Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Pipin kabur dari rumah


__ADS_3

Pipin sudah tidak menangis lagi. Aku dan Pipin sama- sama diam. Aku menghela nafas panjang.


"Pa... Papa sayang ma Ara? Jawab aku Pa." Suara Pipin pelan.


Aku hanya mengangguk dan tetap menunduk.


"Apa yang Papa inginkan?" Tanya Pipin.


Aku masih diam. Aku bingung jawaban yang tepat apa. Aku seperti narapidana yang duduk di pesakitan. Aku tahu dan sadar hubunganku dengan Ara salah, tapi inilah kenyataan yang sedang aku alami dan tak dapat aku hindari. Perasaan cintaku untuk Ara tak bisa aku hindari. Cintaku gak salah.


"Pa, jawab aku. Seserius apa hubungan Papa dengan Ara. Apakah Papa ingin menikahinya? Jawab pertanyaanku! Jawab jujur!!" Kata Pipin sambil menatapku tajam.


Aku memberanikan diri menjawab pertanyaan Pipin.


" Aku menyayangi Ara. Dan aku ingin menikahi Ara. Tapi keadaan gak memungkinkan." Jawabku jujur tak berdaya.


"Kamu sudah benar-benar jatuh cinta ma Ara. Sadar Pa, ini semua tidak benar. Apa kurangnya aku! Pakai mau nikah segala. Kamu tu keterlaluan." Kata Pipin sambil menangis.

__ADS_1


"Pin, maafkan aku.. Aku sadar apa yang aku lakukan ini salah. Tolong maafkan aku. Tapi memang itu yang aku rasakan, maafkan kejujuranku."


"Aku masih gak nyangka dengan semua ini. Aku gak nyangka kamu akan lakukan ini kepadaku setelah puluhan tahun kita nikah."


Aku berfikir semua ini tidak akan selesai, karena aku jawab jujur malah membuat keadaan semakin ribut. Tapi Pipin tqhu benar sifatku, aku selalu berkata apa adanya karena kami memegang kejujuran dalam hubungan kami.


"Pin... Maafin aku. Rasa sayangku padamu tak pernah berubah. Aku sangat mencintaimu. Tapi aku gak mau berbohong padamu tentang perasaanku pada Ara." Kataku sambil menahan air mataku.


Aku mendekat akan memeluk Pipin, namun Pipin menepis tanganku dan lari ke kamar.


Aku duduk lemas. Aku tak tahu harus berbuat apa. Pipin tahu bahwa aku selalu jujur apa adanya. Palagi tadi Pipin terus mendesakku tentang peraaaanku pada Ara.


Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur, aku bangun karena Yusuf membangunkan aku. Dan hari sudah sore.


"Pa., Ibu mana? Yusuf cari di kamar gak ada, di dapur juga gak ada." Kata Yusuf dengan wajah cemas.


Saat terjadi pertengkaran tadi, Yusuf ada di teras. Aku yakin Yusuf mendengar semua pertengkaran kami.

__ADS_1


"Yang bener nak. Mungkin di kamar mandi." Kataku sambil beranjak mencari Pipin ke kamar yang ternyata memang kosong.


Tak berapa lama Rahma datang, dan menanyakan ibunya ke Yusuf.


"Yusuf juga lagi cariin ibu. Tadi siang setelah ribut dengan papa, Yusuf liat ibu pergi, tapi Yusuf pikir ibu dah balik. Ternyata sampai sekarang ibu belum balik."


"Ibu ma Papa kenapa?" tanya Rahma ke Yusuf.


"Papa ribut ma ibu gara-gara tante Ara" Jaqab Yusuf.


Rahma langsung menangis dan mencariku.


"Pa... Kanapa Papa gak ikutin kata-kata adek. Rahma kan sudah bilang ma Papa kalau hubungan Papa ma tante Ara jangan sampai ibu tahu. Dan Papa bilang gak serius cuma candaan. Tapi sekarang apa??" Rahma menangis.


Aku panik dan gak tahu harus ngomong apa.


"Rahma pikir Papa sudah gak berhubungan lagi ma tante Ara."

__ADS_1


"Maafin Papa dek, Papa akan cari ibumu dulu." Kataku dan beranjak pergi mencari istriku.


__ADS_2