SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
145. Apa Tujuannya?


__ADS_3

"Bening yang menyuruh orang untuk menculik aku?"tanya Dimas yang mulai merasakan ada sesuatu yang aneh pada tubuhnya.


"Benar, Tuan,"sahut pria yang duduk di samping Dimas.


"𝙎𝙞𝙖𝙡! 𝘼𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙩𝙪𝙗𝙪𝙝𝙠𝙪 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙥𝙖𝙣𝙖𝙨. 𝙎𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙚𝙡𝙖𝙝 𝙙𝙞 𝙘𝙚𝙠𝙤𝙠𝙞 𝙤𝙗𝙖𝙩 𝙥𝙚𝙧𝙖𝙣𝙜𝙨𝙖𝙣𝙜,"gumam Dimas dalam hati.


Pria di samping Dimas melirik Dimas yang terlihat gelisah. Pria itu kemudian mengambil air mineral.


"Minumlah air putih ini, Tuan! Agar Tuan sedikit tenang. Sebentar lagi kita akan sampai di rumah Tuan,"ujar pria di samping Dimas memberikan air mineral dalam kemasan botol yang masih tersegel. Sepertinya pria itu tahu apa yang terjadi pada Dimas.


"Terimakasih!"sahut Dimas langsung membuka tutup botol itu dan meminum air mineral dalam kemasan botol itu sampai habis.


"Tambah kecepatan! Agar Tuan bisa segera sampai di rumah!"titah pria yang duduk di sebelah Dimas.


"Baik, bos,"sahut orang yang sedang mengemudi.


Sedangkan Dimas terlihat semakin gelisah. Air putih yang diminumnya hanya meredakan panas di tubuh nya beberapa detik saja.


Di sisi lain, Ayana nampak gelisah menunggu Dimas pulang. Sudah pukul sembilan malam, tapi Dimas belum pulang juga. Biasanya, jika akan pulang terlambat, Dimas akan mengabari Ayana. Tapi tidak untuk kali ini. Bahkan ponsel Dimas pun tidak bisa di hubungi.


"Tenanglah! Jangan khawatir! Sebentar lagi Dimas pasti pulang, Ay,"ujar Toyib menenangkan.


"Bagaimana aku tidak khawatir, bang? Kakak tidak pernah seperti ini sebelumnya. Kakak selalu mengabari aku jika akan pulang terlambat. Tapi kali ini tidak. Apalagi, kakak tidak pernah pulang selarut ini sebelumnya. Apalagi, handphone kakak juga nggak aktif,"ujar Ayana semakin gelisah, dengan mata yang terus menatap ke arah pagar rumah kontrakan mereka.


"Tenanglah, Ay! Aku sudah mengerahkan orang-orang ku untuk mencari Dimas,"ujar Diky ikut menenangkan Ayana.


Padahal Toyib dan Diky, saat ini juga sangat mengkhawatirkan keadaan Dimas yang sampai saat ini belum di ketahui keberadaan nya. Namun, kedua pria itu berusaha bersikap tenang. Karena tidak ingin membuat Ayana semakin gelisah.


"Kruk.. kruk..."


Suara perut Diky yang kelaparan pun mengalihkan perhatian Toyib dan Ayana. Diky hanya tersenyum bodoh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, saat Toyib dan Ayana menatapnya.


"Abang dan babang makan saja lebih dulu! Aku akan makan nanti bersama kakak,"ujar Ayana.

__ADS_1


Mereka bertiga memang belum makan, karena menunggu Dimas pulang. Sudah terbiasa jika makan selalu bersama.


"Nggak usah, kita tunggu Dimas sebentar lagi. Orang-orang ku pasti akan segera menemukan Dimas,"ujar Diky.


Suara dering handphone Diky mengalihkan perhatian semua orang. Diky bergegas mengambil handphonenya dari saku celananya dan langsung menerima panggilan masuk itu setelah tahu siapa orang yang menghubunginya.


"Halo! Bagaimana?"tanya Diky pada orang yang menelponnya.


"Menurut cctv jalan raya yang kami retas, teman bos diikuti orang yang ternyata sudah menunggu teman bos di perusahaan tuan Geno. Kami sempat kehilangan jejak di jalan yang tidak ada cctv nya. Tapi kami terus melacak nya dan menemukan teman bos sedang tidak sadarkan diri di bawa lima orang pria ke hotel xx di pinggir kota ini. Namun tak lama kemudian, teman bos di bawa keluar dari hotel itu oleh orang yang berbeda. Mereka membawa teman bos masuk ke dalam mobil. Dan arah mobil yang membawa teman bos itu sepertinya menuju daerah tempat tinggal bos sekarang,"lapor orang Diky itu panjang lebar.


"Jadi, apa ada kemungkinan dia akan pulang?"tanya Diky.


"Sepertinya seperti itu, bos,"sahut orang Diky


"Apa kalian tahu, siapa pemilik mobil yang membawa Dimas itu,?tanya Diky.


