Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Pram rindu Ara


__ADS_3

Pram


Aku ada kuliah pagi ini. Aku siap-siap berangkat kuliah. Jarak kosku dengan kampus tempatku kuliah gak jauh, jadi 15 menit berjalan aku sudah sampai di kampus.


Saat aku akan masuk ruangan, ada yang memanggilku.


"Pram, tunggu..." Pipin memanggilku.


Aku menoleh dan tersenyum. "Hai Pin, ada apa?"


"Kamu kuliah sampai jam berapa?" tanyq Pipin.


"Aku kuliah sampai jam 10, ada apa Pin?" tanyaku.


"Ooh gitu, nanti selesai kuliah bisa anterin aku ke toko buku gak? Aku gak ada temen jalan. Kamu bisa kan?"


"Oh siap Pin, nanti selesai kuliah aku tunggu kamu di bawah pohon itu yaa?" jawabku sambil menunjuk bangku taman yang ada di bawah pohon.


Pipin mengangguk dan mengacungkan jempolnya. Kemudian berlalu.


Pipin adalah kakak tingkat yang menggojlok aku waktu ospek kemarin. Pipin gadis Aceh yang periang, cantik dan baik. Sejak awal bertemu, Pipin sering memberi perhatian lebih kepadaku. Aku bisa merasakannya, namun hatiku masih tertambat untuk Ara.


Saat jam pertengahan jam kuliah, aku mengantuk. Untung saja dosenku gak perhatiin. Semalam aku kurang tidur, gak tahu mengapa mataku sulit terpejam. Bayangan Ara selalu di pikiranku. Aku merindukannya.

__ADS_1


Selang beberapa jam, tak terasa kuliahku sudah selesai. Aku ingat kalo sehabis jam kuliah ini Pipin minta aku menemaninya ke toko buku.


Aku keluar ruangan dan berjalan menuju bangku taman tempat aku janjian bertemu Pipin.


"Hai Pram, kamu gak ada kuliah yaa?" tanya Agus sambil berjalan di sampingku. Agus adalah seniorku seangkatan dengan Pipin.


" Baru aja selesai. Aku diajak Pipin ke toko buku, ikut yuk..."


"Ooh gitu yaa... gak ah ntar aku malah jadi nyamuk. Aku nungguin Yola selesai kuliah,katanya minta diantar ke perpustakaan."


"Pram, bagaimana hubunganmu dengan Pipin, sudah ada kejelasan?" tanya Agus.


"Maksudmu apa Gus? Aku gak ada hubungan apa-apa dengan Pipin. Cuma teman gak lebih," jawabku.


Agus membalasku," Yaa bagaimana kelanjutannya maksudku, aku lebih suka Pipin ma kamu daripada ma si sontoloyo Armando. Kasian masak orang sebaik Pipin akan jatuh ke tangan Armando."


Aku terdiam. Aku hanya bisa menghela nafas.


"Pram... kamu dengar gak omonganku barusan?" Agus menunggu jawabanku.


"Aku gak tahu Gus, masih ada yang aku pikirkan. Aku belum bisa," jawabku. Pikiranku kacau, aku memikirkan Ara. "Aku ingin Ara, batinku. Ada kerinduan yang sangat dalam untuk Ara.


"Hai Pram, Gus... Ayo lagi bahas apa nih, kok Pram kusut gitu mukanya." Pipin tiba-tiba datang.

__ADS_1


Aku hanya menggeleng dan tersenyum.


"Gak ada Pin, ne biasa Pram kambuh sakit lamanya, kurang tidur. Jadi tadi pas jam kuliah malah tidur di ruangan," jawab Agus sekenanya.


"Ooh gitu.." Pipin tersenyum.


"Pin, katanya kamu mau pergi ke toko buku ma Pram. Ya udah jalan dah, aku mau nungguin Yola selese kuliah dulu. Yola minta dianter ke perpustakaan,"kata Agus.


Lalu aku menawarkan ke Pipin, "Bagaimana kalo kita ke perpustakaan aja Pin, gak usah ke toko buku. Biar bisa barengan ma Agus dan Yola. Kan seru Pin, " kataku.


Pipin cemberut mendengar perkataanku. "Ya udah kalo kamu gak mau anter aku ke toko buku,, ya udah bilang aja terus terang. Aku bisa pergi sendiri kok." Pipin ngambek dan langsung buang muka.


"Bukan begitu Pin, aku kan cuma menawarkan aja, kalo kamu gak mau ya gak apa-apa. Ayo dah aku antar kamu ke toko buku, tapi dengan catatan jangan ngambek gitu dong, muka pake ditekuk kayak gitu. Aku gak suka Pin," jawabku kesal.


Pipin langsung tersenyum dan langsung minta maaf, "Jangan marah dong Pram. Please..." Pipin


memohon supaya Pram gak marah.


Aku masih kesal dan menunduk.


"Udah, kamu jalan aja temenin Pipin ke toko buku Pram, " kata Agus menyudahi agar aku gak berantem ma Pipin.


Akhirnya aku dan Pipin pergi ke toko buku.

__ADS_1


__ADS_2