
Perasaan takut menyelimutiku. Takut kehilangan. Aku mencoba menenangkan perasaanku. "Semua akan baik-baik saja, toh suamiku sudah sadar dan terbangun dari tidurnya," bathinku.
"Bu..Selama kita menikah, Papa berusaha menjadi suami yang baik dan berusaha menjadi Papa yang baik untuk anak-anak kita." Kata suamiku dengan suara pelan.
"Iyaa Pa...Papa sudah lakukan itu semua." Kataku dan mencium tanga suamiku.
"Maafkan aku tentang Ara..." Suamiku menatapku lekat.
" Papa sebaiknya istirahat yaa..." Kataku namun suamiku menggeleng.
"Tolong dengarkan Papa... Sebentar aja Bu..." Suamiku menggenggam tanganku lemah. Dan aku mengangguk.
"Maafkan Papa..." Suamiku ingin melanjutkan kata-katanya namun terhenti karena aku mencium bibirnya sekilas dan kuusap bibir suamiku dengan ibu jariku.
"Pa... Ibu sudah maafkan Papa. Ibu tahu cinta Papa. Ibu kenal suami ibu. Papa suami yang setia sama ibu dan itu sudah Papa buktikan bertahun-tahun sejak ibu kenal Papa sampai kita menikah. Namun cinta Papa ke Ara itu sudah tumbuh sebelum Papa mengenal ibu." Kataku.
Suamiku memejamkan matanya kemudian menatapku lagi.
" Pa.... dulu waktu kita belum menikah, ibu pernah melihat foto seorang gadis sedang bersepeda di buku-buku Papa. Waktu itu, ibu cemburu dan bertanya siapa gadis itu. Tapi ibu bertekad ibu harus memliki Papa karena ibu sayang banget ma Papa. Ibu gak mau kehilangan Papa.. Setelah masalah Ara pecah ibu sadar, gadis bersepeda itu adalah Ara. Papa menyayangi Ara jauh sebelum bertemu ibu." Aku menatap suamiku.
"Pa.... Papa gak salah Pa... Cinta Papa gak salah. Ibu percaya cinta suami ibu. Itulah suamiku, yang setia pada cintanya. Ibu sudah maafkan Papa sejak lama Pa... Sekarang ibu minta tolong temani ibu, yaaa...." Kataku dan akhirnya air mataku menetes.
Suamiku menghapus air mataku.
" I love you...."
__ADS_1
" I love you suamiku.....Sekarang Papa berusaha untuk sembuh ya..." Kataku.
"Bu.... Maafkan Papa...Suamiku memejamkan matanya sebentar seperti sedang menahan sakit di dadanya.
"Ibu panggilkan dokter yaa Pa... Dada Papa sakit lagi yaa..." Kataku cemas.
Suamiku hanya menggeleng.
"Tetap di sini Bu...Jangan tinggalkan Papa." Suamiku ingin melanjutkan kata-katanya tapi suamiku tampak kesakitan.
"Pa.... Ibu mohon, bertahanlah, berjuanglah Pa... Untuk ibu, dan untuk anak-anak Pa." Tangisku pecah karena aku takut kehilangan suamiku.
Suamiku menatapku sendu.
"I love you...." Aku mencium kening suamiku.
"Pa... Pa...." Aku berteriak. Suamiku lemas dan berusaha mengambil nafas panjang.
Kudengar langkah kaki masuk kamar inap suamiku.
" Bu.... Papa kenapa Bu." Tanya Rahma memeluk Papanya.
Aku tak sanggup berkata-kata, aku hanya menangis.
"Pa...Bertahan Pa... Adek panggil suster dulu Pa... Pa... Jangan tinggalin adek Pa... Adek mohon." Rahma berteriak sambil menangis.
__ADS_1
Rahma langsung keluar memanggil suster, dan tak lama kemudian suster yang lain masuk. Suster menyuruh kami keluar.
Setelah itu suster keluar dan masuk kembali suster yang lain memeriksa Papa. Sekitar 10 menit kemudian dokter datang dan langsung memeriksa Papa.
"Dek, tolong telpon kakakmu, suruh langsung ke rumah sakit sama adikmu Yusuf."
"Iyaa Bu. Ini adek telpon Kak Sabila." Rahma masih menangis langsung menelpon Sabila.
Teleponpun tersambung.
"Kak... Kakak sekarang lagi di mana?" Tanya Rahma.
"Kakak lagi tunggu Yusuf pulang sekolah. Ini Kakak lagi nunggui." Kata Sabila. Telepon di speaker, jadi bisa kudengar pembicaraan mereka.
"Iya Kak. Kalau gitu, kakak minta ijin untuk bawa Yusuf ke rumah sakit aja yaa... Adek tunggu Kakak si rumah sakit." Kata Rahma.
"Dek, kenapa Papa. Papa kenapa???" Tanya Sabila.
"Papa gak kenapa-napa Kak... Yang penting Kakak sekarang langsung ke rumah sakit yaaa..."
"Iyaa Dek... Kakak langsung ke rumah sakit ne setelah ijiinin Yusuf ke gurunya." Kata Sabila.
Telepon pun berakhir.
Rahma duduk di dekatku, sambil memelukku. Aku dan Rahma menangis.
__ADS_1
Kami hanya bisa berdoa.