
"Tok! Tok! Tok!"
Suara ketukan di pintu membuat Dimas mengusap wajahnya kasar,"Pakai baju kamu, Ay!"ucap Dimas seraya turun dari atas tubuh Ayana.
"Kakak mau kemana?"tanya Ayana yang bergegas memakai bajunya,"Biar aku saja yang buka pintunya,"ujar Ayana. Sedangkan pintu kamar masih terus di ketuk dari luar.
"Baiklah,"sahut Dimas dengan wajah lesu beranjak ke kamar mandi.
Ayana bergegas membuka pintu kamarnya dan hatinya benar-benar dongkol saat melihat siapa yang saat ini berada di depannya. Tidak lain tidak bukan adalah mantan pacar suaminya, yaitu Bening.
"Ada apa, kak?"tanya Ayana berusaha bersikap biasa saja.
"Aku dapat kado makanan khas daerah. Aku ingin membaginya dengan kamu,"ucap Bening tersenyum tipis, senyum yang nampak dipaksakan. Karena melihat rambut Ayana yang agak acak-acakan dan baju piyama Ayana yang kancing nya salah pasang. Hingga panjang baju yang kiri dan kanan tidak sama. Bening melirik ke dalam kamar tapi tidak mendapati Dimas di dalam kamar, hanya melihat ranjang yang terlihat acak-acakan.
"Terimakasih, kak! Kalau begitu aku tutup pintunya, ya, kak? Aku sudah mengantuk,"ucap Ayana meraih paper bag yang di sodorkan Bening, kemudian menutup pintu kamarnya tanpa menunggu jawaban dari Bening.
Bening nampak kesal dengan perlakuan Ayana. Dengan wajah cemberut, Bening melangkah kembali ke kamarnya.
"Dari ngapain mereka berdua? Ayana nampak acak-acakan dan ranjang juga acak-acakan. Dasar anak kecil kegatelan! Masih sekolah juga sudah ngebet kawin,"gerutu Bening dengan wajah kesal.
Sedangkan di dalam kamar Ayana, gadis itu meletakkan paper bag yang diberikan oleh Bening di atas meja.
"Dasar perempuan gatel! Ulat bulu!Sudah punya suami juga masih melirik suami orang,"gerutu Ayana merasa kesal karena tadi melihat Bening yang nampak melirik ke dalam kamar. Ayana menduga kalau perempuan itu pasti ingin melihat suaminya. Kemudian Ayana melirik ke arah kamar mandi,"Kakak lama sekali di dalam kamar mandi,"gumam Ayana kemudian duduk bersandar di headboard ranjang seraya memainkan handphonenya.
Beberapa menit kemudian, Dimas keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat lesu.
"Kakak lama sekali di kamar mandi. Aku sudah mengantuk,"ujar Ayana meletakkan handphonenya di atas nakas.
__ADS_1
"Siapa yang mengetuk pintu tadi, Ay?"tanya Dimas tanpa menjawab pertanyaan Ayana, merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Mantan pacar kakak. Kayaknya belum puas menatap kakak, makanya mencari alasan untuk datang ke kamar ini agar bisa melihat kakak,"jawab Ayana kesal, langsung ikut berbaring di samping Dimas. Merebahkan kepalanya di lengan Dimas, lalu memeluk pinggang Dimas.
Dimas tidak menanggapi kata-kata Ayana. Pria itu hanya diam seraya mengelus kepala Ayana.
"Kenapa kakak putus dengan dia?"tanya Ayana.
"Tidurlah! Sudah malam!"ucap Dimas yang tidak ingin membahas soal Bening.
"Kakak selalu saja begitu. Kakak tidak pernah menjawab pertanyaan ku,"ketus Ayana seraya melepaskan pelukannya pada Dimas dan beringsut menjauh dari Dimas.
Dimas menghela napas panjang menatap istrinya yang berbaring membelakanginya itu.
"Ay, jangan ngambek lagi, dong! Kita baru saja baikan, Ay,"ujar Dimas seraya mendekati istrinya yang masih labil itu. Gadis itu berbaring membelakangi Dimas.
"Kakak selalu saja menghindar jika aku bertanya pada kakak. Apa susahnya menjawab pertanyaan aku, agar aku tidak salah paham pada kakak. Aku hanya ingin tahu semua tentang kakak. Aku tidak ingin ada yang disembunyikan di antara kita,"ucap Ayana dengan wajah cemberutnya.
Setelah tahu jika Dimas juga mencintai dirinya, Ayana tidak lagi menahan diri untuk mengungkapkan apa yang ada di hatinya pada Dimas.
