
PRAM
Aku sekarang ada di kota Ara. Kota tempat aku dibesarkan. Kota yang penuh kenangan.
Aku ke kota ini karena membawa amanat sumbangan kemanusiaan dari teman-teman yang ikut berempati karena gempa besar yang sudah terjadi beberapa hari lalu.
Sebenarnya Pipin, istriku tidak mengijinkan aku ke kota ini. Sudah tentu Ara yang jadi alasannya. Tapi aku berkeras bahwa aku harus berangkat karena ada keluargaku di sini dan karena ada tugas dari kantor. Itu alasanku.
Dan akhirnya istriku mengijinkan aku pergi dengan syarat jangan bertemu Ara. Akupun menyanggupinya.
Alasan yang sebenarnya aku kekeh untuk tetap berangkat adalah Ara. Aku khawatir keadaannya. Karena saat gempa terjadi, Ara mengirim pesan padaku namun aku tidak bisa membalasnya, karena keadaanku.
Saat pertama kali menginjakkan kaki di kota ini, wajah Ara terbayang. Aku begitu ingin mencarinya. Namun karena aku ke kota bersama beberapa teman jadi aku tidak bisa pergi seenaknya. Aku akan mencari waktu yang tepat.
Aku dan teman-temanku sudah membuat jadwal dan rute perjalanan amal kami. Siang hari kami membawa beberapa bungkusan Snack kering, roti, terpal, selimut, beras, dan pakaian bekas layak pakai.
Malam harinya aku ijin ke teman-teman untuk melihat keadaan teman di suatu desa.
"Pak Pram... Aku juga diajak dong. Masak pergi sendiri ntar kesasar lho." Kata Surya, salah satu teman yang ikut ke dalam rombonganku.
Aku tersenyum, kemudian berkata.
"Ayoo kalau mau ikut. Yaa kita anggap jalan-jalan liat keadaan kota di malam hari."
__ADS_1
Suryo tampak senang dan langsung bersiap untuk ikut.
Kemudian aku dan Suryo mengendarai motor yang kupinjam dari salah satu warga desa x. Dan sebelumnya aku bertanya jalan ke daerah x itu lewat jalur mana. Tujuanku adalah tempat tinggal Ara.
Setelah paham penjelasan warga itu, kamipun berangkat.
"Pak.Pram... Kita mau ke rumah siapa ni?" Tanya Suryo.
" Kita liat-liat dulu yaa mas Suryo... Soalnya aku juga belum kenal daerah ini. Lama aku gak pulang kampung mas. " Kataku menjelaskan.
"Oh iyaa Pak... Kita jalan aja dulu."
Aku memasuki daerah tempat tinggal Ara. Aku menemukan toko offline ya, aku membacanya dengan jelas. Aku perhatikan toko itu dan rumah-rumah disekelilingnya
Aku melihat rumah-rumah di daerah tempat tinggal Ara gak ada yang ambruk, beda dengan daerah sebelah.
Aku teringat janjjiku pada Pipin istriku untuk tidak menemui Ara. Yaah tak mengapa aku tak mengunjunginya yang terpenting aku melihat Ara baik-baik saja.
"Ini rumah teman Pak Pram? " Tanya Suryo.
Aku hanya mengangguk dan berlalu dari rumah Ara.
"Lho kok kita gak mampir Pak?"
__ADS_1
"Iyaaa... Kita cuma lewat aja. Toh rumahnya juga gak kenapa-kenapa. Lagian kita kemaleman Mas. Takutnya nanti malah ganggu karena sudah malam Mas." Kataku sambil menghidupkan motor.
Kemudian aku berkeliling di sekitar lingkungan Ara. Dan tak lama kemudian akhirnya kami sampai juga di tempat kami tinggal.
Aku duduk sendiri di teras. Aku membakar rokok ku. Aku hisap dalam-dalam dan kuhembuskan perlahan.
Terbayang wajah Ara. "Yaaa Tuhanku, Lindungi Ara dan keluarganya...Jauhkan dari segala marabahaya." Kataku dalam hati sebagai untaian doaku.
Tiba-tiba handphone ku berdering, dan kulihat panggilan dari istriku. Aku langsung menerimanya.
" Pa... gimana keadaan Papa di sana? "Tanya istriku.
"Papa baik-baik saja Bu. Ibu ma anak-ana di sana gimana?" Aku tanya balik.
"Kami baik-baik saja Pa... Cuma sepi aja gak ada Papa." Kata istriku.
"Ooh yaa.. Masak sih... Setahu Papa, gak ada yang kangen ma Papa." Kataku.
"Beneran kok Pa,, Ibu kangen ma Papa. Cepet pulang Yaa Pa... Selesai urusan di sana Papa langsung pulang yaa.. "Kata istriku.
"Iya Bu... Papa langsung pulang. Papa gak berlama-lama di sini." Kataku.
"Iya Pa... Sekarang Papa istirahat dulu dah yàaa...
__ADS_1
"Iya Bu... Ibu juga harus istirahat cukup yaa... "Kataku.
Pipin mengangguk, kemudian telpon kuakhiri.