
Setelah berdiskusi lebih lanjut, akhirnya hari dimana Diky akan melamar sudah ditentukan. Hilda di bantu Ayana mempersiapkan segala sesuatu untuk acara lamaran Diky. Bahkan sepasang cincin berlian pun sudah di beli.
Dan disinilah mereka berkumpul saat ini. Di rumah Geno. Semua barang untuk lamaran sudah di masukkan ke dalam mobil dan mereka pun siap-siap untuk berangkat.
Bening yang malam itu baru pulang setelah dari siang melayani lima orang pria yang menjadikan dirinya budak ranjang pun heran saat mobilnya yang hendak masuk ke pekarangan rumah mertuanya berpapasan dengan mobil Geno dan Nando.
"Apa papa dan Nando pergi? Mau kemana mereka malam-malam begini? Kenapa membawa dua mobil?"gumam Bening yang tidak bisa melihat siapa yang ada di dalam mobil karena kaca mobil yang di tutup.
Bening memarkirkan mobilnya di garasi, lalu bergegas masuk ke dalam rumah dan mencari salah seorang pelayan di rumah itu.
"Hei! Kamu! Kemari!"panggil Bening dengan angkuhnya pada seorang pelayan yang melintas.
"Ada apa, non?"tanya pelayan itu.
"Apa suamiku pergi?"tanya Bening.
"Iya. Semua orang pergi untuk melamar gadis yang disukai Tuan Diky,. Dari tadi siang Tuan dan nyonya sudah menyiapkan semua hadiah lamaran untuk gadis yang ingin dilamar Tuan Diky,"sahut pelayan itu.
"Semua orang? Melamar gadis untuk Diky?"tanya Bening memastikan.
"Iya,"sahut pelayan itu.
"Siapa gadis yang hendak dilamar oleh Diky?"tanya Bening.
"Saya tidak tahu, non,"sahut pelayan itu yang sebenarnya malas meladeni Bening.
"Ck. Tidak berguna,"gerutu Bening merasa kecewa dengan jawaban pelayan itu.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Bening berlalu meninggalkan pelayan itu menuju kamarnya. Wajah wanita itu terlihat kesal.
"Cih, kalau tidak sedang mengandung anak Tuan Nando, dia pasti sudah di tendang dari rumah ini. Cuma menantu yang tidak di anggap aja sombong nya melebihi nyonya rumah,"gerutu pelayan itu menatap Bening kesal.
Semua pelayan dirumah itu memang tidak suka pada Bening yang sombong dan rewel pada apapun yang di buatkan pelayan untuk dirinya. Sehingga para pelayan di rumah itu membenci Bening. Apalagi saat mengetahui Nando sudah tidak mencintai Bening lagi dan mereka sudah pisah kamar beberapa bulan terakhir ini.
Bening berjalan menuju kamarnya dengan perasaan kasal,"Cih, mereka benar-benar sudah tidak menganggap aku lagi. Aku adalah ibu dari calon penerus keluarga ini. Mereka mempersiapkan lamaran untuk gadis yang di sukai Diky di rumah ini. Dan pergi tanpa mengajak aku,"gerutu Bening merasa kesal.
Namun tiba-tiba terbit senyum licik di wajah Bening,"Semua orang pergi. Bukankah ini kesempatan ku untuk mencari barang berharga? Nenek tua itu mempunyai koleksi perhiasan yang banyak dan mahal. Aku rasa, dia tidak akan menyadari jika aku mengambil beberapa buah perhiasan miliknya,"gumam Bening tersenyum jahat.
Bening kemudian mengendap-endap menuju kamar Hilda dan Geno. Bening masuk ke dalam kamar itu dan menggeledah kamar Hilda untuk mencari perhiasan koleksi Hilda. Dari laci nakas dan juga lemari pakaian. Karena lemari sepatu dan tas Hilda ternyata di kunci. Sehingga Bening tidak bisa membuka lemari itu. Bening berusaha mencari kunci lemari tas dan sepatu milik Hilda ke seluruh ruangan, tapi tidak menemukan kunci apapun di kamar itu.
"Shiitt! Aku tidak dapat menemukan kunci lemari itu. Aku rasa, nenek tua itu menyimpan semua perhiasan nya di laci lemari tas dan sepatu yang cukup besar itu,"gumam Bening yang melihat laci yang lumayan besar di dalam lemari tas dan sepatu itu.
"Aku akan mencari barang berharga di kamar Nando saja kalau begitu. Siapa tahu orang cacat sialan itu memiliki barang berharga,"gumam Bening kemudian mengendap-endap ke kamar Nando.
__ADS_1
Bening berusaha mencari barang apapun yang kira-kira berharga dan bisa di jadikan uang. Namun Bening juga tidak mendapatkan apapun di kamar Nando.
"Shiitt! Mereka menyimpan rapat barang-barang berharga mereka. Aku tidak bisa menemukan barang berharga apapun yang bisa aku jadikan uang,"gerutu Bening merasa kesal.
Sementara itu, rombongan Diky baru saja memarkirkan mobil di depan rumah Pak Parman. Dan hal itu sukses membuat atensi semua tetangga Pak Parman tertuju pada dua mobil mewah itu. Banyak warga yang akhirnya ramai berkumpul di sekitar rumah Pak Parman. Maklum, orang kampung memang kemaks, alias kepo maksimal.
