
Dimas dan Ayana menginap satu malam di hotel di dekat pantai itu. Menghabiskan waktu bersama dengan perasaan bahagia. Menikmati waktu yang selama enam bulan ini tidak mereka nikmati, terutama bagi Ayana. Karena Dimas belum bisa mengingat masa lalunya.
Walaupun Dimas belum bisa mengingat masa lalunya, tapi Dimas merasakan kebersamaannya bersama Ayana begitu istimewa. Dimas merasa ada perasaan nyaman dan tenang saat bersama dengan Ayana.
Sedangkan Ayana yang sudah lama tidak merasakan kebersamaan bersama Dimas pun begitu menikmati kebersamaan mereka saat ini. Mengingat waktu yang telah dilewatinya selama enam bulan ini, yaitu menunggu Dimas di rumah sakit dengan harapan sadar yang kecil. Ayana harus bersabar menunggu Dimas menjalani beberapa kali operasi yang sangat menegangkan.
Hal itu membuat kebersamaan nya bersama Dimas kali terasa sangat istimewa. Ayana merasa semua ini seperti mimpi yang menjadi nyata, hingga tidak bisa mengungkapkan rasa bahagia dalam hatinya.
Dimas dan Ayana check out dari hotel besok sorenya. Berniat pulang ke rumah Geno dan menginap beberapa hari di rumah Geno.
Dimas dan Ayana sampai di rumah Geno sebelum makan malam dimulai. Sehingga mereka bisa makan malam bersama-sama dengan Geno, Hilda dan Nando.
"Bagaimana keadaan kamu, Dim?"tanya Geno.
"Sudah lebih baik, pa. Tapi, aku belum bisa mengingat apa-apa. Kalaupun ada yang aku ingat, aku belum bisa mengingatnya dengan jelas,"jawab Dimas.
"Itu wajar saja. Jika sudah pulih nanti, kamu mau kembali membantu papa di perusahaan, 'kan?"tanya Geno penuh harap.
Mendengar pertanyaan dari Geno, Dimas dan Ayana pun saling bertatapan.
"Papa Buston meminta aku untuk membantu di perusahaannya, pa,"sahut Dimas merasa tidak enak hati pada Geno.
"Ya, sudah, tidak apa-apa,"sahut Geno yang sebenarnya agak kecewa. Tapi mau apalagi, Geno tidak bisa memaksa Dimas untuk membantu di perusahaannya. Lagipula, Geno juga merasa bahwa Buston memang lebih berhak dari pada dirinya untuk meminta bantuan pada Dimas.
"Apa kamu akan di jadikan pengganti Om Buston untuk memimpin perusahaan, Dim? Kemampuan berbisnis Axell tidak sehebat Om Buston, sedangkan si Delvin, sepertinya juga tidak lebih baik dari Axell. Aku rasa, Om Buston akan memilih kamu untuk menggantikan Om Buston,"ujar Nando yang sudah lebih mengenal keluarga Buston semenjak Buston mengakui jika Dimas adalah putranya.
"Aku tidak berminat, kak. Jika mengurus perusahaan, akan terlalu banyak menghabiskan waktu. Aku merasa lebih nyaman mengurus aset dan saham yang kami miliki dari pada harus bekerja di perusahaan dan masuk kantor setiap hari,"sahut Dimas yang merasa hatinya memang ingin seperti itu.
"Walaupun kamu amnesia, tapi jawaban kamu tetap sama jika di tanya soal pekerjaan,"ujar Hilda yang dari tadi tidak bersuara. Wanita paruh baya itu tersenyum tipis seraya menggelengkan kepalanya pelan.
"Lagipula, perusahaan itu bukan milik papa Buston. Perusahaan itu adalah milik almarhum kedua orang tua mam Liliana. Jadi, aku merasa tidak berhak atas perusahaan itu. Axell dan Delvin lah yang lebih berhak atas perusahaan itu,"sahut Dimas.
__ADS_1
Geno, Hilda dan Nando nampak terkejut dengan penuturan Dimas. Karena selama ini, mereka pikir perusahaan itu adalah milik Buston. Mereka tidak menyangka jika ternyata perusahaan yang di kelola oleh Buston adalah milik Liliana.
"Aku juga tidak setuju kalau kakak bekerja di perusahaan. Jika kakak kembali bekerja di perusahaan, kakak jadi nggak punya banyak waktu buat aku seperti dulu"sahut Ayana.
"Kamu terlalu posesif pada suami kamu. Bahkan waktu Dimas koma pun, kamu nggak mengizinkan tubuhnya di bersihkan oleh siapapun selain kamu,"sahut Nando.
"Apa kakak merasa menyesal karena setiap hari harus membantu aku membersihkan tubuh kak Dimas?"tanya Ayana dengan wajah cemberut.
"Aku tidak mengatakan aku keberatan membantu kamu membersihkan tubuh Dimas. Apa aku pernah mengeluh saat aku membantu kamu membersihkan tubuh Dimas? Aku hanya bilang kamu posesif,"sahut Nando yang saat Dimas koma memang selalu membantu Ayana membersihkan tubuh Dimas.
"Aku kira kakak menyesal karena selama enam bulan harus membantu aku membersihkan tubuh kak Dimas,"sahut Ayana tersenyum bodoh.
