SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
28. Trauma


__ADS_3

"Gleb"


Tiba-tiba lampu padam, sedangkan hujan turun semakin deras, keadaan menjadi gelap gulita. Hanya ada cahaya saat kilat dan petir menyambar saling bersahutan. Sedangkan suara kilat dan petir yang menggelegar terasa memekakkan telinga.


"Ayana. Apa dia baik-baik saja?"gumam Dimas yang entah mengapa langsung teringat dengan Ayana. Tidak mendengar suara gelas yang pecah di kamar Ayana karena derasnya hujan. Dengan senter dari handphonenya, Dimas berjalan menuju kamar Ayana.


"Ay! Ay! Ay!"teriak Dimas sambil mengetuk pintu kamar Ayana, karena jika tidak berteriak suaranya tidak akan terdengar karena derasnya hujan. Entah mengapa Dimas merasa khawatir pada Ayana.


"Dim!"teriak Toyib dengan menyalakan senter di handphonenya.


"Yib, kamu nyalain lampu emergency! Aku mau melihat Ayana. Aku khawatir padanya,"teriak Dimas dan Toyib pun mengangguk.


Toyib segera mengambil lampu emergency dan menyalakannya di beberapa ruangan. Sedangkan Dimas langsung masuk ke kamar Ayana yang kebetulan tidak di kunci. Dimas mengarahkan senternya keatas ranjang, tapi tidak melihat Ayana ada di sana. Dimas menjadi panik dan mengarahkan senter handphonenya ke segala arah untuk mencari Ayana, hingga Dimas melihat Ayana di pojok kamar sedang meringkuk memeluk lututnya, menyembunyikan wajahnya di balik lutut nya dengan bercak darah di dekatnya.


"Ay!"panggil Dimas bergegas menghampiri Ayana. Tubuh gadis itu bergetar karena ketakutan.


"Jangan mendekat! Jangan! Jangan!"pekik Ayana yang semakin ketakutan.


"Ay! Ini aku! Dimas, Ay!"ucap Dimas yang merasa prihatin melihat keadaan Ayana yang nampak ketakutan.


"Pergi! Pergi!"teriak Ayana semakin histeris sambil mengibas-ngibaskan tangannya memberi isyarat agar Dimas pergi.


"Ay! Tenang, Ay!"Dimas berusaha memeluk Ayana, tapi Ayana terus meronta,"Ada aku. Kamu akan baik-baik saja, Ay! Tenanglah, Ay!"ucap Dimas memeluk erat Ayana.


"Kak.. kak Dimas,"gumam Ayana yang masih terdengar oleh Dimas karena posisinya yang saat ini sedang memeluk Ayana.


"Ya. Aku Dimas. Tenanglah! Ada aku bersama mu,"ujar Dimas menenangkan Ayana, hingga Ayana tidak lagi meronta dan membalas pelukan Dimas dengan erat. Gadis itu terisak dalam pelukan Dimas,"Tenanglah!"ucap Dimas mendekap erat tubuh Ayana. Sedangkan tubuh Ayana masih terasa bergetar.


"Dim! Ada apa?"tanya Toyib sambil membawa lampu emergency sehingga ruangan itu menjadi terang.


Dimas menoleh pada Toyib, kemudian melihat jejak darah di lantai di dekat nakas yang terdapat pecahan beling, hingga sampai di tempat Ayana sekarang berada. Melihat arah tatapan Dimas, Toyib pun terkejut. Toyib tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi duda muda itu nampak khawatir.

__ADS_1


Dimas mengangkat tubuh Ayana yang memeluk erat tubuhnya. Berusaha merebahkan tubuh Ayana di atas ranjang. Namun karena Ayana memeluk erat Dimas, akhirnya terpaksa Dimas ikut merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Yib, tolong kamu periksa kaki Ayana! Dan tolong obati lukanya!"pinta Dimas pada Toyib.


Toyib yang melihat keadaan Ayana pun tidak berkata apa-apa lagi. Duda muda itu mengambil beling yang bahkan masih menempel di kaki Ayana. Namun gadis itu sama sekali tidak bergerak ataupun berteriak sama sekali saat Toyib mengambil beling itu dan mengobati lukanya. Setelah mengobati kaki Ayana dan membersihkan pecahan beling, Toyib pun memilih keluar dari kamar itu, dan menutup pintunya. Sedangkan di luar sana, hujan masih turun dengan deras dan kilat serta petir masih saling menyambar memekakkan telinga.


"Rejeki orang memang berbeda-beda. Dimas selalu ketiban enaknya, dan aku yang ketiban apesnya,"gumam Toyib menghela napas panjang meninggalkan Dimas dan Ayana di kamar


Beberapa kali Dimas mencoba melepaskan pelukan Ayana, tapi Ayana tetap memeluknya dengan erat. Walaupun akhirnya Ayana sudah tertidur, namun pelukannya tidak melonggar sama sekali, hingga akhirnya Dimas pun ikut tertidur.


Pagi menyapa. Dedaunan masih terlihat basah karena hujan yang mengguyur dari malam sampai subuh. Tanah pun masih basah, bahkan beberapa jalan yang berlubang pun tampak digenangi air. Perlahan Dimas membuka matanya.Menyesuaikan matanya dengan cahaya yang ada di ruangan itu. Menatap Ayana yang terlihat masih terlelap. Dimas merapikan rambut Ayana yang menutupi wajahnya. Cantik. Wajah Ayana terlihat cantik. namun saat mengingat Ayana yang ketakutan semalam, Dimas menjadi iba pada gadis yang saat ini masih berada dalam pelukannya itu.


