SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
182. Rasa Bersalah


__ADS_3

Semua orang nampak terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Dimas. Bahkan Dimas sendiri juga merasa terkejut saat polisi mengatakan bahwa kemungkinan orang yang jatuh ke dalam jurang itu adalah Bening. Walaupun belum bisa dipastikan, namun presentase kemungkinan Bening adalah orang yang jatuh ke dalam jurang karena ingin melenyapkan mereka adalah lebih besar. Karena polisi tidak akan bicara tanpa bukti.


"Jadi, maksud kamu, orang yang berusaha membunuh kita semua adalah Bening?"tanya Hilda dengan ekspresi yang tidak dapat dideskripsikan.


"Menurut polisi, kemungkinannya iya, ma,"sahut Dimas menghela napas panjang.


"Aku akan mencoba untuk menghubungi Bening,"ucap Nando segera mengambil handphonenya dari saku celananya.


Dengan wajah cemas, Nando segera menghubungi Bening. Namun walaupun sudah berkali-kali menghubungi Bening, nomor Bening tetap saja tidak aktif. Nando merasa cemas bukan karena masih cinta pada Bening, tapi karena wanita itu sedang mengandung darah dagingnya. Karena itulah Nando merasa khawatir.


"Bagaimana?"tanya Geno setelah beberapa lama Nando mencoba menghubungi Bening.


"Tidak aktif, pa,"sahut Nando lesu.


"Mama akan menelepon orang di rumah,"ucap Hilda segera menghubungi salah seorang pelayan di rumahnya.


Setelah berbicara dengan pelayanan di rumahnya, Hilda nampak menghela napas panjang.


"Bagaimana, ma?"tanya Geno, Nando Dimas dan Ayana bersamaan.


"Orang di rumah bilang, tak lama setelah kita pergi, Bening masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Lalu dia pergi menggunakan taksi online. Dan sampai saat ini belum kembali,"sahut Hilda menghela napas panjang.


"Sebaiknya kita istirahat dulu. Besok kita pulang untuk memastikan segalanya. Jadi, dengan terpaksa, kita tidak bisa melanjutkan acara liburan ini,"ucap Geno memutuskan. Akhirnya semuanya pun pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat.


Di kamar Geno dan Hilda.


"Aku kasihan pada Nando, pa. Jika benar orang yang jatuh ke jurang itu adalah Bening, Nando pasti akan sangat terpukul. Walaupun Nando sudah tidak mencintai Bening lagi, tapi Nando pasti menyayangi bayi dalam kandungan Bening. Bagaimana pun, bayi itu adalah darah daging nya,"ujar Hilda yang merasa prihatin pada putranya.

__ADS_1


"Papa juga, ma. Tapi, ya, gimana lagi? Jika benar yang jatuh ke jurang itu adalah Bening, kita juga tidak bisa apa-apa lagi. Lagipula, orang yang jatuh ke jurang itu nyata-nyata ingin melenyapkan kita semua,"sahut Geno menghela napas panjang.


Sedangkan Dimas yang berada di dalam kamarnya, pria itu nampak berdiri di balkon kamarnya dengan tatapan kosong seraya memasukkan kedua tangannya di saku celananya. Ayana yang melihat Dimas hanya berdiri diam pun menghampirinya. Wanita itu memeluk Dimas dari belakang dengan hangat.


"Dia mati karena aku, Ay,"ucap Dimas lirih.


Ayana tersentak mendengar ucapan Dimas itu. Wanita itu melepaskan pelukannya, lalu berdiri di depan Dimas. Ayana mendongakkan kepalanya lalu mengulurkan kedua tangannya untuk memegang kedua pipi Dimas.


"Kakak jangan merasa bersalah! Dia tidak menyerah untuk berusaha melenyapkan kita semua. Walaupun kita menghindari dia, dia akan tetap berusaha untuk melenyapkan kita, kak,"sahut Ayana menenangkan.


"Aku sudah membunuh dua orang, Ay! Membunuh bayi yang tidak bersalah,"sahut Dimas lirih menatap Ayana.


"Kakak tidak tahu jika itu istri kak Nando. Jadi, berhentilah menyalahkan diri kakak sendiri! Semua sudah di atur oleh Tuhan. Jika seorang manusia belum waktunya kembali pada-Nya, maka walaupun dengan cara apapun dilenyapkan, maka tidak akan berhasil. Begitu pula jika memang sudah waktunya di panggil Tuhan, kita tidak akan pernah bisa mencegahnya. Jadi, semua ini adalah ketentuan dari-Nya. Kakak jangan merasa bersalah lagi! Karena walaupun kakak merasa bersalah, semuanya tidak akan kembali,"ujar Ayana kembali menenangkan Dimas.


