SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
220. Nervous


__ADS_3

Acara pesta pernikahan Diky dan Wulan berjalan dengan baik dan lancar. Warga kampung Pak Parman dan juga warga dari kampung-kampung di sekitar kampung Pak Parman nampak sangat terhibur dengan kedatangan empat orang biduan terkenal dari ibu kota yang memeriahkan pesta pernikahan Diky dan Wulan itu.


Setelah acara selesai, Dimas, Ayana dan Toyib kembali ke rumah kontrakan mereka. Sedangkan Wulan dan Diky kembali ke rumah Wulan. Pasangan pengantin baru itu terlihat bahagia.


"Istirahat lah dulu! Kalian berdua pasti lelah. Bapak dan ibu akan kembali ke lapangan dulu,"ucap Bu Lastri.


"Kenapa harus kembali ke sana, lagi Bu? Bukannya sudah ada orang yang mengurus semuanya, ya?"tanya Diky yang memberikan uang lebih agar Bu Lastri dan Pak Parman tidak perlu turun tangan secara langsung untuk mengurus acara pernikahannya. Cukup membayar orang untuk mengurus semuanya. Supaya kedua mertuanya itu tidak kelelahan.


"Iya, semua sudah ada yang mengurusnya. Tapi masih ada nasi, lauk pauk, minuman, dan juga cemilan yang masih banyak tersisa. Jadi ibu dan bapak berniat untuk memberikannya pada orang-orang yang tidak mampu. Kalau ibu dan bapak membiarkannya di sana, nanti malah jadi rebutan dan bisa bikin kericuhan. Ibu tidak mau nanti ada kenangan orang-orang berebut makanan setelah acara pesta pernikahan kalian. Cukup janda gatel itu saja yang bikin kenangan buruk di pesta pernikahan kalian. Sudah tahu suami orang, masih saja di kejar-kejar. Nggak ngaca kalau Ayana itu lebih segalanya dari dia. Bawa emas di seluruh badan sudah macam toko emas berjalan. Dia pikir dia sudah kaya raya melebihi siapa saja. Nggak tahu kalau kekayaan dia tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan kekayaan keluarga Ayana,"ujar Bu Lastri yang merasa kesal dengan janda terkaya di kampungnya yang tadi sempat membuat keributan di pesta pernikahan putrinya gara-gara menggoda Dimas di depan umum.


"Dia memang kaya raya melebihi siapa saja, Bu. Tapi cuma di kampung kita,"sahut Pak Parman kemudian terkekeh.


"Kalau tidak ingat kita yang punya hajat dan harus menjaga wibawa, sudah ibu tampar, ibu jambak-jambak itu janda. Berani sekali mau merebut suami anak ibu,"ujar Bu Lastri nampak emosi.


Sudah lama Bu Lastri merasa jengkel dengan janda terkaya di kampungnya itu. Karena terus-terusan mencari informasi tentang Dimas yang sudah menjadi suami Ayana. Gadis yang sudah dianggapnya sebagai putrinya sendiri. Dan dari dulu selalu mencari kesempatan untuk mendekati Dimas. Sudah dibilang Dimas sudah menikah, tapi masih saja di pepet. Hal itu benar-benar membuat Bu Lastri menjadi emosi.


"Sudah! Sudah! Ibu, kok, jadi emosi. Nanti darah tinggi, loh! Toh, tadi dia juga sudah di keroyok sama ibu-ibu. Nggak bakalan lagi dia berani menggoda pria, apalagi suami orang. Kecuali dia pengen di usir dari kampung kita,"ujar Pak Parman.


"Ibu cuma kesel aja, Pak. Ibu tidak akan tinggal diam jika ada orang yang berani mengusik kebahagiaan anak-anak kita,"sahut Bu Lastri yang masih kesal dengan janda terkaya di kampung mereka.


"Sudah! Ayo kita balik lagi ke lapangan! Kita bagikan makanan dan minuman yang masih tersisa. Jangan sampai mubazir,"ujar Pak Parman yang ingin semua cepat beres.


