SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
256. Curahan Hati


__ADS_3

Dimas terbangun saat merasa ingin buang air kecil. Setelah kembali dari kamar mandi, Dimas berniat menutup gorden jendela kamarnya yang sedikit tersingkap. Namun saat hendak merapikan gorden jendela kamarnya, pria itu mengernyitkan keningnya saat tanpa sengaja melihat seseorang berdiri tidak jauh dari jendela kamarnya.


"Itu.. bukannya, kak, Nando, ya?"gumam Dimas kemudian merapikan gorden kamarnya dan keluar dari kamarnya untuk menghampiri Nando.


"Kenapa kakak berdiri di sini sendirian malam-malam begini?"tanya Dimas yang membuat Nando terkejut.


"Kamu belum tidur?"tanya Nando tanpa menjawab pertanyaan Dimas.


"Aku terbangun karena ingin buang air kecil,"


"Apa kamu disiksa adikku?"tanya Nando, tertawa tanpa suara.


"Disiksa? Ayana tidak melakukan apapun padaku,"


"Haiss.. lihatlah lehermu! Tadi waktu makan malam, yang ini dan ini belum ada, tapi sekarang ada. Dia selalu saja melakukan hal seperti itu,"ucap Nando seraya menunjuk leher Dimas yang ada tanda baru. Karena kiss mark itu terlihat masih baru.


Dimas tersenyum bodoh sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Semenjak Ayana menggoda dirinya waktu itu, Dimas jadi ketagihan untuk melakukan aktivitas panas di atas ranjang bersama istrinya itu. Apalagi setiap hari Ayana memang selalu menggodanya untuk melakukan aktivitas panas di atas ranjang. Dengan cara memakai baju seksi, atau sengaja menyentuh bagian-bagian dari tubuhnya yang sensitif.


Walaupun setiap mereka bercinta Ayana selalu meninggalkan tanda di lehernya, tapi Dimas tidak mempermasalahkannya. Karena yang membuat tanda itu adalah istrinya sendiri.


"Kamu tahu, dari dulu Ayana memang selalu meninggalkan tanda di lehermu. Aku tidak tahu setiap hari kalian bercinta atau tidak. Tapi yang pasti, dia selalu membuat tanda baru di lehermu. Alasannya adalah agar tidak ada yang menggoda mu di luar sana. Dan konyolnya, kamu tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Padahal setiap hari kamu ke kantor dan bertemu banyak klien yang tentunya akan melihat tanda yang di buat Ayana di lehermu,"


"Ayana terlalu posesif padamu. Selama enam bulan aku membantu Ayana membersihkan tubuh kamu karena dia tidak ingin kamu di sentuh orang lain. Aku mana tega membiarkan adikku yang sedang mengandung melakukan pekerjaan berat untuk membersihkan tubuh kamu sendirian. Kami bahkan belajar bagaimana caranya membersihkan tubuh pasien yang dari menjalani operasi,"ujar Nando mengenang hari-hari saat Dimas terbaring koma.


"Maaf, aku telah membuat kalian repot, cemas dan khawatir karena aku,"ucap Dimas tulus.


"Kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Kita adalah keluarga. Sudah semestinya kita saling membantu dan menjaga. Kamu tahu, saat paling sedih dalam hidupku adalah saat kamu koma. Karena saat itu aku melihat adikku yang sedang mengandung harus menerima kenyataan bahwa suaminya koma dan harapan untuk sembuhnya kecil. Aku tahu, dia berusaha tegar walaupun hatinya rapuh. Hampir setiap malam dia bermimpi buruk karena takut kehilangan mu. Karena itu, kami menjaga kalian secara bergantian,"


"Selama enam bulan dia tidur di ruangan rawat kamu. Hanya pergi saat kuliah atau ada keperluan lain. Bahkan selalu tidur memeluk kamu. Hanya ketika kamu selesai operasi saja dia tidur di ranjang lain, karena takut jika tanpa sengaja membuat bekas operasi kamu terbuka karena dia,"

__ADS_1


"Aku, dan bahkan kami semua tidak yakin jika dia akan bertahan hidup jika kamu meninggal. Karena bagi Ayana, kamu adalah napasnya, semangatnya, cahaya hidungnya, dunianya, dan segala-galanya. Kebahagiaan Ayana tergantung padamu, Dim. Intinya, dia sangat mencintai kamu lebih dari apapun. Jadi, kamu harus selalu sehat untuk menjaganya dan anak kalian,"


"Iya, kak. Aku akan menjaga mereka sebaik mungkin. Tapi, ngomong-ngomong, kenapa kakak belum tidur?"


"Apa kamu bisa menjadi pendengar curahan hatiku?"tanya Nando dengan wajah yang terlihat gamang.


"Jika kakak percaya padaku, aku akan mendengarnya,"


Nando berjalan ke arah kursi panjang yang ada di taman, lalu duduk di sana. Dimas pun mengikuti Nando dan duduk di sebelah Nando.


