
Aku menyiapkan makan malam seperti biasa, namun apapun yang aku lakukan semua tak jelas hasilnya. Aku masak sayur, ternyata kurang garam. Buat ayam gorengnya, keasinan.
"Mama, ayam gorengnya agak asin yaa..." Kata Arini sambil menggigit ayam gorengnya.
" Ooh asin yaa Nak... Duh gimana sih mama ni... Kok bisa keasinan yaa... Maafin Mama yaa.... Ntar Mama buatin yang lain aja yaa...Gimana?"Kataku.
"Gak pa pa kok Ma... Masih enak kok..." Kata Arini tersenyum.
Aku tersenyum. " Anak mama ni memang mmmmuuah... " Kataku sambil mencium kepala Arini.
"Arini kan sayang mama.. Kasian kan, mama dah capek-capei masak, tapi bener Ma... Ayamnya memang asin, tapi pas dicampur ma nasi kok enak yaa Ma..."Kata Arini.
Aku terharu mendengarnya, aku merasa bahagia karena Arini mensyukuri apa yang sudah ku sediakan.
Azka ynag dari tadi memperhatian kami, cuma komat kamit saja.
"Ma... Papa kok belum pulang yaaa... Papa ke mana Ma?" Tanya Azka.
"Papa ada kumpul-kumpul ma temen-temennya dulu waktu kuliah S2. Sebentar lagi pasti Papa pulang." Kataku sambil mempwrhatikan Azka yang sedang mancubiti ayam gorengnya.
"Ooh... Enak yaa jadi Papa... Sering banget kumpul-kumpul ma teman-temannya. Mama kok gak pernah kumpul ma temen-teman Mama? " Tanya Azka lagi.
__ADS_1
Aku tersenyum.
" Mama jarang kumpul, karena teman-teman Mama banyak yang di luar daerah Nak. Jadi yaa sulit ngumpulnya." Kataku menjelaskan.
"Ooh iyaa bener Ma... Seperti temen Mama, siapa namanya yang dulu kita ketemu tu Ma... Waktu kita berlibur dulu tu Ma... Yang tinggi besar tu..." Kata Azka.
Aku menghela nafas dan mencoba untuk tersenyum.
" Ooh itu namanya Om Pram... Kenapa?" Tanyaku.
"Iyaaa bener, Om Pram yaa namanya. Om Pram gak pernah ke sini yaa Ma?" Tanya Azka.
"Pernah, waktu terjadi gempa itu. Om Pram dan teman-temannya ke sini bawa bantuan untuk korban gempa." Kataku menjelaskan.
"Iyaa... Om Pram bawa bantuan ke daerah-daerah yang ngalami kerusakan parah di tempatnya. Ke tempat yang lebih membutuhkan ."
"Oooh... Kok gak kunjungi Mama." Kata Azka.
"Hmmmm... Om Pram sibuk, gak punya banyak waktu Nak. Selain itu kan Om Pram datangjya rombongan, jadi gak bisa mampir untuk kunjungi Azka." Aku berbohong pada Azka.
Azka manggut-manggut....
__ADS_1
"Sudah sekarang makannya cepet dihabisin... Ntar dingin gak enak. "
"Iya Ma...." Kata Azka dan Arini hampir bersamaan.
Sekarang kami di rumah hanya berempat saja kalau Aldi dan Arjun sudah mulai aktif kuliah. Jadi kami kumpul saat mereka libur semester saja.
Aku membereskan piring-piring bekas makan anak-anakku. Azka tak membantuku karena besok ada ulangan pelajaran Fisika.
Selesai bersih-bersih di dapur, aku langsung ke kamar. Aku segera melihat handphone ku. Netraku langsung tertuju pada kontak baru Pram.
" Hmmm tak ada pesan dari Pram." Bathinku.
Rasa khawatir dan gelisah kembali menemaniku.
Sebenarnya aku menyesalkan, kenapa Pram harus memaksa dirinya untuk keluar rumah dulu kalau lagi sakit. Seharusnya dia benar-benar harus istirahat total biar cepat sembuh.
Namun keadaan Pram yang mengharuskannya melakukan itu. Dia tulang punggung keluarga, mbak Pipin istrinya lagi sakit parah, jadi iyaa dia yang menggantikan posisinya untuk menyelesaikan pekerjaan rumah juga.
Notifikasi pesan masuk dari handphone ku. Ku buka, ternyata dari Pram. Langsung kubuka.
"Ara..Aku sudah ke dokter. Ini baru pulang ..Ara, I love you..."
__ADS_1
Aku merasa deg-degan membaca pesan dari Pram. Ada perasaan yang gak nyaman. Aku merasa keadaan Pram sedang tidak baik-baik saja. Aku khawatir... Oh Tuhan, kuatkan aku...Aku menangis