"Tapi tetap saja akulah penyebabnya, Ay,"sahut Dimas menghela napas berat.


"Lalu kakak akan tenggelam dalam rasa bersalah ini dan mengabaikan semua orang yang ada di sekitar kakak termasuk aku, karena masalah ini? Jika kakak seperti ini, maka kakak akan membuat semua orang mengkhawatirkan kakak. Apa kakak tidak memikirkan itu?"tanya Ayana berusaha menyadarkan Dimas.


"Tidak perlu meminta maaf! Jadilah seperti suamiku yang seperti biasanya. Selalu optimis dan berpikir positif. Yakinlah! Semua yang terjadi di dunia ini adalah atas kehendaknya. Semuanya tidak akan terjadi tanpa seizin dari-Nya,"ucap Ayana yang tidak ingin Dimas tenggelam dalam rasa bersalah.


Sedangkan Nando yang berada di dalam kamarnya, pria itu nampak berbaring terlentang dengan kedua tangan yang di lipat, dijadikan nya sebagai bantal. Matanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Sesaat kemudian, pria itu menghela napas panjang.


"Jika memang yang jatuh ke dalam jurang itu adalah Bening, aku tidak boleh larut dalam rasa sedih. Aku tidak mau semua orang mengasihani aku karena kejadian ini. Aku harus berpikir positif. Mungkin ini yang terbaik untuk aku dan Bening. Dia tidak mau berpisah dengan aku secara baik-baik dan memilih untuk berpisah dengan ku untuk selamanya. Dalam kejadian tadi, jika dia tidak mati, pasti kami yang akan mati. Atau mungkin, kami semua akan mati bersama-bersama di dalam jurang itu. Dan soal anak itu, mungkin memang lebih baik tidak lahir ke dunia. Karena jika dia terlahir di dunia, dia tidak akan memiliki keluarga yang lengkap. Dan mungkin akan merasa malu karena mempunyai ibu seperti Bening. Seorang wanita yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan semua keinginan nya tanpa mempedulikan perasaan orang lain,"gumam Nando yang akhirnya merelakan jika benar-benar yang jatuh dan meninggalkan di dasar jurang adalah Bening yang berarti juga anaknya.


Pagi sudah menyapa, setelah sarapan bersama tanpa ada obrolan yang berarti mereka pun memutuskan untuk pulang seperti rencana mereka semalam.


Dimas kembali mengendarai mobil. Walaupun masih merasa bersalah, namun Dimas mencoba untuk bersikap setenang mungkin. Semua orang menoleh saat melewati jurang tempat orang yang ingin melenyapkan mereka kemarin terjatuh dan terbakar. Orang yang di duga kuat adalah Bening.

__ADS_1


Semua orang bergelut dengan pikiran mereka masing-masing saat melihat tempat itu. Tempat yang hampir saja menjadi tempat nyawa mereka melayang.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan melelahkan, akhirnya mereka tiba juga di kediaman Geno.


"Bik, apakah Bening sudah pulang?"tanya Hilda tidak sabar setelah melihat salah seorang pelayan di rumahnya itu.


"Belum, nyonya,"sahut pelayan itu.


"Tuan, ada polisi,"ucap seorang security yang datang tergopoh-gopoh,"Kemarin mereka juga ke sini menanyakan nona Bening, Tuan,"lapor security yang bertugas menjaga pintu gerbang.


"Persilakan mereka masuk,. Pak,"sahut Geno pada security yang usianya hampir sama dengan dirinya itu.


"Baik, Tuan,"sahut security itu bergegas kembali ke pintu gerbang.


Tak lama kemudian, dia orang polisi menghampiri Geno dan keluarganya. Geno mempersilahkan dua orang polisi itu untuk duduk di ruang tamu.


"Begini, Pak. Kami harapkan, keluar bapak sekeluarga datang ke rumah sakit untuk mengecek sendiri. Apa benar jenazah yang kami angkat dari jurang dini hari tadi adalah saudari Bening,"ucap salah seorang polisi.


"Baiklah, kami akan ke rumah sakit sekarang juga,"sahut Geno memutuskan.


...🌟"Yakinlah, bahwa kamu bisa melalui semua ujian dalam kehidupan....


...Jika apa yang kamu harapkan dan kamu senangi tidak terjadi, maka senangi lah apa yang saat ini terjadi.🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2