
Tidak terasa malam sudah tiba. Ayana menyiapkan makan malam untuk dirinya dan kedua kakak ketemu gede nya. Merasa senang setiap memasak, karena kedua pria itu selalu memakan masakannya dan terlihat menikmati nya. Bahkan kedua pria itu juga sering memuji jika masakannya enak. Hal itulah yang membuat Ayana semakin menjadi hobi memasak.
"Kakak! Abang! Makan malamnya sudah siap!"teriak Ayana dari dalam ruangan makan.
Seperti biasanya, Dimas dan Toyib pun bergegas menuju ruang makan. Dimas langsung pergi ke arah wastafel sedangkan Toyib berhenti di meja makan saat mencium aroma masakan Ayana.
"Rendang? Ini rendang, 'kan?"tanya Toyib seraya mengulurkan tangannya ke arah lauk yang sepertinya rendang.
"Plak"
"Auwh! Sakit, Ay!"pekik Toyib yang tangannya di pukul centong sayur oleh Ayana.
"Aku sudah bilang sama Abang, cuci tangan dulu sebelum makan!"ketus Ayana bersungut-sungut.
"Iya.. iya.. maaf! Abang lupa,"sahut Toyib,"Tapi itu beneran rendang, kan?"tanya Toyib yang masih penasaran.
"Cuci tangan dulu!"bentak Ayana.
"Sudah, sana! Cuci tangan dulu!"timpal Dimas yang sudah selesai mencuci tangan.
"Iya.. iya.. galak banget! Untung cantik, kalau enggak.."
"Kalau enggak apa? Cepetan cuci tangan!"bentak Ayana lagi, memotong gerutuan Toyib.
"Iya!"sahut Toyib bergegas mencuci tangan. Sedangkan Dimas hanya bisa tersenyum seraya geleng-geleng kepala melihat kelakuan keduanya yang tidak berubah sama sekali.
Ayana mengambilkan nasi untuk Dimas, kemudian untuk dirinya sendiri. Toyib pun sudah duduk menghadap meja makan.
"Ay, ambilkan nasi buat Abang, dong!"pinta Toyib menyodorkan piringnya pada Ayana.
"Ini, jangan banyak-banyak! Ntar perut Abang tambah buncit!"ujar Ayana mengembalikan piring Toyib setelah mengisinya dengan nasi.
"Tenang saja! Nanti Abang olah raga biar perut Abang kotak-kotak,"ujar Toyib terdengar bersemangat. Yang pastinya bukan bersemangat untuk olah raga, tapi semangat untuk makan.
"Alah.. dari kemarin juga ngomong gitu, tapi sampai sekarang juga nggak pernah olah raga,"cibir Ayana.
"Siapa bilang Abang nggak pernah olah raga. Setiap hari Abang selalu olah raga jalan kaki. Bahkan berpuluh-puluh meter, loh,"sahut Toyib mulai mengambil lauk.
"Itu, sih jualan! Bukan olah raga!"cetus Ayana. Geleng-geleng kepala dengan kelakuan Toyib.
"Emm.. beneran rendang ini. Enak, Ay! Sering-seringlah masak begini, Ay!"ucap Toyib sambil mengunyah makanan nya. Menikmati makanan yang terasa menggoyang lidahnya.
__ADS_1
"Boleh. Asal uang belanja nya ditambah. Soalnya daging mahal,"sahut Dimas yang tugasnya belanja bahan makanan. Sedangkan Toyib bertugas belanja ke mini market untuk membeli sabun, shampo, dan juga beberapa keperluan yang lainnya.
Mereka bertiga saling membantu, saat ada di rumah. Sedangkan semenjak ada Ayana, pakaian mereka di jemur di belakang rumah yang dikelilingi tembok tinggi. Sehingga tidak ada yang bisa melihat Ayana saat sedang menjemur atau mengangkat baju.
"Iya..iya.. beres kalau masalah itu,"sahut Toyib sambil menyendok rendang di dalam mangkok.
"Abang! Jangan dihabiskan! Aku sama kakak, 'kan baru ngambil sedikit?"seru Ayana yang melihat Toyib akan mengambil lauk lagi, sedangkan di piringnya sudah ada lumayan banyak.
"Kirain kalian nggak terlalu suka,"ujar Toyib menyengir bodoh, membuat Ayana dan Dimas hanya bisa menghela napas. Kalau soal makan, Toyib memang jagonya.
"Kamu sudah bilang sama Bu Nur,'kan, kalau besok sudah mulai mengantarkan Ayana sekolah?"tanya Dimas setelah mereka selesai makan malam.
"Sudah. Aku juga bilang sama Bu Nur, kalau sewaktu-waktu dia tidak bisa mengantar harus ngomong sama kita. Takutnya nanti dia minta tukang ojek cowok buat menggantikan dia ngantar Ayana,"sahut Toyib yang nampak kekenyangan.
"Abang makan terlalu kenyang. Besok aku akan mengurangi memasak nasi. Biar Abang nggak nambah terus kalau makan,"celetuk Ayana.
"Mana boleh begitu! Kalau Abang lapar, nggak bakal kuat Abang jualan keliling bawa tas yang berkilo-kilo beratnya,"protes Toyib.
"Abang nyadar, nggak, sih? Kalau badan Abang akhir-akhir ini tambah gendut,"ujar Ayana yang memang melihat Toyib lebih gemuk dari sebelumnya.
"Masa, sih? Perasaan biasa aja,"sahut Toyib santai.
"Tok! Tok! Tok!"suara ketukan pintu membuat Dimas dan Toyib berjalan ke arah pintu utama. Sedangkan Ayana bergegas membereskan meja makan.
"Terimakasih, Nak,"sahut Pak RT.
"Ada apa, ya, Pak?"tanya Dimas sopan.
"Ada jadwal ronda untuk masyarakat di RT kita. Kalau tidak mau ronda bisa menggantinya dengan uang lima puluh ribu. Itu untuk satu bulan. Karena setiap orang dapat jatah ronda satu kali dalam satu bulan,"ujar Pak RT.
"Sepertinya kami mengganti dengan uang saja, deh, Pak. Soalnya, seharian berjualan keliling sudah sangat lelah. Nggak sanggup kalau malamnya masih harus ronda. Iya, 'kan, Yib?"tanya Dimas menatap Toyib.
"Iya, nih, Pak. Nggak sanggup kalau harus ronda. Kami ganti dengan uang saja, ya, Pak?"tanya Toyib.
"Ya, sudah. Nggak apa-apa. Bapak mengerti,"sahut Pak RT. Dan keduanya pun langsung memberikan uang pada Pak RT, masing-masing lima puluh ribu.
"Ya, sudah. Kalau begitu bapak permisi,"ujar Pak RT setelah menerima uang dari Dimas dan Toyib.
"Akkh! Kakak! Abang! Ada tikus!"teriak Ayana dari dapur membuat Dimas dan Toyib langsung berlari ke dapur, sedangkan Pak RT hanya tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan dan meninggalkan rumah itu.
"Mana tikusnya?"tanya Dimas yang masuk lebih dulu di susul Toyib di belakangnya. Sedangkan Ayana duduk berjongkok di atas meja di samping wastafel dengan ekspresi takut bercampur jijik.
__ADS_1
"Di.. dibawah wastafel, kak,"sahut Ayana tergagap, melirik ke arah bawah.
Dimas dan Toyib pun mulai mencari tikus yang dikatakan oleh Ayana. Mereka mencari di bawah wastafel dan di sekitarnya.
"Itu tikusnya, Yib,"tunjuk Dimas yang sudah membawa alat untuk memukul, begitu pula dengan Toyib yang juga membawa alat untuk memukul. Keduanya pun mendekati tikus itu dan mencoba memukulnya.
"Plak! Plak! Plak!"
Berkali-kali kedua pria itu berusaha memukul tikus itu, tapi belum juga tepat sasaran karena tikus itu terus bergerak. Sedangkan Ayana memperhatikan dari atas dengan perasaan cemas.
"Akkhh!"pekik Ayana saat tiba-tiba tikus yang dikejar Dimas dan Toyib malah naik ke meja tempat Ayana duduk.
Dengan cepat Ayana melompat ke arah Dimas yang tidak jauh dari tempat Ayana berada. Hampir saja Dimas terjatuh jika tidak bisa mengimbangi tubuhnya karena tiba-tiba Ayana melompat memeluk Dimas dari depan dengan kedua tangan yang melingkar di leher Dimas dan kedua kaki yang melilit di pinggang Dimas. Jantung Ayana pun berdegup dengan kencang karena ketakutan. Sedangkan Dimas hanya diam terpaku. Posisi yang saling menempel dan berhadapan membuat jantung Dimas berdegup kencang.
"Plak! Plak! Palk!"
"Ciit.. ciit..ciit..."
"Dapat!"ujar Toyib berhasil memukul tikus itu.
Dimas dan Ayana pun menoleh ke arah Toyib dan merasa lega melihat tikus itu sudah tidak berdaya, walaupun sepertinya belum mati.
"Abang cepat buang! Nanti dia bangun lagi,"pinta Ayana yang masih memeluk Dimas erat.
"Iya.. iya.. Abang buang,"sahut Toyib mengambil tikus itu menggunakan kantong plastik.
"Sudah! Tikusnya sudah tidak ada. Turun lah!"pinta Dimas yang merasa jantungnya tidak nyaman karena posisinya dan Ayana sangat dekat dan tidak berjarak. Bahkan Dimas dapat merasakan ada dua benda lembut dan kenyal yang menempel sempurna di dadanya.
"Ah, iya. Maaf!"sahut Ayana tersenyum bodoh, menatap wajah Dimas yang begitu dekat dengan wajahnya. Hanya beberapa senti saja. Perlahan Ayana turun dari gendongan Dimas dengan perasaan tidak rela.
"Kamu istirahat saja! Biar aku yang membereskan tempat ini,"ucap Dimas.
"Iya,"sahut Ayana dengan wajah memerah, bergegas masuk ke dalam kamarnya.
"Akkhh.. ganteng banget,sih, kalau dari dekat!"gumam Ayana mengingat betapa tampannya wajah Dimas saat di lihat dari dekat.
...🌸❤️🌸...
.
.
__ADS_1
To be continued