SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
73. Hina Tapi Mulia


__ADS_3

"Oh ya, Dim, kamu lulusan apa?"tanya Geno nampak serius.


"Memangnya kenapa, pa?"tanya Dimas tanpa menjawab pertanyaan Geno.


"Papa ingin mengajak kamu bekerja di perusahaan papa,"sahut Geno.


"Terimakasih atas maksud baik papa. Tapi aku lebih suka bekerja sebagai sales pakaian keliling seperti sekarang. Jika bekerja di perusahaan, aku merasa terikat oleh aturan. Tidak bisa bebas seperti pekerjaan aku sekarang ini,"tolak Dimas secara halus.


"Paling juga cuma lulusan SMP, mentok-mentok lulusan SMA. Makanya nggak minat untuk bekerja di perusahaan papa,"cibir Hilda dengan ekspresi meremehkan. Geno hanya bisa menghela napas mendengar kata-kata istrinya.


Mendengar kata-kata Hilda, wajah Ayana pun terlihat suram, tanpa sadar mencengkram lengan Dimas. Dimas yang merasa lengannya di cengkram pun mengelus lengan Ayana, sehingga Ayana tersadar telah mencengkram lengan suaminya.


"Maaf!"ucap Ayana lirih menatap Dimas dengan rasa bersalah. Dimas hanya menggeleng pelan seraya tersenyum tipis pada Ayana. Dimas tahu, Ayana pasti tidak suka saat mamanya menghina suaminya.


"Jika kamu tidak suka, papa tidak bisa memaksa. Tapi jika kamu berubah pikiran, kamu bilang saja sama papa,"ucap Geno.


"Terimakasih, pa,"sahut Dimas.


"Toyib, kamu lulusan apa?"tanya Geno.


"Saya cuma lulusan SMA, Om,"sahut Toyib menyengir bodoh.


"Kalau berminat, boleh bekerja di perusahaan, Om,"ucap Geno.


"Terimakasih, Om. Aku juga sama seperti Dimas. Aku tidak suka bekerja yang terikat aturan, Om. Soalnya, aku susah bangun pagi,"sahut Toyib kemudian terkekeh.


"Ya sudah kalau kalian nggak mau. Kalau begitu, papa pamit pulang. Jika ada waktu, menginap lah di rumah, Dim,"ujar Geno.


"Iya, pa,"sahut Dimas.


Akhirnya Geno dan Hilda pun meninggalkan rumah kontrakan Dimas. Walaupun sedikit kecewa karena Dimas tidak mau menerima tawarannya untuk bekerja di perusahaannya, tapi Geno menghargai keputusan Dimas..


"Kak, aku mau mandi dulu,"ucap Ayana setelah Geno dan Hilda pulang.


"Jangan mandi pakai air dingin, Ay!"ucap Dimas mengingatkan.

__ADS_1


"Iya, kak,"sahut Ayana, kemudian merebus air untuk mandi.


"Kenapa kamu tidak mau bekerja di perusahaan mertua kamu, Dim?"tanya Toyib.


"Aku malas, Yib. Aku sudah nyaman dengan pekerjaanku sekarang. Dulu aku tidak yakin bisa membahagiakan Ayana. Tapi sekarang, aku yakin dengan apa yang aku miliki saat ini, aku akan bisa membahagiakan Ayana. Tidak perlu bekerja di perusahaan papa. Jika bekerja di perusahaan papa, aku takut kak Nando akan membenci aku,"sahut Dimas.


"Iya, juga, sih. Sepertinya kakak ipar kamu itu tidak suka sama kamu. Tapi kalau kakak iparmu dan ibu mertua kamu tahu apa yang kamu miliki, mereka tidak akan berani menghina kamu lagi, Dim,"ujar Toyib yang tahu benar saat ini Dimas tidak lagi mengandalkan hidup dari berjualan pakaian keliling, tapi dari jual beli saham melalui handphonenya. Karena itulah Dimas selalu fokus pada layar handphonenya.


"Biar saja mereka menghinaku. Tidak masalah. Lebih baik seperti kera, tapi hati raja. Dari pada seperti raja tapi hati kera,"sahut Dimas.


"Maksudnya?"tanya Toyib tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Dimas.


"Maksudnya, biarlah terlihat hina, tapi sebenarnya mulia, dari pada terlihat mulia tapi sebenarnya hina. Itu kata-kata bijak yang suka dikatakan oleh orang-orang Ogan Komering ulu, daerah Palembang,"sahut Dimas.


"Iya juga, ya. Kata-kata itu benar-benar bijak. Lebih baik terlihat hina tapi aslinya mulia dari pada terlihat mulia tapi aslinya hina,"sahut Toyib setuju.


