
Sejak Pipin tahu hubunganku dengan Ara, aetiap hari kami sering ribut. Aku sudah bilang ke Pipin kalau aku dan Ara sudah tidak ada hubungan lagi.
Setiap aku pulang kantor, Hp ku langsung diperiksa Pipin. Dan hampir setengah jam sekali Pipin menelponku.
Malam harinya saat aku akan balik ke kantor, kami wajib ribut dulu.
Intinya sejak peristiwa itu aku sering ribut dengan Pipin istriku. Rumah tanggaku gak pernah nyaman. Aku kasian ma anak-anakku, karena suasana di rumah selalu ada pertengkaran kedua orang tuanya.
Setiap Pipin marah, aku lebih memilih diam. Aku gak mengeluarkan sepatah katapun.
Anak-anak menyalahkan aku, kecuali Yusuf. Yaah aku bisa apa. Inilah kenyataan yang harus aku jalani. Inilah cintaku yang gak bisa aku tutupi dan aku elakkan. " Maafkan aku Pin," bathinku.
Aku jalani hidupku sekarang dengan kerja lebih bersemangat untuk menghidupi rumah tanggaku.
Aku sudah seminggu lebih tidak menghubungi Ara, aku sangat merindukannya. Aku hanya melihatnya online saja, dan aku selalu mendoakannya agar selalu sehat dan setia menungguku.
__ADS_1
Cinta tak harus bertemu dan berbicara setiap saat, karena cinta sejati ada di hati. Sosok Ara seluruhnya tetap ada di hatiku walaupun aku tak melihatnya ataupun mendengar suaranya.
Aku ingin segera menyelesaikan semua tanggung jawabku di sini, agar aku bisa segera menjemput Ara dan membahagiakannya. " I love you Ara...." Bathinku.
Aku berangkat ke kantor seperti biasa. Sampai di kantor kadang aku diledekin ma Pak Amin dan Andreas karena mereka berdua tahu kalau sekarang istriku rajin menelpon mengecek aku.
"Wah.. Enak sekarang Pak Pram, mbk Pipin selalu perhatian nelpon terus. He he... " Kata Andreas sambil tertawa.
"Hmm enak apaan, gak enak mas. Kayak dipenjara, nanti pas gak diangkat bakalan ribut dah. "Kataku sambil menggaruk kepalaku yang gak gatal.
"Ngomong-ngomong mbk Ara nya ada di sini kah?" Tanya Andreas.
"Gak, Ara di kota asalku mas Andreas. Harus nyeberang laut dulu." Kataku.
"Oh iya? Aku pikir mbk Ara di sini juga. Sudahlah, toh Pak Pram ma mbk Ara tu kan jauhan, ngapain juga dibesar-besarkan." Kata Andreas.
__ADS_1
"Iyaa harus gitu mas. Tapi yaa sudahlah. Tak jalani aja. " Kataku sambil membakar sebatang rokok.
"Itulah pemanis kehidupan Pak, " kata Pak Amin sambil menepuk pundakku dan meninggalkan ruangan kerjaku.
Aku hanya mengangguk dan kemudian aku melanjutkan pekerjaanku.
ARA
Seminggu lebih Pram gak menghubungi aku. Aku sangat merindukannya. Aku kasihan dengan kondisi Pram. Aku bisa membayangkan bagaimana kehidupan Pram saat ini. "Maafkan aku Pram," bathinku.
Sejujurnya aku merasa ada yang hilang dan kurang sejak Pram tidak menghubungi aku. Tapi aku memcoba untuk menerimanya dengan ikhlas dan sabar.
Aku menjalani hari-hariku seperti biasa. Aku tetap memperhatikan keluarga kecilku, bersikap seolah-olah aku baik-baik saja. Namun saat aku mengingat Pram, air mataku selalu menetes tak bisa dibendung. "Pram miss you," bathinku.
Aku tetap mengelola toko offline dan online ku. Orderan agak berkurang hampir 2 minggu. Mungkin karena aku kurang promosi di media sosialku. Tapi sudahlah, tidak masalah bagiku. Karena aku sadar itulah pasang surut rizki pedagang.
__ADS_1