"Mobil siapa itu yang berhenti di depan rumah Pak Parman?"
"Mobilnya mewah sekali,"
"Siapa, ya, yang di dalam mobil itu?"
Kasak-kusuk tetangga Pak Parman yang jarang sekali melihat mobil mewah masuk ke kampung mereka. Mobil janda terkaya di kampung mereka pun kalah mewah dengan kedua mobil itu.
Perhatian mereka semakin terpusat saat orang-orang di dalam mobil itu keluar. Geno dan Nando yang memakai kruk sebagai alat bantu untuk berjalan menjadi perhatian mereka. Apalagi saat melihat Dimas, Toyib dan Ayana yang di kenali oleh mereka juga keluar dari dalam mobil. Belum lagi Ayana yang nampak bergelayut manja di lengan Dimas yang sudah lama tidak mereka lihat berjualan pakaian keliling di kampung mereka.
"Siapa dua orang pria yang memakai kruk itu?"
"Wanita paruh baya itu masih cantik,"
"Eh, itu bukannya Ayana keponakan Pak Parman itu, ya?"
"Eh, itu bang Toyib dan kak Dimas,"
"Eh, lihat itu! Ayana nampak mesra sekali dengan kak Dimas,"
"Bukannya selama ini suka di anatar jemput sama Bang Toyib ke rumah Pak Parman, ya? Aku sangka, Ayana pacaran sama bang Toyib. Tapi ini, kok, kelihatan mesra banget sama kak Dimas?"
"Eh, kok, mereka seperti mau melamar, ya?"
"Iya. Lihat itu! Mereka membawa barang bawaan yang mirip hadiah untuk lamaran,"
Kasak-kusuk para warga kampung yang semakin ramai. Dan Keramaian warga kampung di depan rumah itu pun membuat Pak Parman dan Bu Lastri yang berada di dalam kamar jadi terusik.
"Kok, di depan kayak nya ramai sekali, ya, Bu?"tanya Pak Parman.
"Iya, Pak. Coba kita lihat! Ada apa di depan, kenapa ramai sekali?"sahut Bu Lastri.
Sedangkan Wulan yang berada di dalam kamar mendengarkan lagu memakai earphone pun tidak menyadari jika di depan rumahnya saat ini ramai oleh rombongan Diky yang mau melamar dan warga sekitar yang sangat kepo dengan kehadiran rombongan Diky itu.
Pak Parman dan Bu Lastri bergegas menuju ke pintu depan rumah mereka. Karena merasa sangat penasaran mendengar suara ramai para warga yang ada di depan rumah mereka.
"Ceklek"
__ADS_1
"Assalamu'alaikum!"
Ucap Geno dan Hilda yang saat akan mengetuk pintu, tapi pintu itu malah sudah terbuka duluan.
"Wa'alaikumus salam!"
Sahut Pak Parman dan Bu Lastri bersamaan. Sepasang suami-isteri itu terlihat sangat terkejut saat membuka pintu dan melihat Geno dan Hilda yang tentunya tidak mereka kenali.
"Bapak, ibu!"suara cempreng Ayana itu mengalihkan atensi Pak Parman dan Bu Lastri pada Geno dan Hilda.
"Ayana?"ucap Pak Parman dan Bu Lastri bersamaan.
"Bapak, ibu, ini mama dan papaku, dan juga kakakku,"ujar Ayana memperkenalkan keluarganya.
"Eh, mari. mari.. semuanya masuk! Maaf, rumah kami kecil,"ucap Pak Parman ramah setelah mengetahui siapa tamunya.
Pria paruh baya yang hanya memakai sarung dan kaos singlet itu merasa malu karena kedatangan tamu, tapi dirinya malah penampilan seperti itu. Sedangkan Bu Lastri hanya memakai daster berlengan pendek.
"Ay, bapak pakai baju dulu, ya? Malu ini,"ucap Pak Parman tersenyum bodoh karena malu.
"Iya, Pak,"sahut Ayana.
Pak Parman bergegas masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya. Sedangkan Bu Lastri bergegas ke dapur untuk membuat minuman.
"Kak, bantuin ambil kursi tambahan buat duduk, dong!"pinta Ayana pada Dimas karena kursi untuk duduk tidak cukup untuk mereka semua.
"Yib, kita ambil kursi panjang di teras aja, yuk!"ajak Dimas.
"Ayo!"sahut Toyib dan Diky pun ikut membantu.
Tak lama kemudian, Pak Parman sudah keluar memakai kemeja, dan celana panjang.
"Kok, nggak bilang kalau mau datang ramai-ramai, Ay? Bapak, 'kan bisa siap-siap untuk menyambut dan ibu bisa bikin kue alakadarnya,. Ini tadi, bapak malah cuma pakai sarung dan singlet doang. Malu, Ay,"ujar Pak Parman tidak enak hati.
"Kejutan, pak,"sahut Ayana tersenyum cerah.
"Santai saja, Pak. Namanya juga nggak tahu,"sahut Geno tersenyum ramah.
Bu Lastri nampak masuk ke ruangan tamu membawa minuman. Ayana pun membantu wanita paruh baya itu meletakkan minuman itu.
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued