SPD (Sales Penjual Daster)

SPD (Sales Penjual Daster)
199. Tidak Sesuai Skenario


__ADS_3

Risna bergegas ke kamar mandi, saat sudah masuk ke dalam unit apartemen Diky. Sedangkan Diky mengawasi Wulan yang ternyata benar-benar mengikuti mereka. Diky dapat mengawasi Wulan yang ada di luar unit apartemen nya karena Diky memasang cctv di depan unit apartemennya. Dua cctv. Satu mengarah ke lift agar bisa melihat siapa saja yang keluar dan masuk dari lift, dan satunya mengarah ke depan pintu unit apartemennya.


"Sampai kapan dia akan diam di luar unit apartemenku? Ini tidak seperti skenario ku. Aku berharap dia melabrak aku saat di depan toko alat tulis tadi karena aku bersama gadis lain. Tapi tidak terjadi. Di jalan tadi aku sengaja menyuruh Risna memeluk aku agar dia cemburu dan menghadang jalanku, tapi tidak dilakukannya. Sekarang, aku berharap dia mengamuk menggedor-gedor pintu apartemen ku karena aku masuk ke apartemen ku dengan seorang wanita. Tapi tidak terjadi juga. Sepertinya dia hanya penasaran dan sama sekali tidak cemburu. Semua yang terjadi hari ini, benar-benar tidak sesuai skenario. Dan itu berarti dia benar-benar tidak mencintai aku. Lalu untuk apa dia mengikuti aku sampai ke apartemen ini dan berdiri di depan unit apartemen ku seperti itu? Aku benar-benar tidak bisa menebak jalan pikiran Wulan,"gumam Diky menghela napas panjang.


Diky terus mengamati Wulan dari kamera cctv, hingga lupa jika Risna sudah lama di dalam kamar mandi.


"Woi! Ris! Kamu nggak pingsan, 'kan, di dalam sana?"tanya Diky menjadi khawatir.


"Aku sakit perut, Dik!"sahut Risna dari dalam kamar mandi.


"Salah kamu sendiri! Sudah di bilang jangan terlalu pedas pesan tahu gejrot nya, tapi kamu nya ngeyel. Ya, sudah! Rasain, tuh, sakit perut,"ujar Diky yang tadi memang melarang Risna mesan tahu gejrot terlalu pedas.


"Teman luknut kamu, Dik! Teman sakit malah di syukurin,"gerutu Risna dari dalam kamar mandi.


Diky hanya geleng-geleng kepala seraya mencari obat sakit perut.


Sedangkan Wulan, gadis itu terlihat mondar-mandir di sekitar unit apartemen Diky. Untung saja tidak ada orang yang lalu lalang di sekitar unit apartemen Diky. Jadi tidak ada yang menegur Wulan yang sudah setengah jam lebih di tempat itu.


"Apa yang mereka lakukan di dalam sana? Mereka tidak berbuat yang macam-macam, 'kan? Tidak! Tidak! Aku harus berpikir positif. Bang Diky itu pria baik-baik. Bang Diky tidak akan berbuat macam-macam. Karena jika bang Diky bukan pria baik-baik, kak Dimas tidak akan bersahabat dengan bang Diky,"gumam Wulan dalam hati. Berusaha berpikir positif tentang Diky. Tidak berani bertamu di apartemen tunangan nya sendiri. Walaupun sebenarnya Wulan sangat penasaran dengan apa yang dilakukan Diky dan gadis itu di dalam unit apartemen Diky.


"Ris! Kalau udah cepetan keluar. Minum obat dulu!"ujar Diky dari luar kamar mandi.


"Bentar lagi, Dik!"sahut Risna dari dalam kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, akhirnya Risna keluar juga dari dalam kamar mandi. Wajah gadis itu terlihat pucat dan lemas.


"Ha.ha.ha. muka kamu sudah mirip Mbak Kunti, Ris,"ucap Diky malah terkekeh melihat penampilan Risna itu.


"Sialan kamu, Dik!"umpat Risna kesal.

__ADS_1


Ini, makan roti dulu! Sudah itu minum obat,"ucap Diky menyodorkan sebungkus roti, obat dan air minum.


Risna memakan roti, lalu meminum obat yang diberikan oleh Diky.


"Dik, bisa numpang rebahan, nggak? Aku lemes banget, nih!"ujar Risna masih terlihat lemah.


"Di sofa aja, ya! Kamar di apartemen aku ini cuma ada satu. Nggak baik, cewek tidur di kamar cowok,"ujar Diky yang merasa tidak nyaman jika kamarnya di gunakan seorang wanita yang hanya teman biasa.