"Dasar! Jangan suka berprasangka buruk pada kakak kamu sendiri,"cetus Nando.
"Oh, ya, kalian akan menginap di rumah ini berapa hari?"tanya Hilda.
"Dua malam aja, ma,"sahut Ayana.
"Kedepannya, kami akan menginap seminggu sekali di sini, begitu pula di rumah mama Liliana. Aku ingin kami tinggal di kontrakan kami. Siapa tahu dengan tinggal di sana, ingatan kakak akan segera pulih. Karena banyak kenangan kami di rumah itu.
"Kamu benar. Dengan tinggal di rumah kontrakan kalian, mungkin ingatan Dimas akan segera bisa pulih,"sahut Geno.
"Kak, gimana hubungan kakak dengan kak Rengganis?"celetuk Ayana.
"Hubungan apa maksud kamu?"tanya Nando.
"Halahh.. kakak jangan ngeles, deh! Aku tahu, kakak suka, 'kan, sama kak Rengganis? Kalau suka ya, di kejar, kak! Jangan diam aja! Di embat orang baru tau rasa nanti,"sahut Ayana.
"Benar apa kata adik kamu, Nan. Kalau suka ya, di kejar saja. Menurut mama, Rengganis itu gadis yang baik dan sangat penurut pada Bu Ningsih. Berbeda dengan Bening yang berpura-pura baik pada ibunya saat berada di depan kita. Mama setuju kalau kamu mendekati Rengganis,"sahut Hilda antusias.
"Papa juga berpikiran sama dengan mama kamu, Ndo. Menurut papa Rengganis itu jauh lebih baik dari pada Bening. Walaupun dia hanya anak angkat Bu Ningsih, tapi dia terlihat sangat berbakti pada Bu Ningsih. Papa yakin, dia akan menjadi istri yang baik untuk kamu. Lagi pula, usia kamu juga semakin bertambah, mau menunggu umur berapa lagi kamu baru mau menikah?"timpal Geno.
__ADS_1
"Kalau kakak malas atau tidak punya waktu untuk mendekati kak Rengganis, langsung lamar saja, kak!"sahut Ayana.
"Apa kalian pikir, dia mau menikah dengan seorang duda seperti aku?"tanya Nando dengan senyuman kecut.
"Memangnya kenapa kalau kakak seorang duda? Toh, kakak duda yang belum punya anak. Usia kakak dan kak Rengganis sepertinya juga cuma beda lima tahunan aja dari kakak,"sahut Ayana.
"Apa kamu trauma karena Bening, Ndo? Tidak semua perempuan seperti Bening, Ndo,"ujar Hilda.
"Entahlah, ma,"sahut Nando menghela napas panjang.
"Kalau kakak takut kak Rengganis cuma baik covernya doang, mending kakak minta babang Diky untuk menyelidiki semua hal tentang kak Rengganis,"ujar Ayana serius.
"Aku tidak mau merepotkan Diky dengan mengurus masalah sepele seperti itu. Diky itu orang sibuk. Kasus yang ditanganinya juga bukan sembarangan. Malu aku minta tolong sama dia untuk menyelidiki hal sepele semacam ini,"sahut Nando.
"Aku setuju dengan Ayana, kak. Jika kakak menyukai Rengganis, lebih baik kakak selidiki dulu semua hal tentang Rengganis. Menurut aku, masalah jodoh itu bukan hal sepele, kak. Karena orang yang akan kita jadikan istri adalah orang yang akan menemani kita setiap hari dan sepanjang hidup kita, kak. Jadi wajar saja jika kita ingin tahu lebih detail tentang orang yang ingin kita jadikan pendamping hidup,"sahut Dimas.
"Papa juga sependapat dengan mama, Ayana dan Dimas. Kalau memang suka ya, di kejar saja. Kalau kamu ragu dengan kepribadiannya, ya, selidiki saja! Dan kalau nggak punya waktu buat pendekatan, tapi sudah merasa cocok, ya, langsung lamar saja,"sahut Geno serius.
Nando terdiam mendengar semua saran dari keluarganya. Semua yang dikatakan oleh keluarganya adalah benar. Dan memang semenjak pertama kali bertemu dengan Rengganis, Nando memang sudah menyukai Rengganis. Namun jujur Nando masih trauma dengan masa lalunya. Karena Bening yang dulu bersikap baik, lugu dan pengertian. Namun ternyata semua hanya covernya saja untuk menutupi sifat buruknya.
Nando menjadi tidak yakin dengan penilaiannya sendiri pada sikap seorang wanita. Istilah kata, takut tertipu dengan covernya. Karena covernya bagus, belum tentu isinya bagus. Begitu pula sebaliknya, yang covernya jelek, belum tentu isinya tidak bagus.
Seperti peribahasa “You can’t judge a book by its cover.” (“Kamu tidak bisa menilai buku dari sampulnya saja.”)
Arti peribahasa itu adalah jangan menilai sesuatu dengan cara penampilan mereka, sifat mereka yang sebenarnya mungkin benar-benar berbeda. Atau jangan menilai bobot atau nilai dari suatu hal dari penampilan luarnya saja.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1