
Waktu terus berputar dan hari pun terus berganti. Di sebuah rumah kontrakan sederhana, Toyib nampak sedang bersiap-siap.
"Kamu mau berangkat jam berapa? Naik apa?"tanya Dimas pada Toyib. Pria itu mengenakan celana pendek dan bertelanjang dada. Menggosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil karena baru saja selesai membersihkan diri.
"Setelah aku selesai membereskan barang bawaan ku dan mandi. Rencananya, aku mau naik bus saja,"sahut Toyib seraya mengemasi beberapa pakaian yang akan dibawanya nanti ke dalam tas ransel.
Hari ini Toyib berniat pulang kampung karena kemarin kedua orang tuanya menelpon. Mereka menyuruh Toyib pulang secepatnya tanpa menjelaskan apa alasannya. Toyib pun tidak dapat menolak keinginan kedua orang tua yang telah merawatnya dan membesarkan nya selama ini. Karena itu, pagi ini Toyib berniat untuk pulang ke kampung halamannya.
"Ini, aku nitip buat anak dan kedua orang tuamu,"ujar Dimas memberikan sebuah kardus bekas mie instan yang sudah di tutup rapat pada Toyib.
"Apa ini?"tanya Toyib menerima kardus yang diberikan oleh Dimas.
"Hanya pakaian untuk anak dan kedua orang tuamu. Serta mainan untuk anakmu,"sahut Dimas tersenyum tipis.
"Wahh.. terimakasih, Dim!"sahut Toyib tersenyum lebar.
"Sama-sama. Tapi, kira-kira kamu tahu tidak, kenapa kamu di suruh pulang?"tanya Dimas seraya duduk di kursi kayu yang ada di ruang tamu itu.
"Aku juga tidak tahu, Dim. Aku juga penasaran. Aku tanya apa ada yang sakit? Mereka bilang tidak ada. Tapi kata mereka ini sangat penting,"sahut Toyib ikut duduk di sebelah Dimas, menghela napas panjang.
"Jangan-jangan kamu mau dinikahkan oleh kedua orang tuamu?"tanya Dimas menduga-duga.
"Aku masih belum siap untuk kembali berkeluarga, Dim,"sahut Toyib dengan wajah lesu.
__ADS_1
Satu tahun yang lalu, Toyib baru saja bercerai dengan istrinya. Wanita cantik yang dinikahinya selama enam tahun, tapi ternyata berselingkuh di belakangnya. Toyib merantau, mati-matian mencari uang untuk membahagiakan anak dan istrinya. Tapi saat pulang kampung malah harus menerima kenyataan bahwa dirinya diselingkuhi oleh istri yang sangat dia cintai.
"Apa kamu trauma?"tanya Dimas yang sudah mengetahui kisah hidup Toyib. Begitu pula dengan Toyib yang sudah mengetahui kisah hidup Dimas.
"Mungkin. Tapi bukan hal itu yang menjadi alasan utama bagi ku untuk berkeluarga lagi. Aku belum siap untuk berkeluarga lagi karena anakku. Aku harus mencari wanita yang bisa menerima anakku. Sedangkan mencari yang mau menerima aku apa adanya saja susah, apalagi mencari yang bisa menerima anakku,"ujar Toyib panjang lebar. Memang susah mencari pendamping hidup dengan statusnya sebagai duda beranak satu.
"Iya. Kamu benar. Memang susah mencari pasangan hidup yang mau menerima kita apa adanya. Apalagi jika harus menerima orang seperti kita yang pendapatannya tidak menentu,"sahut Dimas menghela napas panjang.
Bekerja sebagai sales penjual pakaian keliling tentu saja penghasilannya tidak menentu. Berbeda dengan orang yang bekerja di sebuah perusahaan atau PNS. Terkadang dagangan mereka laris manis, tapi kadang juga tidak laku. Saat menjelang lebaran, biasanya mereka akan mendapatkan banyak uang. Karena mayoritas masyarakat akan membeli baju baru untuk menyambut hari raya Idul Fitri. Tapi satu atau dua bulan setelah lebaran, tidak akan banyak orang yang akan membeli pakaian. Di saat seperti itu, mereka akan lebih banyak berkeliling untuk menagih kreditan, dari pada menjajakan pakaian.
"Apa kamu juga masih trauma untuk menjalin hubungan dengan wanita?"tanya Toyib.
