SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
190. Marah?


__ADS_3

Diky benar-benar merasa tidak tahan jika harus menunggu Wulan terlalu lama. Takut jika dirinya khilaf. Karena Diky memang merasa kesulitan mengendalikan diri saat bersama dengan Wulan.


"Tapi, bang, kita sudah sepakat untuk menikah setelah aku lulus kuliah,"sahut Wulan menundukkan kepalanya.


"Aku janji pernikahan kita tidak akan menganggu kuliah kamu, Lan. Please! Mau, ya, menikah secepatnya dengan aku!"pinta Diky seraya menggenggam ke dua tangan Wulan erat.


"Tunggu aku selesai kuliah aja, ya, bang?"pinta Wulan memberanikan diri menatap wajah Diky.


"Apa kamu tidak mencintai aku?"tanya Diky membuat Wulan terdiam. Bibirnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan Diky itu. Malu rasanya untuk mengatakan jika dirinya juga mencintai Diky.


Diky menghela napas berat, kemudian melepaskan tangan Wulan. Terlihat jelas kekecewaan di wajah pemuda itu.


"Ayo, aku antar kamu masuk!"ucap Diky terdengar datar, tanpa mau lagi menatap wajah Wulan.


Wulan terhenyak mendengar nada bicara Diky yang terdengar datar. Sebelumnya, tidak pernah Wulan mendengar Diky bicara dengan nada datar seperti itu.


Kecewa. Itulah yang dirasakan Diky saat mendengar jawaban Wulan yang belum ingin di ajak menikah. Apalagi saat Diky bertanya apakah Wulan mencintai dirinya. Wulan juga tidak menjawabnya, hingga membuat Diky merasa semakin kecewa. Diky merasa hanya dirinya yang menginginkan hubungan ini, sedangkan Wulan terlihat masih enggan untuk mengatakan cinta, apalagi menikah dengan dirinya.


Diky mengambil martabak manis dan martabak telur yang dibelinya dalam perjalanan pulang tadi dari motor, lalu masuk ke rumah bersama Wulan.


Setelah mengantarkan Wulan masuk ke dalam rumah, Diky langsung pamit pulang pada Pak Parman dan Bu Lastri. Walaupun Diky sudah mencoba menyembunyikan rasa kecewanya, tetapi tetap saja kekecewaan di wajah pemuda itu terlihat.


"Lan, kenapa wajah nak Diky seperti itu? Kayak nggak senang gitu. Apa kalian bertengkar?"tanya Bu Lastri yang tadi memperhatikan wajah Diky.


"Iya, Lan. Bapak juga melihat seperti itu. Ada apa, Lan?"tanya Pak Parman yang juga merasa Diky nampak tidak senang.


"Cuma beda pendapat dikit, doang, kok, Bu, Pak,"jawab Wulan yang tidak ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Jika aku bilang sama bapak dan ibu kalau bang Diky merasa kecewa karena aku belum mau di ajak nikah, aku pasti di suruh bapak dan ibu agar cepat-cepat menikah. Bang Diky, 'kan, menantu idaman bapak dan ibu,"gumam Wulan dalam hati.


"Ingat, Lan! Nak Diky itu tunangan kamu. Bukan pacar kamu. Kalau sampai pertunangan kalian putus, kita semua akan malu. Kalau ada masalah itu dibicarakan baik-baik. Jangan berantem! Pasti kamu telah berkata yang menyakiti atau menyinggung hati Nak Diky. Tadi ibu lihat, Nak Diky terlihat mesra saat membantu kamu melepaskan helm. Bahkan dia memegang tangan kamu. Pasti kamu telah salah bicara hingga Nak Diky merasa tidak senang,"ujar Bu Lastri yang tadi mengintip mereka dari jendela.


"Iya. Lan. Nanti coba kamu bicara lagi sama Nak Diky. Jangan membiarkan masalah berlarut-larut. Dalam sebuah hubungan, membiarkan masalah berlarut-larut itu tidak baik,"timpal Pak Parman.


"Kurang baik apa dia sama kamu, Lan? Lihatlah itu! Kamu bawa paper bag lagi. Itu pasti dibelikan oleh Nak Diky, 'kan? Sulit menemukan pemuda seperti Nak Diky Lan. Apalagi dia sudah tidak memiliki orang tua lagi. Jika kamu menikah dengan Nak Diky, kamu nggak perlu mendengar nyinyiran mertua. Apalagi harus tinggal bersama mertua dan saudara-saudara suami kamu,"ujar Bu Lastri nasehati.


"Iya, Bu. Aku akan bicara lagi sama bang Diky,"sahut Wulan agar tidak semakin diceramahi oleh bapak dan ibunya.


"Ya sudah, kamu istirahat dulu, sana! Besok minta maaf sama Nak Diky,"ujar Pak Parman.

__ADS_1


"Iya, Pak,"sahut Wulan kemudian langsung masuk ke dalam kamarnya.


"Wulan ini! Kurang baik apa Nak Diky padanya dan pada kita? Belum jadi suami Wulan aja Nak Diky sudah royal pada Wulan. Setiap jalan dengan Wulan, ibu juga selalu dikasih uang dan selalu membawa buah tangan untuk kita. Susah nyari pemuda yang kayak Nak Diky,"gerutu Bu Lastri yang merasa Wulan lah yang bersalah dalam pertengkaran Wulan dan Diky.


