SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
189. Please!


__ADS_3

Wulan duduk di depan Diky yang sepertinya sedang membalas chat, hingga Diky tidak melihat kehadiran Wulan. Wulan berusaha bersikap tenang dan biasa saja.


"Kamu siapa?"tanya Novan saat melihat Wulan duduk di kursi yang berhadapan dengan Diky.


Wulan terdiam menatap Diky. Diky yang mendengar Novan bertanya pada seseorang pun mengangkat wajahnya dan melihat Wulan duduk di hadapannya dan sedang menatapnya.


"Dia calon istri ku,"ucap Diky tersenyum manis pada Wulan.


Wulan yang mendengar Diky mengakui dirinya sebagai calon istri pun tersenyum tipis pada Diky.


"Eh, calon istri kamu?"tanya Novan nampak terkejut.


"Iya. Kenapa? Cantik, 'kan?"tanya Diky terlihat bangga pada Wulan. Wulan yang di puji cantik pun menunduk dengan wajah yang bersemu merah.


"Issh... jika dia seperti itu, aku jadi ingin menciumnya. Aku benar-benar akan khilaf jika terus berdekatan dengan dia,"gumam Diky dalam hati. Menatap calon istrinya gemas.


"Wahh..ternyata selera kamu daun muda, bro? Mana bening lagi. Pantesan, banyak teman seangkatan yang naksir kamu, tapi kamu tolak. Aku dulu sampai berpikir kalau kamu suka main pedang-pedangan,"ujar Novan kemudian terkekeh.


"Sembarangan! Aku ini normal. Dulu itu nggak ada cewek yang aku suka. Oh, iya, Lan. Ini teman sekolah aku dulu. Namanya Novan. Dan Van, ini calon istri ku, namanya Wulan,"ujar Diky memperkenalkan kedua orang itu.


"Kenalkan, aku Novan teman SMA Diky!"ucap Novan tersenyum cerah seraya mengulurkan tangannya pada Wulan.


"Plak"


"Nggak usah pakai salam-salaman!"ucap Diky memukul tangan Novan. Membuat Wulan mengulum senyum.


"Dih, dasar posesif! Pelit!"cibir Novan seraya mengelus tangannya yang di pukul Diky.


"Masbulo, Masalah buat Lo?"sambar Diky kemudian kemudian menatap Wulan. Sini, Lan! Duduk di sini! Lihatlah! Aku sudah pesankan makanan dan minuman kesukaan kamu,"ucap Diky menarik tangan Wulan agar duduk di dekatnya.


"Aku sangka tadi pesan dua porsi untuk kamu sendiri, ternyata oh ternyata.. buat calon nyonya,"celetuk Novan tapi tidak di hiraukan oleh Diky.

__ADS_1


Akhirnya ketiganya makan bersama. Saat makan, Diky terlihat sangat perhatian pada Wulan. Diky mengambilkan apapun yang diinginkan oleh Wulan.


Pemuda itu susah payah menelan salivanya melihat bibir Wulan yang sedang mengunyah makanan. Bibir Wulan itu terlihat segar dan manis di mata Diky.


Novan memperhatikan wajah dan tatapan Diky. Tatapan mata yang seolah ingin memakan calon istrinya.


"Hei! Tatapan mata kamu itu tidak seperti ingin memakan makanan yang ada di depan kamu. Tapi seolah ingin memakan calon istri kamu,"bisik Novan pada Diky.


"Berisik!"ketus Diky pada Novan membuat Wulan yang dari tadi fokus dengan makanannya menatap ke dua pria itu.


"Ada apa dengan mereka?"gumam Wulan dalam hati. Menatap Diky dan Novan bergantian. Novan yang senyum-senyum sendiri dan Diky yang terlihat jelas sedang menatapnya. Membuat Wulan menundukkan wajahnya.


Namun sayangnya, di sudut bibir Wulan malah ada sedikit saus yang menempel, membuat Diky semakin gemas saat melihatnya hingga...


"Cup"


"Uhuk..uhuk..uhuk...."


Wulan terdiam kaku karena terkejut dengan aksi Diky itu. Otaknya terasa beku tidak bisa berpikir, dan tubuhnya terasa kaku. Jantungnya berdetak dengan kencang, tidak bisa dikondisikan.


Sedangkan Novan terbatuk-batuk melihat tingkah Diky yang benar-benar memebuat Novan syok itu. Terlihat sekali jika temannya itu sangat bernafsu pada calon istrinya itu. Novan meminum air putih seraya menepuk-nepuk dadanya sendiri dengan mata yang fokus pada Diky.


"Dik, gila lu! Ini di tempat umum,"ucap Novan pelan seraya menyenggol kaki Diky. Menatap ke sekitarnya, takut ada yang melihat tingkah absurd temannya itu. Untung saja pengunjung outlet itu sudah agak sepi. Dan mereka tidak melihat ke arah mereka bertiga.


Diky yang sedang menikmati bibir Wulan dengan serakah pun tersadar saat beberapa kali kakinya di senggol Novan. Pemuda itu melepaskan pagutannya.


"Makanlah!"ucap Diky dengan seulas senyum tanpa rasa berdosa pada Wulan. Mengusap bibir Wulan yang basah karena ulahnya dengan jari jempolnya, kemudian merapikan rambut Wulan yang berantakan karena aksinya tadi. Pemuda itu kembali makan dengan tenang, tidak seperti tadi yang tidak fokus pada makanannya karena ternyata bibir Wulan lebih menggoda dari pada makanan yang ada di depannya saat ini.


