SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
9. Cemburu Sama Kamu?


__ADS_3

Dimas melanjutkan langkah kakinya setelah merasa lebih baik. Tendangan Ayana di perut dan di pangkal pahanya tadi memaksa Dimas untuk beristirahat sebentar. Setelah singgah di beberapa rumah untuk menagih cicilan sekalian menjajakan barang baru, akhirnya Dimas harus mendatangi sebuah rumah yang saat ini rasanya enggan untuk dia datangi.


"Assalamu'alaikum!"ucap Dimas saat sudah berada di depan pintu sebuah rumah.


"Wa'alaikumus salam,"sahut suara cempreng dari dalam rumah membuat Dimas menghela napas panjang. Dimas sangat hafal dengan suara ini.


"Mau apa?"tanya gadis yang baru saja keluar dari dalam rumah itu terdengar ketus seraya melipat kedua tangannya di depan dada. Memperlihatkan wajah angkuhnya pada Dimas.


"Aku mau bertemu dengan Bu Lastri. Bukan dengan mu. Aku malas bertemu dengan mu,"ujar Dimas datar, kemudian duduk di kursi yang ada di teras rumah itu. Seperti biasa, pria itu mengacuhkan Ayana.


"Kamu pikir aku mau bertemu sales penjual daster mesum seperti kamu?"ketus Ayana menghampiri Dimas yang duduk di kursi dengan berkacak pinggang menatap tajam Dimas. Ayana masih merasa kesal pada Dimas yang telah memegang dadanya beberapa jam yang lalu.


"Aku sedang tidak ingin bertengkar dengan mu. Cepat panggilkan Bu Lastri! Aku tidak punya urusan dengan mu!"ujar Dimas yang juga terdengar ketus.


"Siapa bilang kita tidak punya urusan? Aku masih kesal denganmu karena sudah berani kurang ajar padamu tadi. Dasar sales mesum!"umpat Ayana.


"Aku tidak sengaja! Lagian, siapa suruh kamu mengganggu aku dan menghalangi jalanku? Kamu sendiri yang selalu mencari gara-gara dengan aku! Bahkan bukan cuma tadi. Dari awal kita bertemu sampai saat ini, kamu selalu mencari gara-gara dengan aku!"ketus Dimas.


"Aku?"tanya Ayana menunjuk dirinya sendiri,"Mencari gara-gara dengan kamu?"tanya Ayana menunjuk pada Dimas," Memangnya aku kurang kerjaan apa?"kilah Ayana menunjukkan wajah angkuhnya.


"Ohh.. jadi kamu tidak merasa suka cari gara-gara dengan aku? Biar aku ingatkan! Waktu pertama kali kita bertemu, kamu menabrak aku. Bukannya minta maaf, kamu malah mengolok-olok pekerjaan aku dengan memberiku gelar SPd, Sales Penjual daster. Kedua, kamu menabrak aku di gang. Bukannya minta maaf, kamu malah melempari aku dengan tomat. Dan yang ketiga adalah tadi, kamu sengaja melempari aku dengan jambu air, memukul wajah dan perutku. Bahkan kamu menendang pangkal pahaku dengan keras. Kalau terjadi apa-apa sama adik ku, apa kamu mau bertanggung jawab!"ujar Dimas panjang lebar terdengar ketus.


"Cih, tanggung jawab? Kamu duluan yang pegang-pegang aku sembarangan. Kenapa jadi aku yang harus tanggung jawab? Hello... situ masih waras nggak? Yang ada, harusnya aku yang melaporkan situ atas tuduhan pelecehan,"ketus Ayana.


"Dan aku akan melaporkan kamu atas tuduhan penganiayaan. Kamu duluan yang melempari aku dengan jambu air,"ujar Dimas tidak mau kalah. Namun dari tadi matanya hanya menatap bibir Ayana saat bicara dan juga saat cemberut. Entah mengapa Dimas merasa sangat gemas melihat bibir gadis belia itu.

__ADS_1


"Itu salah kamu! Kamu bikin aku sebel karena kamu cuekin aku,"kilah Ayana.


"Terserah aku, dong, mau cuekin siapa. Itu, 'kan urusan aku. Tidak ada undang-undang yang mengatur tidak boleh cuekin orang,"sahut Dimas tidak mau kalah..


"Cih, mentang-mentang dari pegang pegangan tangan sama janda kaya dan genit jadi sombong,"cibir Ayana masih menyilangkan kedua tangannya di depan dada, berdiri di depan Dimas.


"Kamu memata-matai aku, ya? Jangan- jangan kamu cemburu karena aku di godain sama janda tadi! Kamu naksir aku ya?"tuduh Dimas tersenyum miring.


"Apa? Aku memata-matai kamu? Cemburu sama kamu? Naksir sama kamu? Cih, najis! Hei, SPd! Alias Sales Penjual daster! Jangan GR, alias Gede Rasa! Situ punya kaca nggak di rumah? Umur situ sama aku beda jauh. Udah kayak Om sama keponakan. Lagian, aku ini cantik pari purna tanpa make-up. Nggak seperti pacar kamu yang janda gatel itu! Lipstik udah kayak habis makan ayam mentah, bedak udah kayak pakai tepung terigu.Sama sekali nggak bisa dibandingkan dengan aku yang cantik dan lahir ini. Banyak yang naksir sama aku, tapi aku tolak. Yang benar saja aku naksir sama Siti? Eh, sama situ? Mimpi! Mending cuci muka sana, biar bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang mimpi!"celoteh Ayana panjang lebar, namun Dimas malah fokus melihat bibir Ayana yang komat kamit menghinanya.