Sebenarnya, satu minggu sebelum menolong Ayana yang hampir dilecehkan tiga orang preman, Dimas menyelamatkan satu keluarga pengusaha kaya yang mengalami kecelakaan di jalan raya. Dimas mengeluarkan empat orang yang ada di dalam mobil yang baru saja mengalami kecelakaan. Dan tepat setelah Dimas mengeluarkan satu keluarga itu, mobil yang ditumpangi keluarga itu meledak. Bahkan Dimas mendonorkan darahnya pada keluarga pengusaha kaya itu.


Sebagai tanda terimakasih, keluarga kaya itu memberikan uang sejumlah seratus milyar pada Dimas. Semua uang yang di dapatkan Dimas itu Dimas gunakan untuk membeli saham melalui smart phone nya. Jadi, bekerja sebagai sales pakaian keliling itu, saat ini hanya dijadikan Dimas pekerjaan sampingan saja.


Bahkan melalui Dimas, Toyib juga ikut membeli saham. Dan keuntungannya juga lumayan besar karena pintarnya Dimas dalam masalah jual beli saham. Toyib hanya terima keuntungan tanpa tahu bagaimana Dimas mengelola uang yang dititipkannya pada Dimas. Istilah lainnya, saat ini profesi sebagai sales pakaian keliling bukanlah pekerjaan utama mereka. Terutama bagi Dimas.


Setelah enam bulan lebih berkecimpung dalam jual beli saham, Dimas mendapatkan keuntungan yang sangat besar. Bukan hal yang sulit bagi Dimas saat ini untuk membeli sebuah rumah mewah dengan kekayaan yang dimilikinya saat ini. Hanya saja, Dimas lebih suka hidup sederhana di lingkungan padat penduduk seperti saat ini. Tidak ingin orang-orang tahu tentang harta yang dimilikinya saat ini.


Karena dulu, karir Dimas hancur akibat rasa iri dari temannya sendiri. Iri karena ketampanan Dimas, karir Dimas, dan iri karena orang yang dicintainya lebih memilih Dimas. Karena itu teman Dimas memaksa Dimas mengakui telah melakukan korupsi dengan mengancam akan melecehkan pacar Dimas secara bergilir.


*


Dimas masuk kedalam kamar setelah selesai mandi. Pria itu naik ke atas ranjang, dimana Ayana berbaring membelakanginya.


"Belum tidur?"tanya Dimas saat Ayana membalikkan tubuhnya menghadap Dimas.


"Aku menunggu kakak,"sahut Ayana langsung merebahkan kepalanya di lengan Dimas.


"Apa lelah?"tanya Dimas.

__ADS_1


"Lelah. Tapi hari ini aku sangat bahagia,"sahut Ayana memeluk Dimas dengan seulas senyum. Namun tiba-tiba gadis itu menengadahkan kepalanya menatap suaminya,"Kenapa kakak bertanya aku lelah atau tidak? Apa kakak ingin...."Ayana menggantung kata-katanya.


"Ingin apa? Hemm?"tanya Dimas kemudian mengecup bibir Ayana beberapa kali,"Kita tidak punya foto pernikahan. Apa kamu mau jika kita melakukan pemotretan agar kita memiliki foto pernikahan?"tanya Dimas dengan jari jempol yang mengusap pipi Ayana lembut.


"Aku mau,"jawab Ayana cepat.


"Baiklah. Kalau begitu besok kita ke studio foto,"ucap Dimas tersenyum pada Ayana.


"Terimakasih, kak!"ucap Ayana tiba-tiba meraih tengkuk Dimas dan mencium Dimas beberapa kali. Dimas sempat terkejut dengan reaksi Ayana, tapi sesaat kemudian menyambut setiap kecupan bibir Ayana. Saat Ayana ingin menyudahi ciumannya, Dimas malah menahan tengkuk Ayana dan memagut bibir Ayana.


Ayana membalas pagutan bibir Dimas, mengimbangi ciuman Dimas. Ada gelennyar aneh yang terasa menjalar di seluruh tubuh mereka setiap kali bibir mereka saling bertautan, saling menyesap, mengulum, menggigit kecil, dan saling membelit lidah. Dimas menyudahinya ciumannya, mengusap bibir Ayana yang basah.


"Tidurlah! Kamu tidak ingin, 'kan, besok pagi matamu seperti panda?"tanya Dimas.


"Hum,"sahut Ayana,. kemudian memeluk Dimas.


"Apa kamu tidak malu memiliki suami seorang sales pakaian keliling seperti aku?"tanya Dimas.


"Tidak. Aku tidak perduli kakak bekerja apa, yang penting pekerjaan kakak halal,"sahut Ayana tanpa keraguan.


"Tidak ingin tinggal di rumah mewah?"tanya Dimas ingin mengetes Ayana.


"Dimanapun kita tinggal, tidak masalah bagiku. Asalkan kakak selalu bersama ku. Kakak tidak akan meninggalkan aku, 'kan?"tanya Ayana menatap Dimas sendu.


"Tentu saja aku akan meninggalkan kamu,"


...🌟"Lebih baik dipandang hina tapi mulia, dari pada dipandang mulia tapi nyatanya hina."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2