Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Sungguh aku sangat mencintainya


__ADS_3

Hari ini adalah hari terakhir aku di kota ini. Semua sumbangan amal sudah kami berikan ke daerah-daerah yang terdampak gempa cukup parah. Aku dan tombonganku bersiap-siap untuk kembali pulang ke kota.


Aku memasukkan semua barang-barangku ke dalam tas. kemudian kupandangi handphone ku.


Kemudian ketua rombongan mengajak kami bersiap-siap untuk pergi ke rumah makan X dulu sebelum berangkat ke bandara.


Akhirnya kami berangkat ke rumah makan yang dimaksud.


Aku mau balik tapi hatiku masih gak tenang. Aku ingin bertemu Ara namun terpaut janji dengan Pipin istriku untuk tidak menemuinya.


Aku mengacak-acak rambutku. Kupandangi foto profil Ara... "Aku rindu Ar..." Kataku pelan.


Akhirnya aku memutuskan untuk mengirim pesan dulu, niatnya berpamitan. Aku gak ketemu ma Ara gak apa-apa tapi setidaknya aku bisa mendengar suaranya dan yakin Ara baik-baik saja.


Aku mengirim pesan ke Ara menanyakan kabarnya dan Ara langsung membuka pesanku, karena kebetulan Ara online. Dan tak kuduga, Ara langsung menelponku. Padahal aku berniat menelponnya.


Mendengar suara Ara sudah menyejukkan hatiku dan bisa membuat hatiku lebih tenang, gak gelisah.

__ADS_1


Kami melepas rindu. Saat aku akan berpamitan, Ara menangis. Aku gak tega pergi meninggalkannya. Aku pikir, biarlah kali ini aku menemui Ara. Akhirnya aku memberitahu Ara posisiku saat ini.


Sekitar setengah jam kemudian Ara menelpon kalau dia sudah di parkiran. Aku keluar mencari Ara.


Kulihat seorang perempuan yang tak asing bagiku, sedang berdiri di depan mobil sambil memegang handphone.


Aku tersenyum dari jauh dan kulihat pula senyum manisnya menghiasi wajat anggunnya."Ara cintaku .."gumamku. Aku terus melangkah menghampirinya.


"Apa kabar Ara..." Kataku sambil menyodorkan tanganku.


Ara mencium tanganku dan aku menggenggam tangannya seolah tak ingin aku lepaskan. Aku mencium keningnya.


Kami berdua menangis... Kami tidak menyesali semua keadaan yang sedang kami hadapi sekarang. Karena kami tahu memang ini sudah takdir Tuhan dan kita hanya menjalaninya saja.


Ara melepas pelukanku, dan bercerita tentang semua yang dia alami saat gempa terjadi. Aku melihat masih ada trauma setelah gempa itu. Aku berusah menenangkannya.


Waktu terasa begitu cepat berlalu, aku melihat jam tanganku, sudah hampir 1 jam aku berdiri bersama Ara.

__ADS_1


Aku tak ingin jauh darinya. Aku memeluknya dan begitu pula Ara. Aku bisa merasakan gejolak yang ada di hatinya.


Kami tak ingin jauh lagi. Aku ngelus wajah Ara, meminta keikhlasannya melepasku pergi walaupun sungguh sebenarnya hatiku tak ingin meninggalkannya.


Akhirnya Ara dah tenang dan tidak menangis lagi.


Kemudian aku berpamitan dan Ara mencium tanganku, aku mencium keningnya.


Lalu kuajak Ara menemui teman-temanku. Kami berjalan sambil terus kugenggam tangan Ara. Lalu Ara kuperkenalkan dengan teman-temanku.


Waktu perpisahan semakin dekat...


Sebelum masuk ke mobil aku berkata pada Ara..


"Doain aku Yaa Ar... I love you... Tunggu aku cintaku..." Ara mengangguk.


Aku menatap Ara, kemudian mencium keningnya lagi.

__ADS_1


Lalu aku masuk mobil, dan mobil pun berjalan. Aku melambaikan tanganku ke Ara sambil tersenyum. Arapun tersenyum. Aku bahagia dan sangat bahagia, begitu juga Ara.


Aku tak tahu bagaimana kelanjutan hubunganku dengan Ara. Aku hanya berharap semoga Tuhan memberikan jalan untuk kami. Sungguh aku sangat mencintainya Tuhan...


__ADS_2