
Rengganis melajukan motornya dengan kecepatan rata-rata. Namun gadis itu terpaksa menepikan motornya saat menyadari ban motornya kempes.
"Ya Tuhan.. ! Kenapa harus kempes di sini, sih? Mana yang kempes dua-duanya lagi!"gumam Rengganis saat melihat kedua ban motor nya kempes.
Saat ini, Rengganis berada di daerah yang jauh dari perumahan. Sedangkan yang berlalu lalang di jalan itu hanya beberapa truk saja. Rengganis pun menghubungi bengkel terdekat di tempat dirinya berada saat ini.
"Duh.. panas banget. Nggak ada tempat untuk berteduh,"gumam Rengganis yang melihat di sekelilingnya tidak ada pohon yang bisa dijadikan tempat untuk berteduh. Karena pohon di pinggir jalan itu belum ada yang besar.
Walaupun dulu hampir setiap hari berjemur di bawah sinar matahari. Namun panas sinar matahari di ibukota dan di kampung tentu berbeda. Di kampung masih banyak pepohonan dan tentunya udaranya lebih bersih dari pada di kota yang penuh dengan polusi udara. Bau asap kendaraan dan bisingnya kendaraan yang berlalu lalang adalah pemandangan sehari-hari di ibu kota. Berbeda dengan di desa yang hawanya masih sejuk dan tidak bising oleh suara kendaraan bermotor.
Rengganis mengernyitkan keningnya saat melihat sebuah mobil berhenti tidak jauh dari motornya. Tak lama kemudian, seorang pemuda nampak turun dari dalam mobil itu.
"Hai, Nis?"sapa pemuda yang tidak lain adalah Tony. Pemuda itu berjalan mendekati Rengganis,"Kenapa berhenti di sini? Apa motor kamu mogok?"tanya Tony pura-pura tidak tahu.
Sebelumnya, Tony sudah memprediksikan dimana ban motor Rengganis akan benar-benar kempes. Dan dari tadi, Tony juga sudah membuntuti motor Rengganis.
"Kempes,.kak,"sahut Rengganis seadanya.
"Sudah telepon bengkel belum?"tanya Tony seraya berpura-pura memeriksa ban motor Rengganis.
"Sudah,"sahut Rengganis singkat.
"Ternyata bocor kedua-duanya, ya?"tanya Tony setelah memeriksa kedua ban motor Rengganis.
"Iya,"sahut Rengganis lagi-lagi singkat.
"Aku pintar sekali. Prediksiku ban Rengganis akan benar-benar kempes di sekitar tempat ini benar-benar tepat. Untung aku pernah lihat beberapa kali arah jalan yang di lalui gadis ini,"gumam Tony dalam hati merasa senang.
"Kenapa aku merasa kehadiran Tony di sini bukan sebuah kebetulan, ya? Biasanya, arah jalan kami berlawanan. Sekarang ban motor ku dua-duanya kempes. Rasanya nggak masuk akal jika kedua ban ini bocor bersamaan karena tertusuk paku di jalan. Aku harus hati-hati dengan pemuda ini,"gumam Rengganis yang nampak curiga pada Tony.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan Rengganis merasa curiga pada Tony. Akhir-akhir ini, Tony sangat gencar mendekati dirinya. Dan sekarang, Tony menghampiri dirinya saat kedua ban motor nya kempes bersamaan. Hal itu semakin membuat Rengganis merasa curiga.
"Sambil nunggu orang bengkel ke sini, masuk dulu ke dalam mobil aku dulu, yuk! Disini panas banget. Sayang, loh, kalau wajah cantik dan kulit putih kamu yang halus itu terbakar sinar matahari,"bujuk Tony.
"Terimakasih, kak! Aku akan tunggu di sini aja,"tolak Rengganis secara halus.
"Dia mengajak aku masuk ke dalam mobilnya. Bagaimana jika nanti dia membawa aku pergi dari tempat ini? Bagaimana dengan motor ku? Aku tidak mau motor itu sampai hilang. Menahan panas terik matahari untuk menunggu orang bengkel sampai di sini tidak akan membuat aku mati. Ibu telah berkorban banyak untuk ku. Aku harus menjaga dengan baik, apa yang telah diberikan ibu padaku. Termasuk motor ini. Lagi pula, ini kota metropolitan. Aku tidak boleh percaya pada sembarang orang. Apalagi pada seorang pria,"gumam Rengganis dalam hati.
"Sulit sekali menjerat gadis ini. Bahkan dia lebih memilih berjemur di bawah sinar matahari yang sangat panas ini dari pada masuk ke dalam mobil ku. Kalau cewek lain, pasti langsung mau kalau aku tawari masuk ke dalam mobilku. Bahkan, mereka yang meminta lebih dulu sebelum aku menawari mereka,"gumam Tony dalam hati.
"Matahari nya terik sekali loh, Nis. Mending, kamu masuk ke mobil aku aja. Orang bengkel mungkin masih agak lama baru sampai di sini. Jangan sampai kamu pingsan di sini karena kepanasan,"bujuk Tony yang sudah mulai tidak tahan dengan cuaca panas yang seakan membakar kulitnya.
Saat ini, Tony hanya memakai kemeja berlengan pendek. Jadi, panas matahari benar-benar terasa menyengat di kulitnya. Sedangkan Rengganis memakai celana panjang dan juga jaket. Lengkap dengan sarung tangan dan helm nya.
"Tidak apa-apa, kak. Aku sudah terbiasa terkena teriknya matahari, kok. Lagi pula, tidak baik jika laki-laki dan perempuan yang bukan saudara berduaan di dalam ruangan tertutup,"sahut Rengganis yang masih kukuh dengan pendiriannya.
"Ayolah! Di sini panas sekali. Lebih baik masuk dulu ke dalam mobilku,"ujar Tony yang masih berusaha membujuk Rengganis.
"Terimakasih. Aku di sini saja,"sahut Rengganis yang tetap kukuh dengan pendiriannya,"Aku semakin curiga dengan dia. Aku tidak akan mengambil risiko untuk masuk ke dalam mobilnya. Aku tidak terlalu mengenalnya. Aku juga merasa tidak nyaman bersama dia,"gumam Rengganis dalam hati.
"Sebaiknya kamu ikut masuk ke dalan mobilku. Kalau kamu bersikeras, aku akan memaksa kamu,"ancam Tony yang sudah kesal karena Rengganis sangat sulit untuk dibujuk. Belum lagi cuaca yang sangat panas membuat Tony semakin tidak sabar untuk membujuk Rengganis. Pemuda itu mulai mendekati Rengganis.
"Benar dugaan ku. Dia bukan orang baik-baik. Aku harus bagaimana ini?"gumam Rengganis dalam hati.
"Kamu mau apa? Jangan dekati aku!"ucap Rengganis seraya mundur menjauhi Tony.
"Membawa kamu ke dalam mobilku,"sahut Tony tersenyum miring.
"Kamu jangan macam-macam! Aku aka teriak jika kamu berani macam-macam!"ancam Rengganis yang mulai merasa takut dengan pemuda yang ada di depannya itu. Rengganis terus beringsut menjauh dari Tony.
__ADS_1
"Kamu pikir, siapa yang akan mendengar, jika kamu teriak di sini? Jarang kendaraan yang lewat di sini. Kebanyakan yang lewat adalah truk yang tidak mungkin berhenti walaupun kamu berteriak sekuat apapun,"sahut Tony kembali tersenyum miring.
"Sial! Feeling ku tidak salah. Ternyata dia benar-benar bermaksud jahat padaku. Bagaimana ini? Mana orang bengkel belum datang juga, lagi."gumam Rengganis dalam hati.
Rengganis menjauh memutari motornya sendiri untuk menghindari Tony. Tapi Tony terus mendekati dirinya.
"Ayolah sayang! Kita ke dalam mobilku! Di sana lebih dingin. Kita bisa bersenang-senang di dalam sana,"ujar Tony yang sudah tidak mau berpura-pura lagi.
"Pergi kamu! Jangan ganggu aku!"bentak Rengganis terlihat waspada.
"Kamu keras kepala sekali. Aku ingin mengajak kamu bersenang-senang. Jadi, ikutlah dengan aku,"
"Pasti kamu, 'kan, yang membuat ban motor ku jadi kempes seperti saat ini? Nggak masuk akal ban motor aku bisa kempes bersamaan, kalau tidak dijahili. Arah rumah kamu juga bukan kesini. Kamu sengaja mengikuti aku, 'kan?"
"Kamu cukup pintar. Tapi sayangnya, kamu tidak akan bisa lolos dari ku,"sahut Tony langsung melompati motor Rengganis dan menangkap Rengganis.
"Lepaskan! Dasar brengseek! Lepaskan aku!"bentak Rengganis mencoba melepaskan tangannya yang berhasil di pegang oleh Tony.
"Tenang saja! Pasti akan aku lepaskan. Tapi bukan hanya tanganmu. Aku juga akan melepaskan seluruh bajumu,"ucap Tony tersenyum miring, kemudian menarik Rengganis ke arah mobilnya.
"Akhirnya.. aku akan bersenang-senang dengan dia. Aku akan merekam saat aku menidurkannya nanti. Akan aku gunakan untuk mengancam dia. Agar aku bisa terus meniduri dia sepuas hatiku,"gumam Tony dalam hati
"Lepaskan! Lepaskan aku!"bentak Rengganis masih berusaha untuk melepaskan tangan Tony yang memegang pergelangan tangannya erat sambil terus menarik Rengganis ke arah mobilnya. Sedangkan Rengganis masih terus berusaha melepaskan diri dari Tony.
"Lepaskan dia!"
...πΈβ€οΈπΈ...
β’Maaf karena update ku nggak stabil. Akhir-akhir ini anemia ku sering kambuh. Nggak kuat begadang dan sering sakit kepala. Jadinya nggak bisa update on time. πππππ
__ADS_1