"Sering-sering di ingatkan aja, Bu. Wulan, 'kan, masih muda. Pikirannya belum dewasa. Jadi kita harus sering-sering menasehati Wulan,"sahut Pak Parman.


"Iya, Pak. Akan Ibu nasehati. Ibu nggak ikhlas kalau nak Diky gagal jadi menantu kita, Pak. Ibu sudah terlanjur suka sama Nak Diky. Orangnya ganteng, perhatian, sopan, royal. Begitu suka langsung melamar, bahkan mau langsung ngajak nikah. Nak Diky itu menantu idaman, Pak,"sahut Bu Lastri menghela napas panjang.


"Iya, Bu. Bapak juga sangat suka pada, Nak Diky. Bapak nggak punya waktu banyak bersama Wulan. Ibu, yang punya waktu lebih banyak dengan Wulan. Coba dinasehati Wulan pelan-pelan,"ujar Pak Parman.


"Iya, Pak,"


Wulan merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Wulan masih ingat bagaimana ekspresi wajah Diky saat dirinya menolak untuk di ajak menikah.


"Apa aku salah, jika aku menolak ajakan bang Diky untuk segera menikah? Bukankah sebelumnya, bang Diky sudah setuju jika aku kuliah dulu dan kami akan menikah setelah aku mendapatkan gelar sarjana? Kenapa sekarang bang Diky malah ingin kami segera menikah?Huff... Baiklah, besok aku akan bicara baik-baik dengan bang Diky. Aku akan minta maaf pada bang Diky,"gumam Wulan menghela napas panjang.


Keesokan harinya.


Wulan menatap handphone nya sambil menggigit bibirnya sendiri. Gadis itu nampak ragu untuk menghubungi Diky.


"Aku belum pernah menghubungi bang Diky. Aku harus ngomong gimana dulu, nanti,"gumam Wulan yang bingung bagaimana caranya mengawali pembicaraan dengan Diky.


Atensi Toyib yang sedang menyisir rambut teralihkan saat mendengar suara getar dari handphone Diky. Duda muda itu melihat ada panggilan masuk di handphone Diky.


"Dik, bini kamu nelpon, nih!"teriak Toyib pada Diky yang sedang mandi.


"Angkat aja! Bilangin aku lagi mandi,"sahut Diky dari dalam kamar mandi,"Ada apa Wulan menghubungi aku pagi- pagi begini? Selama ini dia nggak pernah menghubungi aku lebih dulu,"gumam Diky yang sebenarnya merasa terkejut saat Toyib mengatakan Wulan menelpon dirinya.


Toyib meraih handphone Diky, kemudian menjawab panggilan dari Wulan.


"Halo, Lan. Babang kamu masih mandi, Lan,"ucap Toyib sesuai permintaan Diky.


"Oh, masih mandi, ya, bang? Kalau begitu, nanti aku hubungi lagi,"sahut Wulan yang bisa mengenali bahwa yang mengangkat telepon adalah Toyib.


"Oky,"sahut Toyib.


Beberapa menit kemudian, Diky pun sudah keluar dari kamar mandi. Pria itu meraih handphonenya, lalu menghubungi Wulan.


"Halo, Lan!"ucap Diky seraya mengeringkan rambutnya.

__ADS_1


"Halo, bang!"sahut Wulan.


"Ada apa?"tanya Diky.


Wulan terdiam beberapa saat karena bingung harus bicara apa dulu.


"Lan, ada apa?"tanya Diky karena Wulan tidak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Emm.. soal semalam... aku minta maaf, bang. Aku benar-benar ingin fokus kuliah. Aku..."


"Aku mengerti,"potong Diky yang tiba-tiba merasa kesal saat Wulan menelpon dirinya untuk membahas tentang Wulan yang belum ingin menikah dengan dirinya karena ingin fokus pada kuliahnya.


"Buat apa dia menghubungi aku, jika hanya untuk memperjelas jika dia belum mau menikah dengan aku?"gerutu Diky dalam hati.


"A.. Abang marah?"tanya Wulan menjadi gugup saat mendengar suara Diky yang kembali terdengar datar.


"Tidak,"sahut Diky cepat,"Sudah tahu aku marah, masih nanya lagi,"lanjut Diky dalam hati.


"Aku minta maaf karena tidak bisa mengabulkan keinginan Abang,"ucap Wulan tidak enak hati.


"Hum,"sahut Diky hanya berdehem.


Diky jadi merasa malas membahas masalah ini. Karena ujung-ujungnya, Wulan akan tetap pada pendiriannya. Wulan baru mau menikah setelah mendapat gelar sarjana. Dan menurut Diky itu terlalu lama.


"Kalau begitu, aku tutup dulu teleponnya,"ucap Wulan dengan suara pelan.


Diky hanya diam. Tidak merespon kata-kata Wulan. Raut wajah pria itu melukiskan rasa kesal.


Karena Diky tidak menyahut lagi, akhirnya Wulan mengakhiri panggilan teleponnya.


"Bang Diky bilang tidak marah padaku. Tapi, aku merasa dia sedang marah padaku,"gumam Wulan yang terlihat sedih.


...🌟"Keegoisan hanya akan menghancurkan sebuah hubungan. Mencintai diri sendiri itu penting, tapi jangan sampai menganggap perasaan orang lain tidak penting."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


,

__ADS_1


To be continued


__ADS_2