
Aku merasa lebih baik pagi ini,namun suamiku tetap tak mengijinkanku ke toko sendiri.
"Ma... Ayo jam berapa mau berangkat? Aku sudah siap." Kata suamiku.
"Iya Pa... Ini dah siap." Aku menghampiri suamiku yang sudah ada di dalam mobil.
Mobilpun melaju menuju ke toko.
"Ma... Gimana dah baikan?" Tanya suamiku.
"Iya Pa... Mama dah baikan, cuma masih pusing-pusing dikit. Mungkin pemulihan yaa Pa..."
"Yaa... Perlu istirahat dan vitamin kayaknya tu Ma.... Biar cepet normal kondisi badan Mama."
"Iya Pa." Aku memandang suamiku.
"Kenapa Ma, kok liatin Papa, Papa ganteng yaa...." Kata suamiku cengar cengir.
Aku tertawa pelan.
" Iyaa... Papa ganteng, sampe ada yang mau menikah ma Papa walaupun Papa sudah beristri." Kataku dan mengalihkan pandangannku ke depan.
"Hmmmm.... Mulai dah ne... Ma..."
Aku tersenyum tipis. " Iya Pa... Kenapa?"
__ADS_1
"Papa gak suka kalau mama mulai mengingat masalah itu. Papa gak suka Ma..." Kata suamiku kesal. Dan aku tersenyum lemah.
"Iyaa Pa... Maafin Mama..."
Suamiku langsung diam. Hmmm... Aku salah karena membuat keadaan jadi dingin. Tapi yaa sudahlah... Sudah terlanjur, dan akupun sudah minta maaf.
Sampai toko, suamiku tak berkata apa-apa, tak seperti biasanya.
"Pa... Mama turun dulu yaa..." Kataku da menyalami tangan suamiku.
Suamiku diam saja dan mengangguk pelan, kemudian berlalu.
Aku masuk ke toko dan melakakukan aktifitas seperti biasa. Siti sudah selesai merapikan dan membersihkan toko.
PRAM
Yang membuat aku merasa lebih baik adalah aku sudah tidak merasakan sesak nafas lagi. Jadi aku sudah bisa lebih tenang.
"Pa... Gimana keadaan Papa? Dah baikan?" Tanya Rahma ketika baru sampai di kantor.
Aku mengangguk.
" Iya Dek... Papa sekarang lebih mendingan. Papa sudah gak demam lagi dan yang paling buat Papa lega Dek, Sekarang Papa sudah gak sesak nafas lagi."
"Oh gitu... Syukurlah Pa... Ibu di rumah khawatir keadaan Papa. Ibu pingin liat Papa tapi ibu belum kuat jalan. "
__ADS_1
"Iya Dek, kemarin ibu telpon Papa. Sekarang kan Papa dah baikan, ntar Papa pulang liat ibumu Dek. Papa juga kangen ma ibumu." Kataku.
Rahma memanyunkan mulutnya.
"Lho kok gitu bibirnya dimanyunin?" Tanyaku.
"Gak ada Pa... Cuma beneran Papa kangen ma ibu???" Tanya Rahma dengan nada tak percaya.
Aku menggerakkan bahuku.
"Ooh adek gak percaya? Yaa gak apa-apa kalau gak percaya. Yang penting Papa memang bener-bener kangen ma ibumu." Kataku dan melempar pandanganku ke luar kantor.
"Masalahnya kemaren waktu Papa demam, siang hari tu pas adek masih di sini, Papa ada nyebut nama seseorang." Kata Rahma.
"Oh iyaa??? Maksud adek apa?" Tanyaku.
"Papa kemarin sebut nama Tante Ara." Kata Rahma.
Aku menghela nafas.
"Dek... Tolong jangan kasi tahu ibumu. Papa gak mau ibumu sakit làgi. Dan Adek perlu tahu kalau orang ngigau itu gak tahu dan gak inget apa yang sudah dia ucapkan. Jadi Papa harap itu jangan adek besar-besarkan yaa...Apapagi sampai ibumu tahu." Kataku tegas.
"Iya Pa...Adek akan rahasiakan di ibu." Kata Rahma lemas dan kembali memandang laptop nya.
Aku merasa tak enak namun aku tahu harus bilang apa.
__ADS_1
Aku kemudian bersiap pulang untuk melihat istriku. Karena sejak sakit aku tak pernah bertemu dengan istriku. Aku tidur di kantor.