SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
263. Melamar


__ADS_3

Semua orang berkumpul di belakang toko sembako milik Pak Parman. Di sana ada aula outdoor yang di bangun Diky cukup luas di lengkapi meja yang tidak terlalu tinggi hingga mirip dengan warung lesehan.


Para wanita nampak menyiapkan nasi, lalapan, sambal dan yang lainnya. Sedangkan para pria sedang membakar ayam dan ikan.


"Kak, kata Axell, Axell nggak suka, kok, sama Rengganis. Karena Axell juga akan diperkenalkan mama dan papa dengan putri rekan bisnis mama dan papa Buston,"ucap Dimas yang sedang memanggang ayam bersama Nando.


"Benarkah?"tanya Nando yang terlihat biasa saja.


"Aku yakin Axell nggak bohong, kak. Karena selama ini Axell nggak pernah bohong sama aku. Lagi pula, jika Axell suka sama Rengganis, dia pasti menyempatkan waktu untuk bertemu dengan Rengganis. Tapi setiap ada waktu senggang, Axell selalu menemui aku,"


"Tapi, sepertinya Rengganis tidak menyukai aku, Dim,"sahut Nando masih terlihat biasa saja. Tidak ada antusiasnya sama sekali.


"Kenapa kakak seperti tidak bersemangat mendekati Rengganis? Apa sebenarnya kakak memang tidak menyukai Rengganis?"tanya Dimas melirik Nando sekilas, lalu kembali menatap ayam yang dipanggangnya.


"Bukan seperti itu. Tapi aku takut dia mau bersamaku hanya karena merasa berhutang budi pada ku. Aku ingin mencari orang yang mencintai aku. Aku tidak ingin berjuang sendirian,"ujar Nando yang sudah malas mengejar-ngejar wanita.


Mendengar alasan Nando, Dimas pun tidak bisa bicara apa-apa lagi. Karena apa yang dikatakan Nando memang benar.


Jujur Nando tertarik pada Rengganis, tapi Nando merasa Rengganis menyukai Axell. Padahal semenjak Bening meninggal, hanya Rengganis lah satu-satunya gadis yang bisa menarik hati Nando. Tapi sayangnya Nando merasa gadis itu sepertinya tidak punya perasaan apa-apa pada Nando dan lebih dekat dengan Axell.


Karena itu Nando memilih fokus pada pekerjaannya dari pada mengejar orang yang tidak mencintai dirinya. Semenjak Bening meninggal, Nando tidak memikirkan masalah jodoh. Merasa trauma karena salah memilih pasangan. Takut salah lagi dalam memilih pasangan hidup yang malah membuat dirinya kecewa dan hatinya terluka.


Apalagi Ayana sedang mengandung, jadi Nando tidak terlalu memikirkan jodoh karena anak Ayana nanti akan menjadi generasi penerus keluarga mereka. Nando yakin, Ayana dan Dimas akan memiliki anak yang bisa di banggakan keluarga.

__ADS_1


"Tidak menikah pun tidak apa-apa. Anak Ayana dan Dimas juga anakku. Aku sudah cukup bahagia dengan keluarga yang aku miliki sekarang. Apalagi di tambah dengan keluarga dari Dimas dan para sahabat Dimas. Berkumpul seperti saat ini seperti memiliki sebuah keluarga besar yang hangat. Aku sudah merasa bahagia,"gumam Nando dalam hati.


Sedangkan Delvin juga ikut membantu memanggang. Delvin memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Semua terlihat saling berbincang dan tertawa bersama. Bahkan kedua orang tuanya juga terlihat bahagia dan akrab dengan semua orang yang ada di tempat itu. Dan Delvin tahu, jika semua orang itu menjadi kerabat karena Dimas, kakak yang tidak diakuinya. Pria yang selama ini di bencinya karena rasa iri dan dengki dalam hatinya.


Saat makan bersama, makanan sederhana yang tersaji pun terasa begitu nikmat. Padahal lauknya juga bukan makanan mewah yang harganya jutaan rupiah, tetapi makan dalam suasana kekeluargaan yang hangat lah yang menjadikan semuanya menjadi lebih nikmat.


"Oh, ya, Rengganis, kamu sudah punya pacar belum?"tanya Hilda setelah mereka selesai makan. Membuat atensi semua orang langsung tertuju pada Rengganis.


"Belum, Tan,"jawab Rengganis jujur.


"Kebetulan sekali kalau belum. Bu Ningsih, sebelumnya kita sudah pernah menjadi besan. Bagaimana kalau kita menjadi besan lagi? Kita nikahkan Nando dan Rengganis. Kamu mau nggak, Nis, jadi istrinya Nando?"tanya Hilda penuh senyuman.


"Kenapa mama malah melamar Rengganis di sini,"gumam Geno menghela napas panjang.


Mengingat jasanya yang telah banyak membantu Bu Ningsih dan Rengganis, Nando yakin jika Bu Ningsih dan Rengganis tidak akan menolak jika Nando melamar Rengganis. Tapi Nando tidak ingin Rengganis menikah dengan dirinya karena balas budi, apalagi karena terpaksa.


