
Diky dan Wulan baru saja sampai di apartemen mereka. Wulan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.
"Lelahnya.."gumam Wulan seraya memejamkan matanya.
Diky yang melihat Wulan di atas ranjang pun tersenyum smirk dan perlahan mendekati Wulan.
"Brugh"
"Abang!"pekik Wulan yang terkejut saat tiba-tiba Diky menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Wulan. Diky bertumpu pada kedua lengannya agar tidak terlalu menindih Wulan. Pria itu malah terkekeh melihat istrinya yang terkejut.
"Issh.. Abang jahil, deh!"ujar Wulan bersungut-sungut.
"Mandi bareng, yuk! Biar seger dan capeknya hilang,"bujuk Diky penuh modus. Membelai pipi Wulan penuh senyuman.
"Nggak mau, ah!"sahut Wulan seraya memalingkan wajahnya yang memerah,"Malu aku, jika harus mandi bareng Abang. Walaupun Abang sudah melihat seluruh tubuh ku, tetap aja aku malu,"gumam Wulan dalam hati.
"Iish.. bikin gemes, deh!"ujar Diky lalu menggosok-gosokkan hidungnya di pipi Wulan yang memerah, lalu mengecupnya beberapa kali, membuat Wulan semakin tersipu.
"Abang, Abang mandi dulu, gih! Aku akan memasak untuk makan malam kita,"ujar Wulan menatap wajah suaminya yang berada tepat di atasnya tubuhnya.
"Nggak perlu masak. Beli online aja! Saat aku ada di rumah, semua waktu kamu hanya untuk ku. Kamu tahu, 'kan, aku tidak punya banyak waktu untuk bersama kamu? Jadi, kita manfaatkan waktu kebersamaan kita sebaik mungkin. Karena itu, kita mandi bareng, yuk!"ajak Diky sekali lagi.
"Astagaa! Abang ngebet banget, sih, pengen mandi bareng?"gumam Wulan dalam hati.
"Aku gendong ke kamar mandi, ya?"tanya Diky beranjak dari atas tubuh Wulan.
"Aku bisa jalan sendiri,"sahut Wulan bergegas turun dari ranjang.
Baru saja Diky akan menyusul Wulan, namun suara dering handphonenya membuat Diky mengurungkan langkah kakinya untuk menyusui Wulan dan melihat siapa yang menghubunginya.
"Nando? Tumben sekali dia menghubungi aku?"gumam Diky saat melihat siapa yang menghubunginya, lalu menerima panggilan masuk itu.
"Halo, Ndo?"
"Halo, Dik! Kalian sudah pulang, 'kan?"tanya Nando dari sebrang telepon.
"Baru saja sampai apartemen. Ada apa, Ndo? Apa ada yang penting?"
"Iya, nih, Dik. Aku mau minta bantuan sama kamu,"
__ADS_1
"Okey, nggak masalah. Asal aku bisa, pasti aku bantu,"
"Aku ingin minta bantuan kamu buat menyelidiki kasus penangkapan seorang mahasiswi hari ini. Dia mahasiswi di kampus yang sama dengan Ayana dan Wulan kuliah. Namanya Rengganis, dia di tangkap karena polisi menemukan barang terlarang di dalam tasnya. Tapi aku yakin dia hanya di jebak. Kemungkinan, mahasiswa yang bernama Tony yang menjebaknya. Karena beberapa hari lalu dia berusaha melecehkan Rengganis, tapi Rengganis di tolong seseorang dan orang itu menghajar mahasiswa yang namanya Tony itu sampai babak belur. Aku rasa, mungkin dia dendam pada Rengganis,"
"Apa gadis itu kenalan kamu?"
"Dia putri angkat Bu Ningsih. Ibu almarhum istri ku,"
"Ohh, begitu. Okey, aku akan segera bergerak untuk menyelidiki kasus ini,"
"Thanks, Dik!"
"Tidak usah sungkan seperti itu,"
Tidak ingin membuang-buang waktu. Setelah panggilan itu diakhiri, Diky pun segera menghubungi anak buahnya. Memberikan tugas pada anak buahnya sesuai keahlian mereka masing-masing.
Sedangkan di kamar mandi..
"Aku selamat. Abang masih sibuk menelpon dan aku sudah selesai mandi,"gumam Wulan setelah selesai mandi. Merasa senang karena tidak jadi mandi bersama Diky, karena suaminya itu sibuk menerima telepon.
"Akkhh! Abang! Abang membuat aku kaget,"pekik Wulan seraya memegang dadanya karena saat membuka pintu kamar mandi, Diky sudah berada di depan pintu kamar mandi.
"Abang mandi, gih! Aku akan memesan makanan via online. Abang ingin makan apa?"tanya Wulan mengalihkan pembicaraan.
"Makan apa saja. Tapi yang pastinya,.aku akan memakan kamu malam ini,"
"Cup,"
Diky mencium bibir Wulan, kemudian melenggang masuk ke dalam kamar mandi.
