
ARA
Aku merasa khawatir, bagaimana keadaan Pram. Aku mengirim pesan namun Pram menjawab singkat aja. Dan bilang akan telpon besok.
Aku menenangkan diriku. Namun aku berusaha percaya pada Pram yang mengatakan dirinya baik-baik saja.
Aku menarik nafas panjang. Aku tak sabar menunggu besok. Ternyata seperti ini rasanya bila orang yang kita sayangi sedang sakit dan tidak di sisi kita. Apalagi saat ini sedang ramai-ramainya virus yang katanya mematikan.
Esok harinya aku berangkat ke toko pagi-pagi sekali, setelah semua urusan di rumah selesai dan anak-anak sudah berangkat ke sekolah.
Sampai di toko aku tak henti-hentinya melihat handphone ku. Setiap ada notifikasi pesan masuk, di sudut hatiku penuh harap itu pesan dari Pram. Namun ternyata bukan.
Aku melihat Pram terakhir online kemarin. Berarti hari ini Pram belum buka handphone nya. Aku semakin cemas dan berfikir yang tidak-tidak.
" Yaa Tuhanku... Sembuhkanlah orang yang kusayangi...,tolong jaga dia..." Doaku.
Sore harinya saat aku sedang bersiap-siap pulang, tiba-tiba ada notifikasi pesan masuk, berturut-turut 3kali. Aku langsung membukanya, Ooh dari Pram.
",Ar .."
"Maafin aku sayang.."
Kemudian masuk pesan ketiga, pram mengirim gambar kepik.
Aku langsung membalas pesan Pram.
"Iyaa Pram.. Ini aku." Pesanku.
"Ar... Aku masih gak enak badan. Ini aku paksa diri keluar untuk menghubungimu. I love you.."
__ADS_1
"Yaa Tuhan... Sudah ke dokter Pram?"
"Sudah Ar... Tapi demamku naik turun. Sebentar tinggi, tapi pas selesai minum obat langsung menurun demamnya. Tapi jarak beberapa menit demamku naik lagi."
"Pram, kamu harus ke dokter lagi !!!"
"Tapi Ar...Aku habiskan dulu obat yang dikasi dokter kemarin supaya gak mubazir."
"Pram, kalau sudah sampai 2 hari demam gak juga turun nanti dokternya bakal ngasi obat yang lain. Please..."
"Iyaa Ar... Ara, aku boleh telepon???"
.
Dalam hati aku heran, kok Pram minta ijin untuk menelponku.. Air mataku sudah mulai memenuhi pelupuk mataku.
Pram menerima panggilanku.
"Pram... Bagaimana keadaanmu sebenarnya? Aku khawatir Pram."
"Aku gak tahu aku kenapa Ar, aku sakit apa. Tapi yaa seperti yang tadi kutulis dipesanku. Sebentar baikan sebentar lagi suhu badanku naik lagi."
"Aku boleh lihat kamu Ar ...."
Pikiran dan rasaku sudah mulai tak nyaman. Aku langsung mengalihkan ke panggilan video dan Pram menerimanya.
Aku melihat Pram duduk di sudut ruangkan kantornya, duduk bersimpuh."
"Pram... Kamu masih sakit Pram. Kamu harus balik ke dokter. Please ke dokter sayangku. Aku bener-bener khawatir. "Kataku.
__ADS_1
Pram tersenyum hanya memandangku saja. Aku menangis.
"Pram... Please sayangku Ke dokter yaa... Perasaanku gak enak. Aku mohon sayaang..." Aku menangis.semakin menjadi-jadi.
"Hmm kenapa nangis sayang... Aku baik-baik saja. Ini cuma lagi ada gangguan dikit aja di badanku. Udah sayangku, jangan nangis."
"Gak, kqmu cuma mau nyenengin aku aja Pram. Kaku lagi gak baik-baik saja. Bagaimana bisa kamu katakan dirimu baik-baik saja sementara nafasmu tersengal-sengal seperti itu."
Aku langsung mengambil handphone ku yang satunya lagi yang memang khusus untuk transaksi mobile banking.
Aku langsung mentransfer sejumlah dana ke rekening Pram. Aku tahu Pram saat ini sedang dalam kesulitan, karena istrinya di rumah sakit.
"Ar .. Kamu kenapa?" Tanya Pram.
"Pram .. Tolong cek rekeningnya...Barusan aku transfer ke rekeningmu sejumlah uang untuk ke dokter."
"Ar .. Aku gak mau terima uangmu Ara. Maaf aku gak mau."
"Pram... kali ini tolong terima, aku tahu keadaanmu sekarang lagi sulit. "
"Tapi Ar .. Aku gak mau merepotkanmu."
"Hmmmm.... Aku tolong trima Pram, aku mau kamu ke dokter. Itu aja. Kalau kamu memang bener-bener sayang ma aku, tolong terima uang itu untuk ke dokter Lagian gak banyak sayang... Please jangan ajak aku debat masalah ini. I love you..." Kataku memohon.
"Iyaa sayangku... I love you...Aku menyusahkan mu."
"Aku ingin melihatmu sembuh Pram. Nanti ke dokter yaa..."
Pram mengangguk, dan tatapan matanya lekat memandangku dan tersenyum. Aku melihat Pram sudah mulai susah bernafas.
__ADS_1