Semalam Dimas dapat melihat ada ketakutan di wajah gadis itu. Sepertinya Ayana trauma dengan insiden yang pernah menimpanya beberapa hari yang lalu. Perlahan Dimas melepaskan pelukannya dan pelukan Ayana. Dengan hati-hati Dimas turun dari ranjang dan menyelimuti tubuh Ayana. Namun sesaat kemudian Dimas teringat dengan kaki Ayana yang terluka semalam. Pria itu pun memeriksa kaki Ayana, dan merasa lega setelah melihat kaki Ayana tidak bengkak karena pecahan gelas semalam. Dimas keluar dari ruangan itu pelan-pelan, takut jika sampai Ayana terbangun.


Dimas membuat sarapan untuk mereka bertiga. Hanya nasi putih, telur dadar dan mie goreng instan yang dimasak Dimas. Tidak lama kemudian Toyib keluar dari kamarnya sambil menguap. Melihat Dimas yang sedang menyiapkan sarapan, Toyib pun langsung duduk di salah satu kursi meja makan.


"Wah, yang semalam tidur memeluk gadis kelihatan seger, nih! Aku sangka bakalan bangun kesiangan. Situ yang dapat pelukan, aku yang jadi perawat sekaligus cleaning servis. Bersihin pecahan gelas dan membalut luka Ayana,"sindir Toyib.


"Ikhlas. Ikhlas, kok! Aku ngiri, nganan, maju, mundur, flashback juga oke. Dijamin stabil, deh! Nggak bakalan oleng,"sahut Toyib seraya mulai ikut sarapan.


"Mending mandi dulu sana! Belek segitu gedenya, iler pun masih nempel,"ujar Dimas.


"Kalian memang cocok jadi suami-istri,"sahut Toyib yang tetap mengambil nasi dan lauk-pauk. Sedangkan Dimas hanya bisa menghela napas melihat kelakuan temannya itu.


"Pagi ini aku bebas dari omelan dan pukulan Ayana,"ujar Toyib terkekeh kecil.


"Dia itu sebenarnya peduli sama kamu. Buktinya dia selalu memperhatikan kamu. Menyuruh kamu buat hidup bersih dan sehat. Kata almarhum ibuku dulu, jangan kesel kalau dimarahi. Karena kalau masih dimarahi itu tandanya masih perduli. Masih sayang. Khawatir lah kalau kamu sudah tidak dimarahi apalagi di diamkan. Itu berarti orang sudah tidak peduli lagi padamu,"ujar Dimas kemudian mulai sarapan.


"Iya, juga, sih. Benar kata kamu. Berarti aku harus senang dan ikhlas jika di marahin Ayana. Karena artinya Ayana masih peduli padaku,"ujar Toyib nampak antusias.


"Ya nggak gitu juga konsepnya, kali! Kalau kamu dimarahi itu seharusnya kamu memperbaiki diri,"sahut Dimas menghela napas mendengar kata-kata Toyib. Pemikiran yang... yang apa ya? Nggak tau lah! Bagaimana pemikiran bang Toyib ini. Dimas hanya bisa bersabar menghadapi teman satu kontrakan sekaligus sahabatnya itu. Sedangkan Toyib hanya menyengir bodoh tanpa dosa.

__ADS_1


"Eh, ngomong-ngomong, kenapa Ayana semalam seperti itu? Apa yang sebenarnya terjadi?"tanya Toyib yang sebenarnya dari semalam sudah penasaran.


'Sepertinya Ayana trauma karena insiden waktu itu. Aku menemukan dia dalam keadaan di kelilingi tiga orang preman jalanan. Dia pingsan dalam keadaan kaki terkilir, dan tubuh yang menggigil kedinginan. Dia hampir dibawa para preman itu jika aku tidak menyelamatkan dia.


Saat insiden waktu itu, suasananya sama seperti semalam. Angin, hujan deras, kilat dan petir menyambar nyambar. Mungkin suasana semalam mengingatkan dia dengan insiden waktu itu. Waktu itu dia demam dan terus mengigau seperti semalam. Dia juga ketakutan seperti semalam. Aku merawat dia sampai pagi, dan memanggil dukun kampung untuk mengurut kakinya,"jelas Dimas.


"Waktu itu dia pasti sangat ketakutan, hingga dia bisa trauma seperti ini,"gumam Toyib.


"Iya. Aku juga tidak menyangka jika dia akan menjadi trauma seperti semalam. Sepertinya dia sangat tergoncang dengan insiden waktu itu,"sahut Dimas.


"Dia tidak demam, kan, karena kakinya yang terluka?"tanya Toyib jadi khawatir.


"Untung nya tidak. Aku lihat kakinya juga tidak bengkak,"sahut Dimas.


"Syukurlah,"ucap Toyib merasa lega.


...🌟"Ada hal-hal yang enggan kita lupakan, dan ada pula yang sulit kita lupakan."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


Notebook :


Trauma adalah respons emosional tubuh terhadap peristiwa mengerikan seperti kecelakaan, pemerkosaan atau bencana alam. Ini juga bisa terjadi sebagai respons terhadap peristiwa yang membahayakan fisik atau emosional. Trauma bisa muncul setelah kejadian maupun dalam jangka panjang.


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2