"Maaf! Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya tidak ingin mengingat kembali kenangan pahit di masa lalu. Tapi jika hal itu membuatmu merasa tidak nyaman, aku akan menceritakan semuanya pada kamu. Aku tidak akan menyembunyikan apapun lagi dari kamu,"ucap Dimas.
Pria itu akhirnya menceritakan bagaimana pertemuannya dengan Bening pertama kalinya. Bagaimana mereka akhirnya menjadi sepasang kekasih, hingga akhirnya Bening meninggalkan dirinya dalam keterpurukan nya. Dimas juga menceritakan tentang kedua orang tuanya, memberitahu Ayana apa pendidikan terakhirnya, pernah bekerja di mana. Bahkan tentang uang yang Dimas dapatkan dari orang kaya yang ditolongnya waktu itu dan pekerjaan nya sekarang, serta berapa harta yang dimilikinya saat ini. Dimas juga mengatakan pada Ayana bahwa dirinya ingin hidup sederhana karena tidak ingin banyak orang yang tahu tentang harta yang dimilikinya. Dimas tidak ingin Ayana dicelakai orang seperti Bening dulu karena kekayaan yang dimilikinya.
"Sudah, aku sudah menceritakan semuanya padamu. Tidak ada lagi yang aku sembunyikan lagi dari kamu. Sekarang tidurlah! Ini sudah larut. Aku tidak ingin kamu sakit karena kurang tidur,"ucap Dimas.
"Jadi kakak adalah orang kaya? Kakak pura-pura miskin?"tanya Ayana setelah Dima menceritakan semuanya.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu ingin aku membelikan kamu apa? Rumah yang mewah? Mobil mewah? Apa yang kamu inginkan?Aku akan membelikannya untuk kamu. Katakan saja apa keinginan kamu. Asal aku mampu, aku akan membelikannya untuk kamu,"tanya Dimas serius. Walaupun seberapa Dimas ingin hidup sederhana. Tapi jika Ayana ingin hidup seperti orang kaya lainnya, Dimas tidak bisa apa-apa selain menurutinya.
"Tidak. Aku tidak ingin apa-apa. Aku suka di antar kakak ke sekolah naik motor. Aku suka di jemput Bu Nur yang selalu menganggap aku seperti putrinya sendiri. Aku akan tetap hidup sederhana bersama kakak. Aku sudah nyaman hidup bersama kakak dan Abang yang menyayangi aku,"ucap Ayana memeluk Dimas erat.
"Gadis baik,"ucap Dimas mengangkat dagu Ayana kemudian mengecup bibir Ayana beberapa kali,"Terimakasih telah hadir dalam hidupku,"ucap Dimas kembali mengecup bibir Ayana beberapa kali, kemudian memeluk Ayana erat dengan penuh rasa syukur karena gadis itu tetap mau hidup sederhana bersama dirinya.
"Aku tidak ingin kakak menunjukkan bahwa kakak kaya. Kakak terlihat tidak kaya saja, aku banyak saingan, apalagi kalau pada tahu kakak kaya. Aku tidak mau pusing menyingkirkan ulat bulu yang ingin menempel pada kakak,"ujar Ayana dalam dekapan Dimas.
Dimas tersenyum mendengar kata-kata Ayana,"Yakinkan dirimu, hatiku hanya milikmu,"ucap Dimas mengecup lembut puncak kepala Ayana.
"Aku mencintai kakak,"ucap Ayana kemudian mendongakkan kepalanya dan meraih tengkuk Dimas. Gadis itu mengarahkan bibirnya ke arah leher Dimas, lalu menyesap leher Dimas.
"Ay, jangan memancing aku lagi!"ucap Dimas karena tubuhnya kembali meremang saat Ayana menyesap lehernya.
Ayana menjauhkan bibirnya dari leher Dimas setelah berhasil membuat tanda di leher Dimas. Gadis itu kemudian menatap wajah suaminya.
"Aku hanya membuat stempel di leher kakak, agar semua orang tahu kalau kakak sudah ada yang punya,"ucap Ayana tanpa dosa, tersenyum lebar menunjukkan deretan gigi putih bersihnya pada Dimas.
Tanpa sadar telah membuat hasrat Dimas untuk bercinta bangkit lagi. Sedangkan Dimas hanya bisa menghela napas panjang mengahadapi tingkah istri kecilnya itu.
"Tidurlah!"ucap Dimas kembali mencium bibir Ayana beberapa kali, kemudian mendekap tubuh Ayana.
"Besok aku akan memasak untuk kakak,"ucap Ayana kemudian memejamkan matanya, memeluk erat tubuh suaminya.
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued