
"Sebenarnya.. aku dan kak Dimas.." Ayana nampak ragu-ragu untuk menjawab.
"Apa kalian pacaran?"tanya Wulan yang sudah tidak sabar menunggu jawaban Ayana.
"Hum,"sahut Ayana mengangguk cepat.
Ayana terpaksa tidak mengakui bahwa dirinya telah menikah dengan Dimas. Walaupun sebenarnya Ayana percaya pada Wulan. Ayana yakin, jika Wulan tahu dirinya sudah menikah dengan Dimas, Wulan tidak akan membocorkan masalah pernikahannya dengan Dimas pada orang lain. Tapi bagaimana kalau Wulan keceplosan? Maka dari itu, Ayana memilih mengiyakan saat Wulan menebak bahwa dirinya berpacaran dengan Dimas. Mungkin itu lebih baik mengingat dirinya yang masih berstatus pelajar. Bila sudah lulus sekolah nanti, Ayana akan jujur pada Wulan, jika dirinya sudah menikah dengan Dimas.
"Kok, bisa? Bukankah setiap kali bertemu kalian selalu bertengkar?"tanya Wulan penasaran.
"Kak Dimas pernah menolong aku saat aku hampir dilecehkan tiga orang preman jalanan. Jika waktu itu kak Dimas tidak menolong aku, aku tidak tahu bagaimana dengan nasibku saat ini,"sahut Ayana menghela napas panjang.
Ada rasa sesak di dada Ayana saat teringat peristiwa yang membuat dirinya trauma hingga saat ini.
"Apa sejak saat itu kalian menjadi dekat?"tanya Wulan yang bisa melihat wajah muram Ayana saat membahas tentang awal mula kedekatannya dengan Dimas.
"Hum,"sahut Ayana mengangguk pelan.
"Sepertinya, kamu kuwalat deh, gara-gara suka bertengkar dan meledek kak Dimas dengan gelar SPd, alias Sales Penjual daster,"ujar Wulan kemudian terkekeh. Mencoba mencairkan suasana karena melihat wajah Ayana yang muram.
"Sepertinya memang seperti itu,"sahut Ayana tersenyum tipis.
"Aku iri sama kamu. Kamu baru kenal kak Dimas sebentar sudah bisa jadi pacarnya. Aku yang sudah kenal lama dan suka sama dia, cuma bisa jadi pengagum rahasia,"ujar Wulan menghela napas panjang.
"Kamu nggak merasa Kediri, 'kan?"tanya Ayana memicingkan matanya.
"Merasa Kediri? Maksudnya?"tanya Wulan tidak mengerti.
"Kediri, alias ketikung temen sendiri,"sahut Ayana menghela napas berat.
"Haiss.. mana ada yang seperti itu? Mana bisa aku merasa seperti itu, kalau kak Dimas cintanya sama kamu. Lagian, aku juga nggak merasa sebanding sama kak Dimas. Dia itu tampan banget. Sedangkan aku... hais sudahlah! Tidak usah di bahas! Tapi, ngomong-ngomong, kalian tadi mesra banget. Pakai di bantu lepasin helm, dibantu merapikan rambut, di kasih cuan, terus pakai cium punggung tangan lagi. Udah seperti suami-istri saja kalian tadi,"celetuk Wulan.
"Bisa saja kamu,"sahut Ayana tertawa kecil. Dalam hati memang membenarkan jika mereka memang suami-istri.
"Eh, kak Dimas itu, kalau sama kamu banyak bicara nggak, Ay? Soalnya, kak Dimas itu, 'kan, orangnya terkenal nggak banyak bicara kalau bukan berkaitan dengan masalah dagangannya,"tanya Wulan penasaran.
__ADS_1
"Enggak. Kak Dimas memang tidak suka banyak bicara. Tapi dia sangat perhatian,"sahut Ayana dengan seulas senyum. Dimas memang tidak banyak bicara, tapi pria yang sudah menjadi suaminya itu selalu menunjukkan perhatiannya lewat sikapnya.
"Kalau lihat kalian di depan gerbang sekolah tadi, sih, bisa di pastikan kalau kak Dimas emang perhatian, mesra banget malahan,"sahut Wulan lalu menatap Ayana dengan tatapan serius,"Ngomong-ngomong, umur kak Dimas, 'kan jauh lebih dewasa dari kamu. Selama pacaran sama kak Dimas, kamu sudah pernah diapain saja sama kak Dimas?"tanya Wulan penasaran.
"Udah diapain, ya? Auk, ah gelap!"ucap Ayana malah berlari meninggalkan Wulan dengan wajah yang memerah. Gadis itu jadi teringat saat Dimas mencium dan mencumbui dirinya.
"Hei! Tunggu!"teriak Wulan mengejar Ayana.
***
Malam sudah semakin larut, tapi seperti biasanya, Dimas tidak kunjung masuk ke dalam kamar. Masih berada di ruang tamu bersama Toyib. Kedua pria itu sibuk dengan handphone mereka masing-masing.
Ayana nampak belum tidur, menunggu Dimas masuk ke dalam kamar sambil Googling tentang seputar hubungan suami istri. Hingga waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Dimas baru masuk ke dalam kamar.
"Kamu belum tidur?"tanya Dimas melihat Ayana yang sudah berbaring, tapi belum tidur. Gadis itu masih menatap layar handphonenya.
"Belum,"sahut Ayana, kemudian meletakkan handphonenya di atas nakas.
Dimas naik ke atas ranjang membaringkan tubuhnya. Ayana langsung merapat ke arah Dimas, lalu menjadikan lengan Dimas sebagai bantal dan melingkarkan tangannya di pinggang Dimas. Dimas pun langsung memeluk Ayana.
"Hum,"sahut Dimas.
"Akan terpilih ikut pertandingan voli di sekolah aku. Kakak mau lihat dan jadi suporter, nggak?"tanya Ayana.
"Boleh. Kapan?"tanya Dimas.
"Seminggu lagi,"sahut Ayana,"Kalau tim aku menang, kakak mau kasih hadiah apa buat aku?"tanya Ayana.
"Kamu mau apa?"tanya Dimas balik.
"Apa saja. Asalkan kakak yang berikan,"sahut Ayana tersenyum tipis.
"Oke, akan aku pikirkan nanti,"sahut Dimas.
"Kak, tadi Wulan bertanya siapa yang mengantarkan aku. Aku jawab kalau itu kakak. Kalau aku bohong, nanti juga bakal ketahuan pas kakak dagang bawa motor. Terus, dia tadi juga nanya soal hubungan kita,"ujar Ayana.
__ADS_1
"Terus, kamu jawab apa?"tanya Dimas seraya membelai rambut Ayana.
"Dia nebak kalau kita pacaran. Ya sudah, aku iyakan saja. Bukannya aku tidak percaya pada Wulan, jika aku mengatakan yang sejujurnya. Aku cuma takut kalau dia keceplosan ngomong sama orang lain aja. Soalnya, aku, 'kan masih sekolah,"ujar Ayana.
"Istri kecil ku semakin dewasa,"sahut Dimas. Memegang dagu Ayana, lalu mengangkatnya, hingga gadis itu menatapnya.
Dimas mendekatkan wajahnya pada Ayana, perlahan mencium bibir Ayana. Ayana memejamkan matanya membalas ciuman Dimas. Memegang kaos oblong yang dipakai Dimas dengan erat. Sedangkan Dimas memegang tengkuk dan pinggang Ayana. Keduanya saling mengecup, mengulum, menyesap dan lidah mereka pun saling membelit.
Beberapa saat kemudian, Dimas melepaskan pagutan mereka, mengusap lembut bibir Ayana yang basah oleh dirinya.
"Tidurlah!"ucap Dimas mengecup bibir Ayana singkat beberapa kali, kemudian memeluknya.
Setelah gagal untuk yang kedua kalinya, Dimas enggan untuk mencobanya lagi. Apalagi sekarang Ayana sudah mulai sekolah. Dimas hanya mencium dan memeluk Ayana saja untuk meredam hasratnya.
"Kakak tidak ingin mencobanya lagi? Aku akan menahan rasa sakitnya,"ucap Ayana mendongakkan kepalanya menatap Dimas.
"Nanti saja kalau kamu sudah siap,"ucap Dimas tersenyum tipis seraya mengetuk hidung Ayana yang mancung dengan telunjuknya.
"Aku sudah siap,"sahut Ayana yakin.
"Jika sekali lagi aku menginginkan mu, aku tidak akan berhenti ditengah jalan seperti yang sudah-sudah. Aku akan melakukannya sampai akhir. Bagaimana kalau besoknya kamu tidak bisa jalan karenanya? Lagi pula, bukankah kamu harus latihan untuk pertandingan voli? Kamu tidak akan bisa ikut latihan dan bertanding jika kamu sakit,"sahut Dimas memberi alasan.
"Tapi, katanya sakitnya hanya awalnya saja, kak,"ucap Ayana masih kukuh dengan pendiriannya ingin memberikan hak Dimas.
"Bagaimana jika setelah aku melakukannya sekali, aku jadi ingin melakukannya setiap hari? Apa kamu tidak takut kelelahan karena melayani aku? Sedangkan kamu juga harus latihan voli?"tanya Dimas yang sebenarnya takut jika setelah menyentuh Ayana tidak bisa mengontrol dirinya sendiri untuk berhenti.
"Baiklah. Terserah kakak saja,"sahut Ayana kemudian menyandarkan kepalanya di dada bidang Dimas.
"Kak, apa kakak mencintai aku?"
...🌸❤️🌸...
.
.
__ADS_1
To be continued