Dimas berdiri dari duduknya sehingga jarak Ayana dan Dimas hanya beberapa senti saja. Menyadari dirinya terlalu dekat dengan Dimas, Ayana pun mundur beberapa langkah.


"Sudah puas berkicau nya? Apa perlu aku belikan pisang yang banyak agar kamu bisa berkicau sepuasnya?"tanya Dimas tersenyum miring.


"Kamu pikir aku burung apa? Seenaknya saja bilang aku berkicau,"ketus Ayana.


"Eh, jangan sembarangan, ya, kalau ngomong. Enak saja membandingkan aku dengan burung!"sergah Ayana tidak terima.


"Aku rasa suamimu kelak harus menyiapkan stok headset yang banyak agar telinganya tidak tuli mendengar ocehan mu setiap hari. Aku kasihan sekali pada pria yang di takdirkan menjadi suamimu. Pria yang akan menjadi suamimu pasti akan terkena penyakit tekanan batin karena mulutmu yang pedas itu. Dan telinganya akan tuli karena mendengar mulut mu yang tidak bisa berhenti berkicau itu,"ujar Dimas membuat Ayana geram.


"Woi! Ngaca! Yang ada, yang jadi istri kamu yang akan terkena tekanan batin karena sering dicuekin sama kamu,"balas Ayana.


"Ada apa ini?"tanya Pak Parman yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah dengan suara serak, sambil menguap beberapa kali.


"Kenapa ribut sekali?"tanya Wulan yang ikut keluar sambil menggaruk-garuk kepalanya dengan rambut yang terlihat acak-acakan.

__ADS_1


"Apa tetangga kita ada yang berantem?"tanya Bu Lastri yang juga muncul dari dalam rumah yang juga menguap beberapa kali sambil mengucek matanya.


Nampaknya ketiga orang itu terbangun dari tidur mereka karena mendengar keributan yang di sebabkan oleh perdebatan Ayana dan Dimas.


"Eh, Bu Lastri, Pak Parman. Tadi ada orang yang lagi cemburu bikin keributan, Bu, Pak,"sahut Dimas seraya tersenyum manis dan ramah.


"Auwh!"pekik Dimas tiba-tiba, meringis menahan rasa sakit saat Ayana tiba-tiba menginjak kakinya sekuat tenaga.


"Kenapa?"tanya Pak Parman, Bu Lastri dan Wulan kompak bersamaan saat tiba-tiba Dimas memekik kesakitan sambil membungkuk.


"Maaf, kak Dimas SPd, Sales Penjual daster, yang ganteng, rupawan, mempesona, ditaksir janda kaya. Aku nggak sengaja menginjak kaki kak Dimas yang ganteng, rupawan,"ujar Ayana menekankan setiap kata-katanya, tersenyum lebar tanpa dosa menunjukkan gigi putihnya yang rapi.


"𝙂𝙖𝙙𝙞𝙨 𝙩𝙚𝙣𝙜𝙞𝙡 𝙞𝙣𝙞! 𝘽𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩𝙠𝙪 𝙚𝙢𝙤𝙨𝙞. 𝘼𝙠𝙪 𝙘𝙞𝙪𝙢 𝙗𝙞𝙗𝙞𝙧𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙜𝙚𝙢𝙖𝙨𝙠𝙖𝙣 𝙞𝙩𝙪, 𝙗𝙖𝙧𝙪 𝙩𝙖𝙝𝙪 𝙧𝙖𝙨𝙖!"gumam Dimas yang sebenarnya sangat gemas melihat bibir Ayana yang dari tadi terus berdebat dengan nya. Ingin rasanya Dimas mencium bibir gadis belia itu.


"𝙍𝙖𝙨𝙖𝙞𝙣! 𝙈𝙖𝙣𝙩𝙖𝙥, '𝙠𝙖𝙣, 𝙖𝙠𝙪 𝙞𝙣𝙟𝙖𝙠? 𝙎𝙚𝙚𝙣𝙖𝙠𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙠𝙪 𝙘𝙚𝙢𝙗𝙪𝙧𝙪! 𝙎𝙞𝙖𝙥𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙘𝙚𝙢𝙗𝙪𝙧𝙪 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙙𝙞𝙖? 𝙉𝙖𝙟𝙞𝙨!"gumam Ayana dalam hati.


Tidak cemburu? Benarkah? Ayana sampai berhenti dan bersembunyi di balik tiang listrik yang lumayan besar, di depan rumah Gendhis. Janda muda yang paling kaya di kampung itu. Saat melihat Dimas dan Gendhis duduk di teras rumah Gendhis beberapa jam yang lalu. Ayana sempat meremas jambu air yang baru saja dibelinya saat melihat tangan Dimas di pegang oleh Gendhis.


"Dasar sales gampangan! Janda gatel! Siang-siang begini malah pacaran di depan rumah.Tidak punya sopan santun! Tidak punya etika! Tidak punya akhlak! Memangnya dunia ini cuma milik mereka berdua apa? Yang lain ngontrak?"komat kamit mulut Ayana menatap Dimas dan Gendhis dengan wajah geram. Bersembunyi di balik tiang tadi siang sebelum akhirnya membuntuti Dimas, meledek, melempari jambu, mengumpat, berdebat dengan Dimas hingga berakhir menendang pangkal paha Dimas.


...🌸❤️🌸...


.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2