gawang, yang penting merumput di lapangan dulu,"cerocos Toyib yang gemas melihat Dimas yang betah berada di luar kamar dan nampak sibuk dengan handphone nya. Sedangkan istri yang baru dua malam di nikahi malah di anggurin di dalam kamar.
"Iya.. iya.. aku masuk. Tidak usah berisik lagi! Mulut kamu sudah sama berbisik nya kayak ibu-ibu yang lagi nawar pakaian,"sahut Dimas memilih masuk ke dalam kamarnya dari pada mendengar mulut Toyib yang mulai berkicau.
"Dasar! Dinasehati orang baik-baik malah di bilang berisik,"gerutu Toyib mematikan televisi dan juga lampu utama, kemudian menyalakan lampu kecil yang tidak terlalu terang.
Sedangkan Ayana yang ada di dalam kamar, sejak tadi masih menunggu Dimas masuk kedalam kamar.
"Kenapa kak Dimas belum juga masuk ke kamar? Apa kak Dimas akan tidur dengan Abang? Apa kak Dimas tidak mau tidur dengan aku?"gumam Ayana dengan wajah yang terlihat sendu.
"Ceklek"
Mendengar suara pintu yang di buka dari luar, Ayana pun pura-pura tidur. Tidak ingin Dimas tahu, jika dirinya menunggu Dimas masuk ke dalam kamar.
Dimas masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar itu. Menghela napas menatap Ayana yang sudah memejamkan matanya. Dimas menaikkan selimut Ayana yang hanya menutupi tubuh Ayana dari pinggang ke bawah. Pria itu menyelimuti Ayana sampai di dada.
"𝘼𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙖𝙪 𝙠𝙝𝙞𝙡𝙖𝙛 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙩𝙖𝙥 𝙩𝙪𝙗𝙪𝙝𝙢𝙪. 𝘼𝙠𝙪 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙚𝙡𝙚𝙨𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙠𝙤𝙡𝙖𝙝 𝙠𝙖𝙢𝙪, 𝙠𝙪𝙡𝙞𝙖𝙝 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙜𝙖𝙥𝙖𝙞 𝙘𝙞𝙩𝙖-𝙘𝙞𝙩𝙖 𝙢𝙪. 𝘼𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙝𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙖𝙨𝙖 𝙙𝙚𝙥𝙖𝙣 𝙢𝙪,"gumam Dimas dalam hati.
__ADS_1
Dimas tidak ingin menyentuh Ayana, mengingat usia Ayana yang baru menginjak delapan belas tahun dan masih mengenyam pendidikan di bangku sekolah menengah atas.
Pria itu kemudian mematikan lampu utama, menyalahkan lampu tidur dan membaringkan tubuhnya di samping Ayana. Berbaring dengan posisi miring membelakangi Ayana. Dimas tidak ingin tergiur melihat tubuh Ayana yang padat berisi dan menonjol di beberapa bagian yang tepat. Karena walaupun Ayana selalu memakai baju dengan size besar yang dia berikan, tapi tetap saja tidak bisa menyembunyikan bentuk tubuh Ayana yang aduhai.
Beberapa menit memejamkan mata, berpura-pura tidur, akhirnya Ayana membuka sedikit matanya untuk mengintip Dimas.
"𝘼𝙥𝙖 𝙠𝙖𝙠 𝘿𝙞𝙢𝙖𝙨 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙣𝙘𝙞 𝙖𝙠𝙪 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙠𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝𝙞 𝙖𝙠𝙪? 𝘿𝙞𝙖 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙚𝙣𝙜𝙜𝙖𝙣 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙖𝙨𝙪𝙠 𝙠𝙚 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙠𝙖𝙢𝙖𝙧. 𝘽𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙩𝙞𝙙𝙪𝙧 𝙥𝙪𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙡𝙖𝙠𝙖𝙣𝙜𝙞 𝙖𝙠𝙪,"gumam Ayana menatap punggung Dimas dengan wajah sendu.
Keesokan paginya, Ayana bagun lebih dulu dari Dimas. Seperti hari-hari biasanya, Ayana yang merasa tubuhnya sudah sehat menyiapkan sarapan pagi untuk suami dan Abang Toyib tercinta. Karena jika bukan karena Toyib, belum tentu waktu itu Dimas mau menikahi Ayana.