"Tidak juga. Cuma, aku merasa belum ada yang cocok saja. Lagi pula, seperti kata kamu tadi, pendapatan kita tidak menentu dan aku juga merasa belum siap untuk menikah karena aku belum punya cukup uang untuk memenuhi kebutuhan ku dan istri ku nanti. Apalagi kalau punya anak nanti. Aku takut tidak mampu membelikan skincare istri ku, dan membelikan susu formula untuk anakku. Kamu tahu, 'kan betapa mahalnya harga skincare dan susu formula?"ujar Dimas kembali menghela napas panjang.
"Kamu benar. Skincare dan susu formula lebih mahal dari pada kebutuhan dapur,"sahut Toyib tertawa hambar "Tapi, 'kan banyak yang mau menikah dengan kamu, Dim. Apalagi janda di kampung Cempaka itu. Janda itu, 'kan sudah beberapa kali melamar kamu, Dim. Dia bahkan menawarkan akan membukakan toko pakaian untuk kamu. Kalau kamu mau sama dia, kamu tidak perlu lagi merasakan kepanasan dan kehujanan karena berjualan pakaian keliling. Wajah janda itu cantik, dan juga belum memiliki anak. Kamu bisa hidup enak jika mau menikah dengan dia,"ujar Toyib panjang lebar.
"Kalau urusan cinta memang susah,"sahut Toyib menghela napas berat.
"Kamu juga, kamu 'kan ditaksir janda di perempatan jalan di kampung ini. Dia juga lumayan kaya. Kenapa kamu tidak menikah dengan dia saja? Kan cocok, janda ketemu duda,"ujar Dimas kemudian terkekeh.
"Hais, males aku sama dia. Ilfil. Dia itu janda gatel. Setiap ada kesempatan mau menempel seperti ulat bulu. Tatapan matanya itu nakal sekali. Pakaiannya juga horor. Kamu lihat sendiri, dia suka pakai tank top dan celana yang sangat pendek. Ngeri aku. Apalagi aku pernah melihat dia pergi dengan seorang pria dan mereka nampak mesra. Aku juga sering melihat ada beberapa pria yang datang ke rumah dia. Aku takut dia akan menjadi istri yang Setia, alias Setiap tikungan ada,"ujar Toyib bergidik ngeri membuat Dimas tertawa.
"Aku cuma bercanda. Aku juga tidak setuju jika kamu menikah dengan janda itu,"ujar Dimas.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu naksir sama dia?"tanya Toyib menaik turunkan sebelah alisnya dengan senyuman penuh arti.
"Enggak. Aku nggak naksir sama dia. Aku nggak ada rasa sama dia. Aku tidak setuju jika dia menjadi istrimu karena aku juga sependapat dengan kamu. Aku takut dia akan menjadi istri yang Setia, alias setiap tikungan ada,"sahut Dimas kemudian tertawa.
"Hais, ternyata kita berpikiran sama,"sahut Toyib,"Tapi aku heran, kenapa dia nggak naksir sama kamu, ya? Malah terkesan cuek sama kamu,"tanya Toyib penasaran. Pasalnya janda yang saat ini mereka bicarakan tidak pernah cari perhatian pada Dimas. Padahal Dimas adalah pria tertampan di kampung itu.
"Saat kita baru datang ke kampung ini, aku pernah memergoki dia lagi main kuda-kudaan di rumah kosong di ujung jalan sana dengan seorang anak SMU,"sahut Dimas yang memang pernah melihat janda yang mereka bicarakan bercinta dengan anak SMU dengan posisi berdiri di sebuah rumah kosong. Dimas memergoki mereka tepat pada saat mereka mengerang bersama karena mendapatkan pelepasan.
"Yang benar?"tanya Toyib dengan ekspresi tidak percaya.
"Bener. Aku memergoki mereka pas mereka lagi di puncak,"sahut Dimas serius.
"Hii.. ternyata dia benar-benar janda gatel,"ujar Toyib bergidik ngeri,"Ya sudah, aku mau mandi dulu,"pamit Toyib setelah melihat jam yang menempel di dinding menunjukkan pukul sembilan pagi.
"Titip salam buat kedua orang tuamu dan anakmu, ya!"ujar Dimas.
"Tenang saja! Nanti pasti akan aku sampaikan. Sudah ada sudah oleh-oleh satu kardus, masa iya aku tidak mau menyampaikan salam mu pada mereka,"ujar Toyib kemudian terkekeh.
"Dasar!"gumam Dimas menggelengkan kepalanya pelan dengan seulas senyum di bibirnya.
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
.
To be continued