"Aku ingin mengungkapkan bagaimana sebenarnya perasaan ku terhadap Rengganis. Waktu itu, Bu Ningsih menghubungi aku dan meminta bantuan padaku untuk mengeluarkan Rengganis dari penjara. Pertama kali bertemu dengan Rengganis, aku merasa iba padanya karena waktu itu dia ditangkap polisi karena dijebak seniornya yang memasukkan obat terlarang di tasnya. Sejak saat itu, kami beberapa kali bertemu karena dia menemani Bu Ningsih untuk menjenguk kamu di rumah sakit. Dan entah kenapa aku menyukainya. Tapi, aku enggan untuk mendekati dia, apalagi untuk mengungkapkan perasaan suka ku padanya,"


"Kenapa? Jika kakak menyukai dia, kenapa kakak enggan untuk mendekati dia?"


"Aku enggan mendekati dia karena aku melihat dia nampak tertarik pada Axell. Sedangkan Axell sepertinya juga menaruh rasa pada Rengganis, tapi aku merasa Axell dan Rengganis seperti sungkan padaku. Axell dan Rengganis tidak terlalu banyak bicara saat aku ada bersama mereka. Sedangkan saat aku tidak ada, mereka nampak akrab. Aku tidak tahu, apa yang menyebabkan Axell dan Rengganis nampak sungkan kepadaku. Apakah karena aku adalah kakak iparmu, ataukah karena alasan lain, aku tidak tahu,"ujar Nando jujur.


"Jadi, kakak tidak ingin mendekati apalagi melamar dan menjadikan Rengganis sebagai pendamping hidup?"


"Percayalah! Suatu saat, kakak akan bertemu dengan orang mencintai kakak,"


"Aku harap begitu. Terimakasih atas motivasi nya. Dan terimakasih karena sudah mau mendengarkan curahan hatiku. Terkadang, aku ingin menjadi amnesia seperti kamu agar tidak banyak yang harus aku pikirkan,"ucap Nando kemudian terkekeh kecil.


"Menjadi amnesia seperti aku juga tidak enak, kak. Ada perasaan kosong dan hampa karena tidak bisa mengingat masa lalu,"sahut Dimas.


"Benarkah? Huff.. hidup memang rumit dan serba salah. Ya, sudah, gih! Balik ke kamar kamu sana! Takutnya Ayana terbangun karena mimpi buruk lagi,"


"Apa sering sekali Ayana bermimpi buruk?"


"Hum, hampir setiap hari. Kami sangat sedih melihat dia seperti itu. Bangun mendadak dengan wajah pucat pasi karena ketakutan dan menangis. Bahkan seringkali histeris,"

__ADS_1


"Sampai seperti itu?"tanya Dimas dengan ekspresi yang sulit dibaca.


"Semenjak kamu sadar, dia memang tidak lagi bermimpi buruk seperti itu lagi. Tapi, tetap saja kita tidak boleh meninggalkan dia sendirian. Dia saat ini sedang mengandung besar. Jadi, kita harus selalu menjaga dia,"sahut Nando mengingatkan Dimas.


"Iya, kakak benar,"


"Kembalilah ke kamar kamu! Aku juga akan ke kamar ku,"


"Iya, kak,"


Akhirnya kedua pria itu masuk ke kamar mereka masing-masing. Nando merasa lebih lega setelah bercerita pada Dimas. Sedangkan Dimas merasa semakin bersalah pada Ayana setelah mengetahui jika Ayana sering bermimpi buruk karena dirinya.


"Kakak!"panggil Ayana saat melihat Dimas masuk ke dalam kamar. Wanita hamil itu terbangun bertepatan dengan Dimas masuk ke dalam kamar. Ayana terbangun karena tidak merasakan keberadaan Dimas di sampingnya.


"Aku dari luar sebentar. Ayo, tidur lagi!"ucap Dimas seraya naik ke atas ranjang. Mengecup bibir Ayana beberapa kali.


"Apa kakak masih ingin lagi?"tanya Ayana seraya mengusap leher Dimas.


"Tidak. Kita tidur lagi, ya!"ucap Dimas yang takut Ayana kelelahan jika melakukannya lagi. Walaupun tubuh Dimas terasa meremang saat Ayana mengusap lehernya.


Ayana tidak mendengarkan perkataan Dimas, tapi malah meraih tengkuk Dimas dan mencium bibir Dimas dengan agresif.


"Aku ingin lagi,"ucap Ayana dengan napas tidak teratur.


Dimas menelan salivanya kasar saat dengan sengaja Ayana membuka selimut yang menutupi tubuh polosnya. Karena setelah bergulat panas dengan Dimas tadi, Ayana belum memakai pakaiannya lagi.


Dimas pun akhirnya kembali tergoda oleh Ayana dan mereka pun mengulangi kegiatan panas mereka tadi.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2