
Aku bergegas pulang. Karena jarak antara rumah dan toko tidak jauh, jadi dalam waktu kurang 15 menit aku sudah sampai di rumah.
Sesampainya di rumah, suamiku menyapaku.
"Ma...Kok tumben sampai rumah jam seginian.Ramai yaa yang belanja." Kata suamiku.
"Gak Pa... Tadi Aku dan Siti urus kiriman paket Pa, dan gak sadar kalau waktu sudah hampir gelap."Kataku sedikit berbohong.
Suamiku mengangguk sambil memandang ku dan tersenyum.
"Pa, aku mandi dulu ya.. Badanku terasa bergetah semua." Kataku sambil berjalan masuk ke kamar mandi.
"Papa bantu mandi nya gak?" Suamiku menggoda ku.
Aku hanya tertawa. Kemudian aku lanjut aktivitas mandi.
Tak berapa lama aku sudah selesai mandi.
"Hmmm Cantiknya istriku, sekarang sudah harum. Sini deket Papa."
Aku hanya tersenyum dan berkata ," Pa... Mama mau siapkan untuk makan malam dulu yaa. Mama mau ke dapur dulu." Aku cium pipi suamiku
"Ya Ma..."
Aku menyiapkan makan malam, kali ini gak ada yang bantuin. Karena aku lihat tadi Azka lagi sibuk kerjakan PR nya.
Tidak berapa lama makan malam siap, dan kamipun makan malam bersama.
Selesai makan malam, semua kembali ke aktivitasnya masing-masing.
Aku duduk di kamar, sambil mengecek handphone ku, siapa tahu ada orderan yang masuk. Sementara suamiku di ruang kerjanya, sedang melanjutkan pekerjaan nya yang belum selesai.
Kemudian aku mengirim beberapa foto jualanku ke Pram untuk dipromosikan.
Dan ternyata Pram lagi online, dan langsung membalas pesanku dengan mengirim stiker.
Kemudian kami saling mengirim dan membalas pesan.
"Ara..."
"Yaa Pram.."
"Aku mau lihat foto yang dulu aku berikan padamu. Betul masih tersimpan Ar?"
"Iya Pram. Gak percaya yaa. Ntar Ara fotoin yaa..."
Kemudian aku mencari foto yang dulu Pram kasi. Aku menyimpannya di album foto kenangan."Nah ini dia yang aku cari." Bathinku setelah aku menemukan foto Pram.
__ADS_1
Aku memperhatikan foto itu, matanya sendu banget. Kemudian aku foto ulang foto Pram, dan kukirimkan ke Pram.
Aku lihat Pram masih online.
"Nah, ini foto siapa ayooo..."
Pram langsung membuka pesanku, namun Pram tak langsung membalas pesanku.
"Pram..." Aku mengirim pesan lagi dan langsung dibuka dan dibalas oleh Pram.
"Iyaa Ar...Makasih yaa..Aku gak menyangka kamu masih menyimpannya."
"Iya Pram. Supaya jadi kenang-kenangan.'
"Ini lah takdir Ar...Aku bahagia sekali Tuhan mempertemukan aku denganmu walaupun di saat kita sudah sama-sama tua."
Aku terdiam, air mataku menetes. Namun aku berusaha mengendalikan perasaanku. Aku tidak ingin suamiku melihatku menangis.
"Ar... Kenapa? Kenapa kamu gak balas chatting ku.?
"Ar..."
"Pram...Kenapa baru sekarang kamu datang. Kamu ke mana selama ini?" Aku mengirim emoticon menangis.
"Maafin aku Ara..Maafin aku..."
"Ara... Boleh aku cerita sedikit?"
"Yaa Pram, cerita dah ." Dan aku juga mengirim emoticon menangis.
"Ar... Waktu itu aku menyukai seseorang, namun sikap dan perhatianku gak pernah berbalas. Orang yang aku sayangi sepertinya menganggapku hanya teman biasa."
"Ditambah lagi aku gak punya apa-apa, aku bukan orang berada, jadi itu membuatku semakin tidak percaya diri untuk mengungkapkan perasaanku pada orang yang aku sayangi."
"Dan jujur Ar, aku dulu SMP pernah pacaran ma seseorang namanya Indah, yaa memang cinta monyet. Namun belum tamat SMP ee Indah ninggalin aku, menikah. Saat itu aku bener-bener gak nyangka, yaa walaupun itu cinta monyet tapi itu membuatku tambah tidak percaya diri."
"Saat masuk SMA keadaanku, aku semakin gak percaya diri. Karena ternyata di satu kelas kumpulan anak-anak pinter akulah yang paling rendah rangking nya."
Aku buka lagi pesan dari Pram.
