
Di sebuah rumah sederhana. Bu Ningsih dan Rengganis nampak bersiap-siap pergi. Setelah selesai bersiap-siap, Bu Ningsih dan Rengganis pun berangkat ke toko sembako mereka. Keduanya mengendarai motor matic yang baru di beli Bu Ningsih saat kembali ke kota itu. Motor yang dibeli secara cash karena kebetulan ada uangnya untuk membeli secara cash.
Sekarang mereka memiliki toko sembako yang di buka Bu Ningsih dengan menggunakan uang yang diberikan Nando dan menjual beberapa perhiasan milik Bening yang di berikan Nando pada Bu Ningsih.
"Kamu hari ini kuliah jam berapa, Nis?"tanya Bu Ningsih yang di bonceng Rengganis.
"Jam sepuluh, Bu. Nanti sore ada satu mata kuliah lagi. Jadi, aku pulang dulu setelah kuliah, nanti sore balik lagi,"sahut Rengganis.
"Ohh.. begitu. Kuliah itu berangkat dan pulangnya tidak menentu, ya? Kalau sekolah, 'kan, berangkat pagi pulang sore. Ibu nggak pernah kuliah, sih. Sekolah saja cuma sampai SMP,"ujar Bu Ningsih tersenyum masam. Mengingat dirinya yang tidak bisa mengenyam pendidikan lebih tinggi lagi. Karena faktor perekonomian kedua orang tuanya yang pas-pasan. Adiknya pun hanya lulusan SMA.
"Iya, Bu. Tapi, ibu tenang saja! Kalau nggak ada jadwal kuliah, aku akan tetap bantu ibu mengurus toko,"sahut Rengganis serius.
"Ada lima karyawan yang membantu ibu di toko. Kamu fokus saja pada kuliah kamu. Ibu ingin, kamu bisa mewujudkan cita-cita kamu"ujar Bu Ningsih tulus.
"Ibu jangan khawatir! Aku akan belajar dengan rajin dan giat,"sahut Rengganis penuh semangat.
Rengganis merasa sangat beruntung karena Bu Ningsih mengangkat dirinya sebagai anak. Bu Ningsih membawa dirinya ke kota, bahkan menguliahkannya. Rengganis tidak perlu lagi bekerja serabutan dengan pendapatan tidak menentu dan tinggal sendirian di gubuk bambu peninggalan kedua orang tuanya.
Setelah tinggal selama satu minggu bersama Rengganis di kampung, Bu Ningsih akhirnya mengangkat Rengganis sebagai putri angkatnya. Karena selama satu minggu tinggal bersama Rengganis, gadis itu memperlakukan Bu Ningsih dengan baik. Menganggap dan memperlakukan Bu Ningsih layaknya ibu kandungnya sendiri.
Karena Rengganis pernah bercita-cita menjadi guru, akhirnya Bu Ningsih memutuskan untuk kembali ke kota bersama Rengganis. Bu Ningsih membeli rumah sederhana sebagai tempat tinggal dan membuka toko sembako yang lumayan besar. Bu Ningsih juga menguliahkan Rengganis agar Rengganis bisa mewujudkan cita-citanya menjadi guru.
Awalnya Rengganis menolak niat Bu Ningsih untuk menguliahkan dirinya. Namun karena Bu Ningsih memohon-mohon pada Rengganis agar tidak menolak niat baik dan tulusnya, akhirnya Rengganis menurut dan kuliah seperti keinginan Bu Ningsih. Karena sesungguhnya, Rengganis juga ingin kuliah agar bisa mewujudkan cita-citanya menjadi guru.
Rengganis termasuk anak yang cerdas, karena selalu mendapatkan juara pertama di kelasnya. Namun sayang, waktu itu kedua orang tuanya meninggal sebelum dirinya lulus SMU. Beruntung Rengganis masih bisa mendapatkan ijasah SMU karena kemauan kerasnya. Namun sayangnya, pekerjaannya yang tidak menentu setelah lulus SMU, membuat Rengganis tidak bisa menabung untuk mencari pekerjaan di kota. Apalagi untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.
***
Di rumah pak Parman.
"Gimana, Bu? Apa bapak perlu minta ijin tidak bekerja untuk beberapa hari, agar bisa membantu ibu mengurus pernikahan Wulan?"tanya Pak Parman seraya menikmati secangkir kopi buatan istrinya.
"Nggak usah, Pak. Ibu masih bisa mengatasi semuanya. Nanti kalau ada yang tidak bisa ibu kerjakan, ibu akan minta bantuan bapak. Tapi, Pak, kita harus mengundang berapa banyak orang untuk acara pernikahan Wulan? Semalam Nak Diky memberikan uang seratus juta untuk biaya pernikahan dan..."
"Byurrr"
"Bapakk!"
Pekik Bu Lastri tidak melanjutkan kata-katanya saat tiba-tiba Pak Parman menyembur wajahnya dengan kopi.
"Uhuk..uhuk..uhuk..."
__ADS_1
Pak Parman terbatuk-batuk karena tersedak kopi yang sebagian di semburkan nya pada Bu Lastri tanpa sengaja.
"Ibu nggak kesurupan, Pak. Kenapa ibu di sembur? Mana pakai kopi lagi,"protes Bu Lastri bersungut-sungut seraya membersihkan wajahnya yang basah oleh semburan kopi Pak Parman.
"Maaf, Bu! Bapak tidak sengaja. Bapak kaget. Apa benar, Nak Diky memberikan uang seratus juta?"tanya Pak Parman memastikan.