"Terserah lah! Yang penting aku mau rebahan dulu,"sahut Risna.


Diky memapah Risna ke sofa panjang, lalu membantu Risna berbaring.


Setelah setengah jam lebih, Wulan berada di sekitar unit apartemen Diky. Wulan akhirnya turun ke lantai satu. Wulan memilih duduk di lobby apartemen. Entah mengapa gadis itu masih enggan untuk pergi dari apartemen Diky. Tapi juga tidak berani menemui Diky di unit apartemen Diky.


"Aku akan menunggu gadis itu pergi. Setelah gadis itu pergi, aku akan bicara dengan bang Diky,"gumam Wulan dengan hati gelisah.


"Apa lagi yang bisa aku harapkan dari hubungan ini? Akan lebih baik jika aku melepaskan dia, dari pada hatiku semakin sakit karena sudah terlalu dalam mencintai dia,"gumam Diky akhirnya menyerah dengan hubungan yang dijalaninya bersama Wulan.


Setelah setengah jam berbaring di sofa, Risna yang sempat terlelap itu akhirnya bangun. Walaupun Risna masih merasa agak lemas.


"Dik, aku mau pulang,"ucap Risna, membuat Diky yang fokus pada handphonenya menatap Risna yang beranjak duduk.


"Aku pesankan taksi online aja, ya? Aku takut kamu jatuh jika aku bonceng sama motor. Soalnya kamu sepertinya masih lemas,"sahut Diky.


"Iya,"sahut Risna.


Setelah taksi yang dipesan Diky sudah semakin dekat dengan apartemen Diky, Diky pun membantu Risna turun ke lantai satu. Pemuda itu memapah Risna yang masih lumayan lemas itu.


"Cemen, kamu Ris! Baru gitu aja sudah lemes,"ujar Diky saat mereka sudah berada di lantai satu.

__ADS_1


Wulan yang mendengar suara Diky pun menoleh dan melihat Diky memapah Risna yang wajahnya terlihat pucat dan lemas.


"Aku seperti ini juga karena salah kamu, Dik,"sahut Risna tidak mau di ledek Diky.


"Kok, salah aku? Yang minta nambah, 'kan, kamu sendiri,"sahut Diky yang tidak mau disalahkan, karena sudah memperingatkan Risna agar tidak menambah cabe di tahu gejrot nya tadi.


"Karena yang ngajakin duluan, 'kan, kamu,"sambar Risna. Karena memang yang mengajak membeli tahu'gejrot tadi adalah Diky.


"Sudahlah! Yang sudah terjadi tidak bisa di perbaiki lagi. Sudah terlanjur. Sudah kejadian. Mau bagaimana lagi,"sahut Diky pasrah.


"Apa.. apa yang mereka bicarakan itu? Apa yang mereka lakukan di dalam apartemen tadi? Apa mereka.. mereka melakukan... Tidak! Tidak! Tapi, bagaimana jika bang Diky benar-benar melakukan hubungan yang tidak seharusnya dengan gadis itu,"gumam Wulan dalam hati. Kedua tangan gadis itu meremas baju yang dipakainya dengan ekspresi wajah yang tidak terbaca.


Mendengar percakapan antara Diky dan Risna, Wulan pun menjadi salah paham. Wulan menyangka jika Diky dan gadis yang bernama Risna itu telah melakukan sesuatu yang seharusnya tidak di lakukan.


Setelah membantu Risna masuk ke dalam mobil, Diky pun berniat kembali ke unit apartemennya.


"Dia belum pergi? Aku kira, dia sudah pergi. Apa sebenar yang dilakukan gadis itu?"gumam Diky dalam hati saat tanpa sengaja melihat Wulan masih berada di lobby apartemen yang kali ini cukup ramai.


...🌸❤️🌸...


Notebook :


Skenario adalah sebuah naskah cerita yang menguraikan urut-urutan adegan, tempat, keadaan, dan dialog, yang disusun dalam konteks struktur dramatik; fungsinya adalah untuk digunakan sebagai petunjuk kerja dalam pembuatan film.


Tahu gejrot adalah makanan khas Cirebon, Jawa Barat, Indonesia yang terbuat dari tahu dan bumbu lainnya. Tahu gejrot terdiri dari tahu yang sudah digoreng kemudian dipotong agak kecil lalu dimakan dengan kuah yang bumbunya terdiri dari cabai, bawang putih, bawang merah, dan gula. Tahu yang digunakan biasanya adalah tahu Sumedang . Wikipedia.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2