"Aku akui, aku sering bicara dan ngobrol-ngobrol sama temen-temen perempuan di kelas, tapi itu kulakukan karena ingin mendapat perhatian dari orang yang aku sayangi. Tapi sayang, orang yang aku sayangi gak bergeming, tetep diam dan duduk di tempatnya dan tetep sibuk dengan coretan-coretannya."
"Ar... sampai saat kita akan perpisahan kelas, aku sengaja mengajak gang ku untuk pergi sepedahan dan foto-foto. Dan akupun mengajaknya, karena aku ingin mendapat perhatiannya."
" Tapi lagi-lagi aku gak berhasil mendapat perhatiannya. Aku melihatnya tetap diam di tempatnya dan tidak memberikan perhatian lebih padaku."
" Sampai akhirnya waktu berpisah semakin dekat, aku akan melanjutkan kuliah ke luar daerah. Aku memberanikan diri untuk memberikan 1 buah foto dan beberapa tangkai bunga edelweis. Hanya sampai situ keberanianku Ar."
__ADS_1
"Ar... itulah aku, aku yang lemah di depan orang yang aku sayangi."
Aku menarik nafas panjang..."Kenapa baru sekarang semua terungkap, setelah dulu lama aku menunggunya." Aku berkata dalam hati.
"Ara... Kenapa kamu diam saja. Maafkan aku, aku gak berharap kamu mengerti, melihat orang yang aku sayangi bahagia, itu sudah cukup bagiku."
"Pram..."
"Yaa Ara..."
"Kamu tahu gak, bagaimana dulu aku mengharapkan surat dan kabar dari seseorang yang aku pikir menyukaiku. Aku membaca berulang-ulang tulisan yang ada di belakang foto itu, dan kupandangi slalu foto dan bunga edelweis itu dengan harapan besok akan ada surat untukku yang memberikan kelanjutan maksud aku dikasi foto dan bunga. Yang konon katanya bunga edelweis lambang cinta sejati."
"Sehari, seminggu, sebulan bahkan sampai setahun aku gak juga menerima kabar dari orang yang kupikir menyayangi ku."
"Akhirnya aku sampai pada pemikiran, mungkin ini memang gak ada artinya. Mungkin ini hanya pemberian kenang-kenangan karena akan pisah melanjutkan studi."
"Tapi saat itu aku bertanya dalam hatiku, kalo memang foto dan bunga itu gak ada artinya lalu apa arti sikap dan tatapan matanya???
"Ara...Maafin aku Ar..Aku waktu itu gak punya keberanian. Apalagi ditambah dengan kata-kata Rendi kalau kamu sudah punya tunangan."
"Kata siapa Pram? Rendi??"
"Iyaa... Kamu bisa tanya ke Rendi kalau kamu gak percaya."
"Ar .. Aku memang laki-laki pengecut"
"Waktu aku berangkat Ar, aku bertekad ingin menjadi orang berhasil dan baru aku punya nyali untuk mencarimu."
"Namun pas ospek, di situlah aku bertemu Pipin istriku. Pipin sejak pertama kali bertemu slalu memberikan perhatian kepadaku. Slalu ada kemanapun aku pergi. Bahkan ada perempuan lain yang mendekatpun slalu dihalangi Pipin. "
"Dan saat itu aku bingung, akan perasaanku, aku bertanya pada Edo, teman sekamarku waktu zaman itu, yang ternyata Edo teman sekampung mu."
" Aku meminta pendapatnya tentang Kamu dan Pipin. Dan Edo lebih menyarankan aku bersama Pipin, karena Edo melihat bagaimana Pipin perhatian dan sangat sayang ma aku."
"Segala kebutuhanku di sini dipenuhi Pipin. Itu membuatku akhirnya luluh. Palagi kata-kata Rendi yang bilang kalau kamu sudah punya tunangan, itu membuatku semakin lemah untuk mengungkapkan perasaanku padamu."
" Kamu sudah buat hatiku menunggu Pram, tapi kamu gak juga datang." Aku juga mengirim pesanku dengan emoticon menangis. Dan memang sebenarnya aku menangis.
"Ara... Maafin aku... Please...Maafkan aku."
"Kamu gak salah Pram. Ini sudah takdir kita Pram."
"Ara... Melihatmu bahagia itu sudah membuatku bahagia., sangat bahagia Ara."
"Ya Pram, makasi. Aku bahagia Pram, dengan kehidupanku sekarang. Dan kuharap kamu juga bahagia Pram."
Kami berdua bahagia dengan semua keadaan yang kami punya sekarang. Karena kami sadar semua sudah menjadi takdir NYA. Kami akan menjalani takdir kami masing-masing yang sudah ditetapkan Tuhan.
__ADS_1