"Iya, Pak. Semalam Nak Diky mentransfer uang ke Wulan. Katanya seratus juta dulu, nanti kurangnya berapa, Wulan di suruh bilang,"sahut Bu Lastri.
"Seratus juta, untuk mengundang seluruh warga kampung kita dan kenalan- kenalan kita di luar kampung sudah lebih dari cukup, Bu. Sudah bisa mengadakan resepsi pernikahan yang mewah,"ujar Pak Parman.
Maklum, di daerah pedesaan, biaya pernikahan tidak semahal biaya pernikahan di kota. Jadi wajar saja jika Pak Parman berkata seperti itu. Belum lagi, kenalan dari luar desa juga tidak terlalu banyak.
"Jadi, siapa saja yang akan kita undang, Pak?"
"Orang-orang yang kita kenal saja, Bu. Terutama orang-orang yang sudah pernah mengundang kita. Tapi pestanya agak mewah sedikit, lah, Bu. Biar nggak malu jika ada tamu dari pihak Nak Diky"ujar Pak Parman.
"Iya, ibu tahu,"sahut Bu Lastri.
"Kata Abang, biayanya banyak nggak apa-apa, Bu. Asalkan pernikahannya agak mewah dikit. Soalnya, bang Diky mau mengundang teman-temannya,"sahut Wulan yang tiba-tiba muncul.
"Tuh, benar, 'kam kata bapak. Nak Diky pasti mengundang teman-temannya,"sahut Pak Parman.
"Hidangannya nanti, jangan malu-maluin, Bu. Jangan cuma pakai karedok sama ayam dan ikan. Pakai rendang gitu, biar berkelas sedikit,"ujar Pak Parman.
"Tapi kalau bisa, uang seratus juta itu jangan sampai kurang, Bu. Lebih baik kalau ada sisa,"sahut Pak Parman.
"Nggak bakal, Pak. Tenang saja! Ibu akan membuat pesta mewah dengan budget rendah,"sahut Bu Lastri penuh keyakinan.
"Kamu nggak ketemuan sama Nak Diky di luar sana, 'kan, Lan?"tanya Pak Parman memicingkan sebelah matanya. Takut putrinya melakukan kesalahan yang sama seperti kemarin.
"Nggak, Pak,"sahut Wulan jujur.
"Jangan bohong lagi sama bapak dan ibu, Lan!"ujar Bu Lastri memperingati.
"Nggak Bu. Aku nggak bohong,"sahut Wulan.
Karena pernah dibohongi, Bu Lastri jadi agak kurang percaya pada Wulan. Itulah, mencari apalagi menjaga kepercayaan orang lain itu tidak mudah. Namun sekali kamu berkhianat, maka hancurlah kepercayaan yang kamu bangun dan jaga dengan susah payah dan waktu yang lama itu.
"Ingat, Lan! Kalian akan menikah tidak akan lama lagi. Jadi, tahan dulu sebentar. Lagian, dosa melakukan hubungan suami-istri jika belum menikah,"ujar Bu Lastri mengingatkan sekaligus menasehati.
"Iya, Bu,"sahut Wulan.
__ADS_1
"Kamu sudah mengkhianati kepercayaan bapak dan ibu sekali. Jangan sampai kamu mengulanginya lagi, Lan!"imbuh Pak Parman.
"Iya, Pak,"sahut Wulan.
"Jangan iya, iya, doang!"ujar Bu Lastri.
Wulan menghela napas panjang mendengar nasehat serta peringatan dari bapak dan ibunya. Kepercayaan yang pernah dikhianatinya lah penyebabnya.
"Aku berangkat kuliah dulu, Pak, Bu,"pamit Wulan sebelum diceramahi lebih banyak lagi.
"Iya, hati-hati!"sahut Bu Lastri.
"Bisa, apa tidak mengeluarkan motornya?"tanya Pak Parman.
"Di bantu sana, Pak! Jangan ditanya lagi! Sudah tahu susah ngeluarin motornya, bapak malah masih nanya,"ujar Bu Lastri.
"Iya..iya.. Bu. Perasaan, bapak salah mulu di mata ibu. Nanti bapak pindah ke hidung ibu saja biar nggak selalu salah,"ujar Pak Parman seraya beranjak dari duduknya.
"Nggak lucu!"ketus Bu Lastri.
"Wanita memang maha benar,"gumam Pak Parman seraya berjalan keluar dari ruangan makan.
"Karena laki-laki memang selalu salah. Nggak peka! Gimana mau bener?"sahut Bu Lastri yang masih mendengar gumaman Pak Parman.
Pak Parman hanya bisa menghela napas panjang mendengar perkataan Bu Lastri. Akhirnya Pak Parman memilih mengeluarkan senjata paling pamungkas, yaitu DIAM. Karena diam lebih aman dari pada bicara tapi salah dan tentunya akan menambah masalah.
Pak Parman membantu Wulan mengeluarkan motor matic pemberian Diky. Karena sejak kejadian di apartemen kemarin, Diky mewanti wanti Wulan agar memakai motor pemberiannya.
...πππ...
...Diam itu bukan berarti takut bicara, tetapi lebih berharap selektif dalam menyuarakan kata-kata....
...Dari pada bicara tapi menyakiti hati orang lain. Lebih baik kau diam membisu seribu bahasa....
...Dan seandainya membisu lebih baik, maka biarkanlah pembuktian yang berbicara....
...Diam jauh lebih elegan daripada sibuk menghakimi dan mengumbar kesalahan orang lain. Apalagi jika sampai lupa bercermin....
...πΈβ€οΈπΈ...
.
__ADS_1
To be continued