"Dasar Abang!"gumam Wulan lirih, mengulum senyum, meraba bibirnya yang di kecup suaminya, kemudian bergegas memesan makanan via online.
Di sisi lain, Axell dan Delvin mendatangi kantor polisi tempat Rengganis di tahan. Entah mengapa Axell merasa kasihan dan peduli pada gadis itu.
"Kakak peduli amat pada gadis itu. Padahal, 'kan, cuma sekali ketemu. Jangan-jangan kakak suka, ya, sama dia? Naksir? Atau jatuh cinta pada pandangan pertama? Emang cantik, sih, gadis yang bernama Rengganis itu. Kelihatannya juga masih polos,"ujar Delvin mensejajarkan langkah kakinya dengan langkah kaki kakaknya.
"Cerewet! Aku hanya bersimpati pada dia. Apa salahnya membantu orang yang tidak bersalah? Aku akan merasa berdosa jika gadis itu dihukum, tapi bukan karena kesalahannya,"sahut Axell.
"Halo, Tuan Nando, saya sudah mengurus semuanya. Jika memang gadis yang bernama Rengganis itu tidak bersalah, dan kita mendapatkan bukti-bukti yang kuat, maka kita bisa secepatnya mengeluarkan gadis itu dari penjara, sekaligus membersihkan nama baiknya,"ujar seorang pria yang sedang bicara melalui sambungan telepon.
__ADS_1
Axell yang mendengar nama Rengganis disebut pun langsung menarik Delvin untuk bersembunyi di balik mobil yang tidak jauh dari pria yang sedang menelpon itu berada.
"Ada apa, kak?"tanya Delvin dengan suara pelan, karena sadar jika dirinya sedang di ajak bersembunyi oleh kakaknya.
"Ssttt.! Diam dulu!"ucap Axell pelan seraya meletakkan jari telunjuknya di bibirnya sendiri sebagai isyarat agar Delvin diam.
Delvin pun menurut dan diam sesuai kemauan Kakaknya. Memasang telinganya baik-baik seraya mengawasi tempat di sekitar mereka.
"Apa? Tuan meminta detektif Diky yang terkenal itu untuk menyelidiki kasus ini? Saya yakin kasus ini akan segera selesai jika detektif Diky yang menyelidikinya,"ujar pria yang sedang menerima telepon itu dengan senyuman lebar.
"Baik, Tuan. Sebagai pengacara nona Rengganis, saya akan bekerja sama dengan baik bersama beliau. Saya belum pernah melihat wajah detektif terkenal itu. Saya sangat penasaran dan ingin sekali bertemu dengan dia,"ujar pria itu terlihat antusias.
Setelah selesai menelpon,. pria yang ternyata berprofesi sebagai pengacara itu pun masuk ke dalam salah satu mobil yang ada di tempat parkir itu, lalu meninggalkan tempat itu.
Mengetahui pria itu sudah pergi, Axell pun keluar dari tempat persembunyiannya diikuti oleh Delvin.
"Sepertinya Rengganis sudah ada yang menolong. Bahkan orang yang menolong gadis itu tidak tanggung-tanggung. Dia sampai menyewa seorang detektif terkenal untuk menolong Rengganis,"gumam Axell yang masih bisa didengar oleh Delvin.
"Detektif yang misterius itu, ya, kak?"
"Iya. Aku bahkan belum pernah bertemu dengan dia. Detektif satu itu tidak sembarangan menerima klien. Dan tarifnya juga sangat mahal. Tapi memang kinerjanya cepat dan bagus,"
"Siapa nama orang yang disebut pria tadi, kak? Kalau nggak salah Nando, ya?"
"Iya. Kalau di dunia bisnis, aku tahu siapa orang yang bernama Nando ini. Dia adalah putra Tuan Geno, rekan bisnis papa. Kakak dari wanita yang membuat kamu patah hati,"cibir Axell.
"Cih! Kakak tidak usah mengingatkan aku soal itu!"protes Delvin, tapi Axell malah tertawa.
"Iya.. iya.. kamu memang harus melupakan dia! Kamu memang kalah telak dengan suami gadis itu. Kalah, postur tubuh, kalah tampan, kalah cepat, kalah pintar dan kalah kaya. Kamu sekarang tidak punya apa-apa, jika tidak diberi papa dan mama. Sedangkan pria itu, sudah memiliki kekayaan yang lumayan banyak dengan kerja kerasnya sendiri,"ujar Axell yang sudah mengetahui sebagian informasi tentang Dimas.
"Kakak malah menuju orang lain dan merendahkan aku,"gerutu Delvin.
"Sudahlah! Ayo kita balik. Aku yakin gadis itu akan baik-baik saja jika detektif terkenal itu sudah turun tangan,"ujar Axell, kemudian kembali ke mobilnya.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1