"Karena itu, mama bertanya lebih dulu pada Rengganis. Kalau Rengganis mau, mama akan menjadikan Rengganis sebagai menantu mama. Jika tidak mau, mama juga tidak memaksa, kok. Lagian mama lihat kamu suka sama Rengganis. Kalau kamu bilang nggak suka sama Rengganis, itu berarti kamu berbohong. Tapi sayangnya kamu tidak bisa membohongi mamamu ini,"ujar Hilda yang membuat Nando tidak bisa berkata-kata.


"Iya, Ndo. Kalau suka, langsung lamar saja. Axell juga mau kami pertemukan dengan seorang gadis. Kalau mereka cocok, kami juga akan segera menikahkan Axell,"sahut Liliana. Sedangkan Nando hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Liliana.


"Bagaimana Bu Ningsih, Rengganis?"tanya Hilda.


"Saya, sih, terserah Rengganis saja,"sahut Bu Ningsih yang sebenarnya merasa senang jika Rengganis menikah dengan Nando.

__ADS_1


Bu Ningsih tahu benar bagaimana Nando. Bagi Bu Ningsih, Nando adalah pria yang baik hati dan menantu idaman. Namun sayangnya dirinya tidak beruntung karena putrinya malah mengkhianati Nando.


"Saya terserah, ibu saja,"sahut Rengganis dengan wajah tertunduk.


"Kalau begitu, Bu Ningsih dan Rengganis diskusi saja dulu. Seminggu lagi, saya akan meminta jawabannya. Jika kalian mau menerima lamaran dari kami, kami akan melamar secara resmi,"sahut Hilda penuh senyuman.


"Iya. Kami akan mendiskusikannya,"sahut Bu Ningsih dengan seulas senyum.


Sesampainya di rumah, Bu Ningsih mengajak Rengganis untuk bicara. Ingin tahu apa Rengganis mau menikah dengan Nando atau tidak.


"Nis, bagaimana? Apa kamu menyukai Nak Nando? Kalau ibu, sih, sangat setuju jika kamu menikah dengan Nak Nando. Susah mencari suami yang baik di zaman sekarang. Menurut ibu, Nak Nando itu pria yang baik. Tanpa pamrih. Ibu sudah banyak menerima kebaikan dari Nak Nando. Bahkan kita bisa hidup nyaman seperti ini juga karena kebaikannya. Jika keluarga lain, mungkin ibu akan dibenci, mengingat bagaimana jahatnya putri ibu pada mereka. Namun mereka berbeda, mereka malah berbelas kasih pada ibu, memperlakukan ibu dengan baik dan sama sekali tidak membenci ibu. Ibu bahkan bingung harus bagaimana membalas kebaikan mereka. Ah, ibu jadi ngelantur. Soal lamaran mereka, semua keputusan terserah sama kamu. Karena yang akan menjalani hidup adalah kamu. Bukan ibu. Ibu hanya mengatakan apa yang ibu ketahui tentang Nak Nando sebagai bahan pertimbangan kamu untuk memutuskan menerima atau menolak lamaran mereka. Dan jika kamu menyukai orang lain, kamu tidak perlu menerima lamaran mereka karena merasa tidak enak hati karena mereka sudah banyak berjasa bagi kita. Ngomong-ngomong, kamu nampak akrap dengan Nak Axell. Tapi tidak dengan Nak Nando. Apa kamu menyukai Nak Axell?"tanya Bu Ningsih nampak menyelidik setelah bicara panjang lebar.


"Mana ada yang seperti itu, Bu. Aku hanya merasa berhutang budi pada kak Axell dan dia orangnya nyaman jika di ajak bicara. Aku tidak punya perasaan lebih padanya. Lagipula, dia anak orang kaya dan juga akan dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Mana berani aku menyukainya, Bu. Dan soal kak Nando, dia tidak banyak bicara, Bu. Jadi, aku merasa segan padanya,"sahut Rengganis jujur adanya.


"Itu karena kamu belum mengenalnya. Nak Nando itu banyak bicara jika sudah kenal. Kamu pikirkan saja dulu. Mau menerima atau menolak lamaran ini. Ya sudah. Ini sudah malam, sebaiknya kita tidur,"ujar Bu Ningsih kemudian beranjak pergi ke kamarnya.


"Mana mungkin aku menolak lamaran mereka. Aku gadis yatim-piatu sebatang kara yang di angkat anak oleh ibu. Diberikan kehidupan yang layak hingga aku tidak perlu bekerja keras seperti dulu. Dikuliahkan di universitas yang bagus. Dan kami bisa hidup seperti ini karena keluarga kak Nando. Bahkan kak Nando pernah menolong aku, mengeluarkan aku dari penjara dan membersihkan namaku. Jika saat itu tidak ada kak Nando, aku pasti masih mendekam di penjara. Dan setelah keluar dari penjara, embel-embel mantan narapidana akan menempel padaku. Orang-orang akan memandang rendah pada ku dan aku juga akan sulit untuk mencari pekerjaan. Dengan semua budi baik mereka pada ibu dan padaku, tidak mungkin aku menolak lamaran mereka. Lagipula, aku juga tidak memiliki perasaan pada siapapun. Jika menurut ibu, kak Nando adalah calon suami yang baik untukku, maka aku akan belajar mencintai kak Nando,"gumam Rengganis memutuskan.


...🌸❤️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2