"Iya, Pak,"sahut Bu Lastri, kemudian menatap Wulan dan Diky,"Ibu dan bapak tinggal dulu, ya! Kalian istirahat saja dulu,"ujar Bu Lastri.


"Iya, Bu,"sahut Diky dan Wulan bersamaan.


Sepasang pengantin baru itu menatap kepergian Pak Parman dan Bu Lastri yang keluar dari rumah, lalu mengendarai motor meninggalkan rumah itu.


"Greb"


"Astagaa.!"ucap Wulan yang terkejut karena tiba-tiba Diky memeluknya dari belakang.


"Aku sangat merindukanmu,"ucap Diky berbisik di telinga Wulan.


Tubuh Wulan terasa meremang saat napas Diky terasa hangat menyapu lehernya, yang berarti wajah pria itu begitu dekat dengan lehernya.


"Bang, a.. aku ingin membersihkan diri dulu. Aku terlalu banyak berkeringat hari ini. Tubuhku terasa lengket,"ucap Wulan tergagap saat Diky mulai mengecup lehernya.


Wulan merasa tidak percaya diri di peluk dan di cium Diky seperti ini, karena tubuhnya benar-benar terasa lengket setelah seharian menyambut tamu undangan.


"Tapi, masih harum, kok,"ucap Diky masih memeluk Wulan.

__ADS_1


"Izinkan aku membersihkan diri dulu, bang!"mohon Wulan.


"Okey, okey,"sahut Diky seraya melepaskan pelukannya.


"Abang istirahat saja di kamar. Ayo, aku tunjukkan kamarnya!"ajak Wulan berjalan lebih dulu menuju kamarnya.


Sepasang pengantin baru itu masih memakai pakaian pengantin mereka. Wulan menunjukkan kamarnya yang tidak begitu besar, dan sudah di dekorasi layaknya kamar pengantin baru pada umumnya.


"Maaf! Kamar ku tidak luas dan tidak sebagus kamar di apartemen Abang,"ucap Wulan yang merasa minder jika membandingkan antara kamarnya dan kamar Diky di apartemen Diky.


Yang pastinya kamar Wulan tidak bisa dibandingkan dengan kamar di apartemen milik Diky.


"Kenapa harus minta maaf? Aku tidak masalah dengan kamar ini,"ujar Diky seraya berjalan ke arah ranjang yang sudah di hias dengan mawar merah berbentuk hati. Pria itu duduk di tepi ranjang.


"Aku membersihkan diri dulu!"pamit Wulan.


"Okey,"sahut Diky seraya mengamati seluruh ruangan kamar Wulan.


Wulan mengambil pakaian ganti, lalu bergegas menuju kamar mandi yang letaknya berdekatan dengan dapur.


"Aku sudah tidak sabar untuk menerkamnya,"gumam Diky dalam hati. Pemuda itu tersenyum penuh arti menatap Wulan yang keluar dari kamar.


Wulan menyandarkan tubuhnya di balik pintu kamar mandi yang tertutup seraya memegangi dadanya yang berdetak tidak beraturan.


Dua puluh menit kemudian, Wulan sudah membersihkan diri. Jantung Wulan mulai kembali berdegup tidak beraturan saat akan melangkah menuju kamarnya.


"Huff.. aku rasanya tidak ingin masuk ke dalam kamar ku,"gumam Wulan yang berkali-kali mengatur napasnya.


"Ceklek"


Wulan membuka pintu kamarnya dan melihat Diky sedang mengetik di handphone nya. Pria itu sudah melepaskan pakaian pengantinnya. Saat ini pria itu hanya memakai celana panjang dan dan kemeja yang tiga kancing bagian atasnya sudah terbuka. Wulan nampak ragu untuk masuk ke dalam kamarnya sendiri.


"Emm.. bang, apa ingin aku buatkan sesuatu?"tanya Wulan.