"Sial! Kenapa aku jadi lepas kontrol? Bibirnya itu membuat aku lupa segalanya. Kalau seperti ini, mana bisa aku menunggu dia sampai tiga setengah tahun lagi?"gerutu Diky dalam hati, tiba-tiba merasa frustasi.


Wulan tertunduk tanpa sepatah katapun. Merasa agak canggung karena serangan mendadak Diky barusan. Apalagi di lihat oleh teman Diky.

__ADS_1


"Kenapa dia tiba-tiba mencium aku? Bahkan saat kami berada di tempat umum, dan sedang makan dengan temannya? Bang Diky seperti lepas kontrol. Dan bodohnya aku, aku malah tidak bisa berkutik. Bahkan otakku terasa beku, dan tubuh ku terasa kaku. Apa yang dipikirkan oleh teman bang Diky tentangku? Dia pasti menganggap aku wanita murahan,"gumam Wulan dalam hati yang tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Gadis itu tertunduk, berusaha bersikap tenang. Walaupun detak jantungnya masih tidak normal karena ulah Diky barusan. Dan juga merasa sangat malu pada teman Diky.


"Parah lu Dik! Brutal banget! Sudah kayak macam lapar melihat rusa aja. Kamu seperti mau memakan bulat-bulat calon istri kamu. Sudah kamu apain aja itu anak orang?"tanya Novan pelan. Namun Diky tidak merespon.


Novan hanya geleng-geleng kelapa melihat kelakuan Diky. Tidak menyangka, jika kawannya yang dulu nampak enggan di dekati perempuan, sekarang malah dengan brutalnya mencium calon istrinya di depan umum.


Tidak ada pembicaraan apapun setelah itu. Semuanya makan dalam diam. Suasana jadi terasa sedikit canggung. Tidak lama kemudian, ketiganya pun selesai makan.


"Aku cabut dulu, ya! Terimakasih atas traktirannya!"ucap Novan kemudian berbisik pada Diky,"Mending kamu nikahi itu anak orang. Jangan sampai bunting sebelum menikah,"ucap Novan kemudian menepuk bahu Diky dan menatap ke arah Wulan,"Sampai jumpa, Lan!"ucap Novan tersenyum tipis pada Wulan.


"Iya,"sahut Wulan mengangguk kecil dan tersenyum tipis.


Tak lama kemudian, Diky dan Wulan juga keluar dari outlet itu. Mereka masuk ke dalam lift menuju lantai bawah. Namun ternyata banyak yang ikut masuk ke dalam lift itu. Segerombolan muda-mudi yang ikut masuk itu membuat lift menjadi penuh. Karena lift penuh, akhirnya Wulan dan Diky terpojok di sudut lift. Diky berdiri di depan Wulan, menghadap ke arah Wulan. Tangan kanan dan kiri Diky berada di sisi kanan dan kiri tubuh Wulan agar Wulan tidak tersentuh oleh muda-mudi yang mayoritas cowok itu.


Muda-mudi itu terus mendesak hingga tubuh Wulan menempel di pojok lift dan tubuh Diky pun menempel pada tubuh Wulan. Tatapan Diky kembali tertuju pada bibir Wulan. Pria itu kembali menelan salivanya kasar mengingat betapa nikmatnya bibir itu. Sementara Wulan berdiri kaku tanpa bisa bergerak, tersudut di pojok lift. Gadis itu merasa canggung dengan posisinya dengan Diky saat ini hingga tidak berani menatap Diky yang berdiri menempel padanya.


Wulan terhenyak saat tiba Diky mengangkat dagunya. Detak jantung Wulan menjadi tidak beraturan. Hingga Wulan menatap wajah tampan Diky yang memiringkan kepalanya, perlahan menunduk mendekati wajahnya.


Wulan memejamkan matanya saat Diky kembali'memagut bibirnya. Detak jantung Wulan semakin kencang dan tidak beraturan. Wulan terhanyut dalam pagutan Diky. Karena naluriah, tanpa disadarinya Wulan membalas pagutan Diky. Keduanya saling memagut, melummat, menyesap dan berbelit lidah. Tangan Wulan meremas kemeja yang dipakai Diky. Kedua insan yang sedang kasmaran itu lupa dimana saat ini mereka berada. Hingga suara lift yang terbuka menyadarkan mereka.


Diky mengusap bibir Wulan yang basah karena ciumannya tadi, merapikan rambut Wulan dan akhirnya keluar dari lift itu setelah semua orang keluar. Wulan kembali terdiam karena lagi-lagi merasa canggung setelah mereka berciuman di dalam lift tadi. Entah mengapa Wulan benar-benar tidak bisa menolak Diky.


Akhirnya mereka berdua pun pulang. Setelah hampir satu jam mengendarai motor, akhirnya mereka tiba juga di depan rumah Pak Parman. Diky membantu Wulan melepaskan helm nya.


"Lan, tidak bisakah kita menikah secepatnya? Tidak perlu menunggu kamu lulus kuliah. Aku ingin kamu menjadi milikku seutuhnya. Aku tidak bisa menahan diri jika bersama kamu. Please! Aku benar-benar ingin menikah dengan kamu. Please!"mohon Diky dengan wajah memelas.


...🌸❤️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2