Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
cinta lamaku yang tak pernah hilang


__ADS_3

PRAM


Aku mengirim pesan pada Ara, sekedar menyapanya. Untuk tahu bahwa Ara dalam keadaan baik-baik saja. Sejak aku menemukan Ara, aku gak pernah melewatkan 1 hari pun untuk menyapa Ara.


Aku mengirim beberapa pesan, namun Ara tidak juga membukanya. Aku tidak melihatnya aktif. Aku jadi khawatir.


Aku memperhatikan Ara online atau tidak. Dan saat aku lihat lagi, aku bersyukur Ara sudah membaca pesanku.Namun Ara tidak membalas pesanku. Aku jadi semakin khawatir.


Kemudian aku memberanikan diri untuk menelponnya. Namun Ara tidak juga menerima panggilan telpon ku. Aku semakin khawatir.


Tak lama kemudian Ara menerima panggilan telponku. Mendengar suaranya membuatku merasa ada kenyamanan tersendiri. Namun Aku mendengar suara yang agak lemes. Aku jadi berfikir ada yang gak beres nih.


Setelah telponan aku tahu ternyata Ara lagi sakit, vertigonya kumat. Kami telponan tak lama. Aku gak sadar kalau aku memanggil "sayang" saat Ara minta ijin untuk istirahat dulu. Aku jadi gugup dan kemudian mematikan telpon.


Pagi ini aku juga lagi buru-buru akan pergi dengan pak Amin. Namun di perjalanan aku gak konsentrasi diajak ngobrol ma pak Amin.


"Kenapa Pak Pram? Dari tadi aku liat seperti ada yang dipikirkan. Gimana keadaan Ibunya Yusuf." Kata Pak Amin.


"Sudah membaik Pak." Kataku sambil melihat foto profil Ara.


Aku gak sadar kalau pak Amin memperhatikan handphone ku.


"Siapa tu Pak Pram?" Tanya Pak Amin .


Aku kaget, kemudian tersenyum malu dan gugup.


"Hmmm... Ini temen SMA ku Pak." Kataku jujur.


"Oalah... Sepertinya spesial Pak." Kata Pak Amin sambil senyum ngeledekin aku.

__ADS_1


Aku menghela nafas dalam....


"Spesial yaa Pak..." Kata Pak Amin lagi menegaskan.


Aku mengangguk dan berkata," Dia cinta lamaku Pak...Cinta yang gak pernah padam." Kataku sambil memandang jauh ke depan.


"Oh iya??? " Pak Amin mengangguk-anggukkn kepalanya.


Aku hanya tersenyum, dan kenangan-kenanganku dengan Ara di masa SMA menari-nari di pikiranku.


" Kalo dibilang masih gadis pasti tidak lah, karena kalau perempuan selembut itu gak mungkin terlewatkan bagi laki-laki... Atau dia janda pak yaa..." Tanya Pak Amin lebih lanjut.


" Namanya Ara Pak. Ara sudah menikah Pak..Kalau dia janda aku pasti langsung menjemputnya." Kataku bersungguh-sungguh.


Pak Amin tertawa terbahak-bahak.


"Yang bener ni... Trus ibunya Yusuf gimana? Emang dikasi ma mbk Pipin?" Kata Pak Amin.


Pak Amin mendengarkan kata-kataku.


"Yaa... itulah takdir yaa Pak. Yang kita gak tahu apa yang sudah tertulis dan digariskan untuk kita."


"Iyaa... Kita hanya menjalani saja." Kataku.


Tak terasa sampailah kami di perusahaan X yang kami tuju. Pembicaraan kami terhenti, lalu kami masuk ke kantor perusahaan itu.


Sekitar 1 jam kami di sana akhirnya semua beres. Kami balik menuju kantor.


Seperti biasa, sampai di kantor aku langsung ijin ke Pak Amin untuk menjemput anakku Yusuf.

__ADS_1


Sebelum aku dan Yusuf sampai rumah, kami mampir dulu di warung beli lauk pauk untuk makan siang. Karena Pipin istriku masih belum sembuh bener. Setelah itu aku melanjutkan pulang.


Sampai rumah, aku melihat istriku sedang menyapu lantai. Aku langsung menegurnya.


"Hmmm Bu... Papa bilang apa, ibu jangan kerjakan apa-apa dulu, ibu harus banyak istirahat biar cepet sembuh. Nanti kalo ada apa-apa ma ibu di sini gimana, kan rumah lagi sepi." Kataku sambil mengambil sapu yang dipegang istriku.


Aku memberikan lauk pauk yang tadi kubeli ke Yusuf untuk ditaruh di atas wadah makan. Dan aku melanjutkan menyapu.


Setelah selesai, aku membantu menyiapkan makan untuk Yusuf dan istriku. Sabila dan Rahma belum pulang. Istriku menolak aku suapi karena merasa sudah baikan.


"Papa gak ikut makan?" Tanya istriku.


"Papa buru-buru Bu... Papa tunggu ibu selesai makan, baru Papa berangkat ke kantor lagi."


Setelah istriku selesai makan, aku minta tolong Yusuf untuk membereskan piring-piring yang kotor. Kemudian aku pamit balik ke kantor.


Sampai kantor aku langsung menyelesaikan pekerjaan yang tadi diminta Pak Amin untuk diselesaikan pukul 3 siang. Sebelum pergi jemput Yusuf tadi aku sudah membagi pekerjaannya dengan Andre biar cepet selesai. Sekitar setengah jam, pekerjaan yang ditugaskan padaku selesai. Aku minta tolong Andre yang serahkan ke Pak Amin, karena perutku dah keroncongan dari tadi.


Aku mampir ke warung deket kantor. Aku memesan nasi telur dadar dan minuman jeruk hangat. Sambil menunggu telurnya digoreng aku menelpon Ara.


Syukurlah Ara mengangkat telponku, dan kamipun asyik telponan. Aku menanyakan keadaan Ara. Dan saat pesananku datang, aku ingin memperlihatkan apa yang aku makan jadi aku alihkan telponku ke mode video calll. Namun Ara menolak dengan alasan malu.


Tak berapa lama masuk video call dari Ara, namun aku gak terima karena aku lagi ngobrol ma bapak yang sedang makan di sebelahku.


Sepang 2 menit aku melakukan panggilan video ke Ara, dan langsung Ara menerimanya. Ada perasaan bahagia yang teramat sangat bahagia melihat gadis pujaanku setelah 20 tahun lamanya. Ada kerinduan untuk Ara.


Akupun memperlihatkan nasi telur dadarku ke Ara. Yaaa sebenarnya itu modus aja, karena aku hanya ingin melihat Ara. Ternyata Ara masih seperti dulu, tetep manis dan lembut. Bahkan sekarang Ara tampak lebih bijaksana dan berkarisma.


Kami tak lama video call nya, karena aku ingin Ara istirahat yang dulu biar bener-bener sehat.

__ADS_1


Setelah selesai video call, aku duduk menikmati jeruk hangatku. Pikiranku masih ke Ara...


Aku bahagia melihat Ara lagi. Perasaan indah menyelimuti hatiku.


__ADS_2