Dimas yang terbangun dari tidurnya dan tidak mendapati Ayana di sampingnya pun bergegas keluar dari kamar.
"Ay, kenapa kamu masak? Kamu, 'kan, baru sembuh,"tanya Dimas menghampiri Ayana yang sedang memasak nasi goreng favorit Toyib.
Ayana sempat terkejut mendengar suara Dimas, karena dari tadi hanya sendirian di dapur. Namun sesaat kemudian menoleh dan tersenyum pada Dimas.
"Aku sudah merasa sehat, kok, kak,"sahut Ayana.
"Nggak, kok. Emang sudah sehat,"sahut Ayana seraya mengaduk nasi goreng di atas kompor,"Kak, Bu Nur bisa nganter aku ke sekolah, nggak, ya, pagi ini? Aku telepon nomornya nggak aktif,"ujar Ayana.
"Kamu mau sekolah?"tanya Dimas.
"Hum. Tinggal hari ini dan besok.Setelah itu libur semester,"sahut Ayana masih mengaduk nasi goreng nya.
"Apa raport nya harus diambilkan orang tua?"tanya Dimas.
"Enggak, kak,"sahut Ayana.
"Ya sudah, aku mandi dulu. Setelah itu aku akan ke rumah Bu Nur, agar Bu Nur mengantarkan kamu ke sekolah,"sahut Dimas.
__ADS_1
"Hum,"sahut Ayana.
Dimas bergegas kembali ke kamar untuk mengambil pakaian, kemudian membersihkan diri.
"Waahh.. Abang mencium aroma nasi goreng favorit Abang, nih,"ujar Toyib yang baru saja masuk ke ruangan makan.
Duda itu buru-buru menghampiri meja makan di mana Ayana baru saja meletakkan nasi goreng. Dan langsung duduk di salah satu kursi meja makan.
"Abang! Mandi dulu sana! Lihat itu belek masih penuh. Iler juga masih nempel. Nggak kebayang kak Dimas tidur sama Abang yang suka ileran itu,"cerocos Ayana seperti biasanya.
"Ciee.. ciee.. yang udah bobok bareng. Gimana? Enak nggak, bobok sama guling yang bisa di peluk dan bisa memeluk? Asyik, 'kan, punya guling hidup?"tanya Toyib yang malah menggoda Ayana.
"Apaan, sih bang!"ketus Ayana dengan wajah memerah.
"Cieee.. ciee.. mukanya memerah. Udah di cium berapa kali sama Dimas? Di cium di mana saja? Rasanya gimana saat di cium? Deg-degan nggak? Udah di pegang yang mana aja?"tanya Toyib yang semakin bersemangat untuk menggoda Ayana.
"Abang! Mandi sana! Kebiasaan! Belum cuci muka belum apa-apa sudah mau makan! Jorok tahu!"cerocos Ayana mengalihkan pembicaraan, merasa malu dengan pertanyaan Toyib. Ayana merasa hal yang di tanyakan Toyib terlalu intim.
"Iya..iya.. Abang mandi. Abang tadi khilaf karena mencium aroma nasi gorengnya,"ujar Toyib beranjak dari duduknya, berjalan menuju kamar mandi sambil mengulum senyum karena berhasil menggoda Ayana.
"Jangan lupa bawa baju ganti!"ucap Ayana membuat Toyib memutar arah, kembali ke kamarnya untuk mengambil baju.
Ayana menghela napas panjang menatap Toyib yang kembali ke kamarnya.
"Di cium? Di pegang? Di lirik pun tidak. Apa kakak tidak tertarik sama sekali dengan kecantikan ku? Tidak tertarik dengan bentuk tubuh ku? Beberapa kali berciuman tanpa sengaja pun, kak Dimas tampak biasa-biasa saja. Nggak mungkin, 'kan, kak Dimas pisang suka sama pisang? Tapi dia tidak pernah dekat dengan laki-laki. Sama Abang juga biasa-biasa saja. Jangan-jangan.. kak Dimas.. jangan-jangan impoten? Amit-amit.... amit-amit!"gumam Ayana bergidik ngeri.
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued