
Malam harinya, semua nampak berkumpul di meja makan. Seperti biasa, Ayana selalu melayani Dimas dengan mengambilkan nasi dan lauk pauknya.
"Dimas memang pintar mencari istri. Ayana begitu setia dan telaten mengurus dan melayani Dimas. Tidak berpaling dari Dimas meskipun harapan hidup Dimas kecil. Tetap berada di samping Dimas bagaimana pun keadaan Dimas. Semoga Dimas dan Ayana selalu bahagia,"gumam Buston dalam hati tulus.
Pria itu selalu berdoa untuk kebahagiaan putra yang semenjak hilang dalam musibah banjir waktu itu tidak dinafkahi nya. Rasa bersalah tentu saja ada di hati Buston. Namun hatinya menjadi lega saat Liliana mau menerima Dimas dalam keluarga mereka dan Dimas bisa kembali sadar setelah mengalami koma selama enam bulan.
"Melihat sikap dan perlakuan Ayana pada Dimas ini, semoga Delvin sadar jika Ayana hanya mencintai Dimas. Dan berusaha untuk melupakan Ayana,"gumam Liliana dalam hati saat melihat Delvin menatap Ayana yang dengan telaten melayani Dimas.
"Apa, sih, yang membuat Ayana begitu mencintai dia? Bahkan rela menginap berbulan bulan di rumah sakit hanya untuk menjaga, merawat, dan menunggu dia sadar. Kenapa dia tidak mati saja dalam kecelakaan itu, sih?! Atau koma saja selamanya,"gerutu Delvin dalam hati.
Delvin merasa kecewa karena gadis yang dicintainya ternyata tidak mencintai dirinya. Merasa iri karena Dimas begitu dicintai gadis yang dicintainya. Dan merasa cemburu karena merasa Dimas sangat diperhatikan oleh Ayana. Mungkin sikap Delvin ini adalah definisi dari CINTA ITU BUTA. Kita anggap saja begitu.
"Melihat bagaimana sikap Ayana selama ini pada Kaka Dimas, aku jadi ingin mendapatkan istri seperti Ayana. Dimana kira-kira aku bisa mendapatkan istri yang setia dan mencintai aku dalam keadaan apapun seperti Ayana?"gumam Axell dalam hati. Sesaat kemudian Axell melirik Delvin yang sesekali melirik Ayana.
"Jaga itu mata! Ingat! Dia adalah kakak ipar kita. Istri kakak kita,"ucap Axell pada Delvin dengan suara pelan, tapi penuh penekanan.
Delvin tidak merespon ucapan Axell. Tapi pemuda itu terlihat tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh Axell.
Selesai makan malam, Buston mengajak anak, istri dan menantunya untuk berbincang di ruangan keluarga.
"Ay, kandungan kamu sudah besar. Apa kamu tidak berniat mengajukan cuti?"tanya Buston mengawali pembicaraan.
"Aku berniat untuk mengajukan cuti satu bulan lagi, pa. Sekalian setelah selesai ujian akhir semester,"sahut Ayana.
"Bagus juga. Tapi jangan sampai mempengaruhi kandungan kamu,"ujar Buston memperingati.
__ADS_1
"Iya, pa. Aku akan menjaganya baik-baik,"sahut Ayana dengan seulas senyum.
Axell menyenggol kaki Delvin yang nampak terpesona melihat Ayana tersenyum,"Ingat! Dia kakak ipar kita. Istri kakak kita,"ujar Axel kembali memperingati Delvin dengan suara pelan.
"Apa kakak tidak bosan memperingati aku terus?"gerutu Delvin dalam hati. Delvin pun terlihat tidak suka karena terus menerus diperingatkan oleh Axell.
"Oh, ya, Dim. Kamu, 'kan, tidak ada kegiatan. Bagaimana kalau ke kantor bersama papa?"tanya Buston, penuh harap Dimas mau ke kantor bersamanya.
"Iya, Dim. Sebaiknya kamu ikut ke kantor. Kamu harus tahu bagaimana keadaan perusahaan kita. Karena nantinya, yang akan mengurus perusahaan kita adalah kamu dan adik-adik kamu,"imbuh Liliana.
"Apa maksud mama berkata seperti itu? Mama ingin dia ikut ambil bagian dalam perusahaan kita?"tanya Delvin seraya menunjuk ke arah Dimas. Terlihat ekspresi tidak suka di wajah Delvin. Dengan cepat Axell menarik tangan Delvin yang menunjuk pada Dimas.
"Jangan bersikap tidak sopan!"ucap Axell yang merasa Delvin tidak sopan karena menunjuk pada Dimas yang merupakan kakak tertua mereka.
"Mana boleh begitu, ma! Perusahaan itu adalah milik mama. Bukan milik papa. Sedangkan dia hanyalah anak papa dan anak tiri mama. Kenapa mama memperlakukan dia seperti anak kandung mama?"protes Delvin yang merasa tidak senang Dimas diperlakukan sama dengan dirinya dan Axell.
Walaupun Dimas adalah kakak satu ayah dengan dirinya, tapi Dimas bukanlah saudara kandung Delvin. Sedangkan perusahaan yang mereka miliki saat ini adalah warisan dari almarhum orang tua kandung mamanya. Jadi Delvin merasa Dimas tidak berhak menjadi kandidat untuk memimpin perusahaan warisan kakek dan neneknya itu.
Axell menghela napas berat mendengar kata-kata Delvin. Sedangkan Dimas dan Ayana masih diam dan memperhatikan dan mendengar segalanya.
"Jaga sikap dan bicara kamu, Vin! Panggil Dimas kakak!"sergah Buston yang merasa tidak suka Delvin menyebut Dimas dengan kata Dia. Putranya itu terlihat tidak mau menerima Dimas dalam keluarga mereka dan juga terlihat tidak suka pada Dimas.
"Benar kata papa kamu, Vin. Panggil Dimas kakak! Jangan menyebut kakak kamu dengan sebutan dia. Karena bagaimana pun, Dimas adalah kakak kamu. Jangan tidak punya etika seperti itu! Mama tidak pernah mengajarkan padamu untuk tidak sopan kepada yang lebih muda, apalagi pada yang lebih tua,"
"Dan soal perusahaan. Perusahaan kita memang perusahaan warisan dari almarhum kedua orang tua mama. Tapi yang membuat perusahaan kita menjadi sebesar ini adalah papa kalian. Tanpa papa kalian, perusahaan peninggalan orang tua mama tidak akan sebesar ini. Dan mungkin akan gulung tikar jika mama yang tidak terlalu tahu tentang bisnis ini mengelolanya. Jadi, papa kamu juga berhak atas perusahaan kita. Demikian pula dengan kakak kalian Dimas yang merupakan anak kandung papa kalian,"
__ADS_1
"Dan soal mama memperlakukan Dimas selayaknya anak kandung mama, memangnya kenapa? Walaupun kakak kalian Dimas adalah anak tiri mama, tapi Dimas telah dua kali menyelamatkan nyawanya mama dan Axell. Dan juga pernah sekali menyelamatkan nyawa kamu dan papa kamu. Bahkan tanpa mengetahui kalau kita ini adalah keluarganya. Sedangkan kamu yang anak kandung mama malah tidak punya waktu untuk menjenguk mama, waktu mama masuk rumah sakit karena kecelakaan. Jika bukan karena Dimas, kita semua pasti sudah mati. Wajar saja jika mama memperlakukan Dimas seperti putra mama sendiri,"ujar Liliana membuat Delvin tidak bisa berkata-kata lagi.
"Ma, terimakasih karena mama mau menganggap aku sebagai anak dan memperlakukan aku seperti anak kandung mama sendiri. Tapi, soal perusahaan, lebih baik Axell dan Delvin saja yang mengurusnya. Benar kata Delvin, perusahaan itu adalah warisan dari almarhum kedua orang tua mama, jadi, aku tidak berhak atas perusahaan itu. Axell dan Delvin lah yang berhak atas perusahaan itu,"ujar Dimas yang merasa tidak enak hati karena dirinya keluarga papanya jadi bertengkar.
"Bagus jika sadar diri,"sinis Delvin.
"Delvin!'bentak Buston, Liliana dan Axell secara bersamaan.
"Kamu benar-benar sudah sangat keterlaluan, Vin!"ucap Axell yang terlihat tidak suka dengan sikap adiknya itu.
"Kenapa semakin bertambah umur kamu tidak juga kunjung dewasa? Tingkah kamu ini seperti tingkah anak kecil,"ketus Liliana.
"Jika kamu tidak bisa menghormati dan menghargai orang lain, bagaimana orang lain akan menghormati dan menghargai kamu?"ujar Buston yang juga merasa kesal pada Delvin.
"Mama merasa malu memiliki anak seperti kamu, Vin. Mulut kamu seperti mulut orang yang tidak berpendidikan. Sepertinya selama ini kita terlalu memanjakan dia, pa. Hingga dia menjadi anak manja dan tidak tahu adab, serta tatta krama,"sarkas Liliana yang merasa sangat kecewa pada sikap Delvin.
"Dasar Dimas sialan! Hidupku jadi kacau semenjak ada dia. Kenapa dia nggak mati saja, sih?!"umpat Delvin dalam hati. Merasa semakin benci pada Dimas karena semua orang membela Dimas dan malah memusuhi dirinya.
Delvin tidak berpikir, jika sikapnya sendirilah yang membuat keluarganya jadi tidak menyukai dan tidak respek pada dirinya. Seperti kata pepatah, mulut mu adalah harimau mu. Jadi, seharusnya Delvin lebih berhati-hati dalam berbicara. Agar tidak menyakiti hati orang lain dan membuat orang lain membenci dirinya.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1