"Kami sudah melacak nya. Tapi belum mengetahui, siapa pemilik mobil itu, bos. Tapi, perempuan yang bernama Bening, menantu Tuan Geno itu terlihat memasuki hotel tempat teman bos di bawa lima orang pria itu. Perempuan itu check in ke hotel itu sekitar setengah jam sebelumnya teman bos di bawa ke hotel itu,"


"Apa? Jalangg itu! Apa ada kemungkinan jika ****** itu adalah dalang dari semua ini?"tanya Diky nampak terkejut sekaligus geram mendengar keberadaan Bening di hotel tempat Dimas beberapa menit masuk.


"Terus pantau! Jangan sampai kehilangan jejaknya,"titah Diky.


"Baik, bos,"sahut anak buah Diky, dan Diky pun mengakhiri panggilan teleponnya.


"Bagaimana, Dik?"tanya Toyib yang dari tadi memperhatikan Diky. Sedangkan Ayana juga nampak menunggu jawaban dari Diky.


"Menurut orang-orang ku, Dimas saat ini berada dalam sebuah mobil yang arahnya menuju daerah kontrakan kita ini.Jadi kalian jangan khawatir! Sebentar lagi, Dimas pasti akan pulang,"jawab Diky menenangkan Toyib dan Ayana.


"Syukurlah,"gumam Toyib.


Sedangkan Ayana belum merasa tenang sebelum benar-benar melihat dengan mata dan kepalanya sendiri jika suaminya baik-baik saja. Namun tidak bisa dipungkiri, ada sedikit perasaan lega saat mendengar kata-kata Diky.


"Tapi, aku dengar, kemu menyebut jalangg. Siapa yang kamu maksud?"tanya Toyib penasaran begitu pula dengan Ayana.

__ADS_1


"Sebenarnya, ada beberapa orang yang menculik Dimas, dan membawa Dimas ke sebuah hotel di pinggir kota,"ujar Diky menghela napas berat.


"Apa?"tanya Ayana dan Toyib bersamaan karena terkejut.


"Kalian tenang saja! Ada beberapa orang yang mengalamatkan Dimas. Aku tidak tahu siapa orang-orang ini. Orang-orang ku masih menyelidikinya. Aku punya firasat dan kecurigaan pada Bening. Seperti nya, dia lah yang bermaksud untuk menculik Dimas. Karena perempuan itu datang ke hotel itu setengah jam sebelum Dimas di bawa ke hotel itu. Coba kalian pikir! Untuk apa perempuan itu pergi ke hotel di pinggir kota itu? Bukankah dia tidak memiliki pekerjaan selain mengurus kak Nando dan Om Geno? Bukankah sangat mencurigakan, jika tiba-tiba dia check in di sebuah hotel di pinggir kota sendirian?"tanya Diky mengungkapkan deduksi nya.


"Kamu benar. Ini sangat mencurigakan,"sahut Toyib yang sependapat dengan deduksi Diky.


"Aku akan bertanya pada kak Nando untuk memastikan,"ujar Ayana segera menghubungi Nando. Ayana bahkan mengatur mode loud speaker agar Toyib dan Diky bisa mendengar pembicaraan dirinya, dengan Nando.


"Halo, kak?"sapa Ayana setelah Nando menerima panggilan nya.


"Halo! Ada apa,. Ay?"tanya Nando yang sebenarnya merasa heran karena tiba-tiba Ayana menelpon dirinya.


Selama ini,, Nando dan Ayana tidak pernah saling menelpon ataupun sekedar chatting. Mereka seperti orang asing. Karena selama ini, mereka selalu adu mulut setiap kali bertemu. Hanya akhir-akhir ini saja mereka tidak lagi adu mulut setiap bertemu, tapi juga tidak bisa dibilang akrab.


"Kak, bisa aku bicara dengan kak Bening?"tanya Ayana.


"Ohh.. Bening. Sekarang dia sedang tidak ada di rumah, Ay. Tadi sore dia pergi dan mengatakan akan menginap di apartemen ibunya. Kamu hubungi saja sendiri. Kakak akan mengirimkan kontaknya pada kamu,"ujar Nando membuat Toyib, Ayana dan Diky saling bertatapan.


"Iya. Terimakasih, kak! Kalau begitu, aku tutup teleponnya,"ujar Ayana.


"Hum,"sahut Nando. Setelah Ayana menutup panggilan nya, Nando langsung mengirimkannya kontak Bening pada Ayana..


"Bagaimana? Bukankah ini semakin mencurigakan? Perempuan itu. berbohong pada suaminya. Mengatakan menginap di apartemen ibunya, tapi nyatanya menginap di hotel di pinggir kota,"ujar Diky..


"Aku tidak menyangka, jika perempuan itu sampai nekat seperti itu,"gumam Toyib.


"Lalu, apa tujuannya menculik kak Dimas dan membawa kak Dimas ke hotel di pinggir kota itu tahu?"tanya Ayana.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2