
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. 4 bulan berlalu sejak aku pulang dari rumah sakit.
Keadaanku sekarang sudah sehat kembali seperti sedia kala, karena aku mengikuti pengobatan jalan seperti yang dianjurkan. Dan aku juga mencoba melaksanakan pola hidup sehat.
Keadaan rumah tanggaku juga semakin membaik. Sikap istriku sekarang selalu hangat dan begitu juga anak-anak.
Hubunganku dengan Ara baik-baik saja. Rasa sayangku pada Ara tetap tak berubah, hanya aku dan Ara membatasi diri dan memegang komitmen dengan pasangan kami masing-masing. Demi keutuhan keluarga kami masing-masing.
Hubungan istriku dengan Ara juga baik-baik saja, mereka seperti kakak dan adik.
Ara dan istriku sering saling bertukar kabar lewat telpon. Dan sikap anak-anakku ke Ara juga sudah semakin membaik. Anak-anak juga sudah tahu bentuk kerjasamaku dengan Ara dalam usaha yang sedang kami bangun.
Aku tak pernah menelpon Ara atau sebaliknya, yang telponan adalah istriku dengan Ara.
Suatu siang, saat aku duduk santai di teras ditemani istriku.
"Pa... Kok ibu gak pernah telponan ma Ara yaa... Ini dah hampir seminggu. Ara sehat kan Pa?" Tanya istriku.
"Ooh Papa juga gak pernah telpon Ara. Mungkin Ara sibuk Bu..." Jawabku seadaanya, namun sejujurnya aku jadi terpikir iya juga aku gak tahu kabar Ara hampir seminggu ini.
Istriku lalu beranjak masuk mengambil handphonenya, kemudian balik lagi ke teras.
Istriku mencoba menelpon Ara, namun 3 kali istriku menelpon, Ara tak juga menerima panggilan telpon istriku.
Perasaanku mulai gelisah. Ada apa dengan Ara? Ara baik-baik sajakah?
__ADS_1
" Ara gak angkat telponnya yaa Bu?" Tanyaku datar, aku menyembunyikan rasa khawatirku.
"Iyaa Pa... Kok ibu jadi kepikiran yaa... Dan ini terkakhir terlihatnya juga kemarin malam. Smoga Ara baik-baik saja yaa Pa..."
" Iyaa Bu... Mungkin Ara lagi ada acara atau mungkin Ara lagi sibuk."
"Tapi Pa, ibu tahu Ara tu kan bisnis onlinenya kan lancar jadi gak mungkinlah kalau gak aktif-aktif. Iya kan Pa..." Kata istriku dan mencoba melakukan panggilan lagi ke Ara.
Namun Ara tak juga menerima panggilannya. Istriku duduk lemas dan menghela nafas panjang.
"Sudahlah Bu... Jangan ditelpon lagi, nungkin Ara lagi istirahat. Nanti sore ibu coba telpon lagi. Atau kalau tidak, ibu kirim pesan aja menanyakan kabarnya."
Istriku mengangguk.
"Pa... Ibu gak tahu kenapa sekarang ibu merasa dekat dengan Ara. Ibu beneran sayang ma Ara seperti adik ibu sendiri."
Aku mendekati istriku dan memeluknya.
Aku jadi kepikiran keadaan Ara. Apa apa dengan Ara?
Aku berusaha menenangkan diriku. Saat ini waktu terasa lama bagiku, karena hatiku gelisah. Aku membuka profil Ara... Tapi tetap kulihat Ara belum aktif sejak kemarin malam. Sementara ini dah sore.
"Kamu kenapa Ar?" tanyaku dalam hati.
Aku lihat istriku sedang merapikan tempat tidur. Aku kemudian merebahkan diriku di atas tempat tidur yang telah rapi.
__ADS_1
Dan istriku duduk di sampingku.
"Pa...Bisa antar ibu beli obat herbal ibu? Obatnya dah habis."
"Ooh iyaa bisa Bu... Papa ganti pakaian dulu yaa..." Aku langsung bangun dan bersiap-siap sementara istriku sudah siap dari tadi.
Tak sampai 5 menit aku dan istriku sudah siap. Kami pergi ke toko obat herbal.
Sepulang dari toko obat, aku dan istriku mampir ke sebuah taman kota. Kami duduk-duduk di sana menikmati keadaan sore yang cerah.
"Pa... Kapan-kapan ibu pingin pulang ke kampung Papa. Smoga ada rezeki yaa Pa ..."
Aku tertegun mendengarnya karena selama aku menikah istriku tak pernah berkeinginan untuk pulang ke kampungku.
"Tumben ibu pingin pulang ke kampung Papa. Ada apa Bu?"
"Ibu pingin ketemu Ara, Pa... Karena waktu Ara ke sini dulu, ibu gak sempat ketemuan. Ibu pingin ke sana Pa."
Kugenggam tangan istriku.
" Iyaa Bu... Smoga Tuhan memudahkan rezeki kita yaa Bu .. "
"Aamiin..." Kata istriku.
Pikiranku kembali ke Ara... Ada apa dengan Ara? Tidak seperti biasanya Ara seperti ini. Kalau ada telepon dari istriku andai dia tak bisa mengangkatnya pasti nantinya saat luang Ara akan telepon balik.
__ADS_1
Namun ini sampai hari sudah sore Ara tak kunjung telepon.