"Tidak perlu,"ucap Diky seraya meletakkan handphonenya di atas nakas.


Pria itu tersenyum manis menatap Wulan yang rambutnya terlihat masih basah. Walaupun Wulan saat ini tidak memakai make-up, tapi wajahnya terlihat cantik, manis dan segar.


"Apa Abang memerlukan sesuatu?"tanya Wulan walaupun merasa jantungnya berdegup tidak beraturan.


"Ah, iya. Aku tadi pagi membawa tas ransel yang berisi pakaian. Apa kamu melihatnya?"

__ADS_1


"Ah, iya. Aku menyimpannya,"ucap Wulan bergegas menuju lemarinya. Gadis itu mengeluarkan tas ransel milik Diky dari dalam lemari pakaiannya,"Ini, bang,"ucap Wulan memberikan tas ransel itu pada Diky.


"Terimakasih,"ucap Diky menerima tas itu, kemudian mengambil kaos oblong dan celana pendek dan juga pakaian dalam dari dalam tas ransel itu,"Kamu simpan di sini saja pakaian ku ini. Biar nanti kalau menginap di sini, aku tidak perlu membawa pakaian lagi,"ujar Diky menyodorkan tasnya pada Wulan yang masih berdiri di depannya.


"Kalau boleh tahu, kita akan tinggal di mana, bang?"tanya Wulan mengingat selama ini mereka belum membahas di mana mereka akan tinggal setelah mereka menikah.


"Kemari lah!"ucap Diky seraya menepuk tempat sebelahnya duduk.


Wulan yang mengerti maksud Diky pun duduk di samping Diky dengan memangku tas ransel milik Diky.


"Aku ingin kita tinggal di apartemen ku. Karena di sana akan lebih dekat dengan kampus kamu. Dan tidak terlalu jauh juga dari kantor ku. Apa kamu tidak keberatan?"


"Terserah Abang saja, gimana baiknya. Aku ikut Abang saja,"sahut Wulan.


"Okey. Kalau begitu, besok kita akan mulai tinggal di sana. Kamu tidak perlu membawa pakaian dari sini. Aku sudah menyiapkan pakaian untuk kamu di apartemen ku,"ujar Diky yang memang sudah menyiapkan semua kebutuhan Wulan di apartemen miliknya dibantu oleh Ayana. Bahkan Diky meminta Ayana menyiapkan bahan masakan di dalam lemari pendingin miliknya agar Wulan bisa memasak untuk mereka berdua nanti.


"Hum,"sahut Ayana.


"Okey, aku mandi dulu,"ucap Diky beranjak dari duduknya dan bergegas menuju kamar mandi. Sekitar lima belas menit kemudian, Diky sudah kembali ke dalam kamar dan melihat Wulan sedang menyusun kan pakaian Diky di dalam lemari.


Wulan sengaja tidak menyusun kan pakaian Diky dari tadi. Dan sengaja baru menyusun kan nya saat Diky membuka pintu kamarnya. Semua itu dilakukan Wulan agar tidak merasa kikuk saat Diky kembali ke dalam kamarnya.


"Aku sudah tidak sabar untuk menerkamnya,"gumam Diky dalam hati, menatap Wulan yang berdiri di depan lemari pakaian.


"Greb"


Diky kembali memeluk Wulan dari belakang dan mencium leher Wulan dengan lembut. Tubuh Wulan pun terasa meremang karena ulah Diky itu.


"Aku ingin,"bisik Diky dengan suara sensuall. Pria itu mengecup leher Wulan dengan kedua tangan yang mulai bergerak di tubuh Wulan


"A.. Abang..."


...🌸❤️🌸...


Notebook :


•Dalam KBBI, mubazir berarti menjadi sia-sia atau tidak berguna; berlebihan; bersifat memboroskan.


•Nervous atau gugup adalah keadaan mental dan fisik yang disebabkan oleh sistem respons stres tubuh.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2