
Aku dan Pram masih menangis. Aku sedih melihat keadaan Pram yang tidak mengurus dirinya. Pram tampak kusut, rambutnya berantakan, brewoknya mulai tumbuh gak beraturan.
"Pram..."
Pram mendongakkan kepalanya.
"Aku sedih liat keadaanmu seperti ini. Aku gak bisa liat kamu seperti ini. Ini terlalu berat untukmu. Aku yakin keadaan di rumahmu sangat tidak mengenakkan."
"Sudahlah Ar... Aku sudah bilang kalau aku ikhlas terima semua ini. Aku sanggup jalani ini semua. Aku hanya ingin melihatmu baik-baik saja. Tunggu aku Ar. Aku pasti akan menjemputmu. Tetaplah temani aku."
"Iya Pram. Aku akan menunggumu."
"Janji Yaa Ar... Karena sungguh aku tak kan sanggup kalau kamu akan meninggalkanku. Aku sangat menyayangimu Ar. Jujur Ar ... Rasa sayangku sudah melebih rasa sayangku kepada istri dan anak-anakku. Aku sudah mantapkan diriku. Tolong tunggu aku Ar. Tolong kuat jalani ini semua. "
"Iyaa Pram. Aku akan menunggumu. Aku janji. Tapi aku mohon kamu jaga dirimu baik-baik di sana. Tetap semangat jalani hidup ini. Jangan pernah menyerah. Aku akan setia menunggumu."
"Iyaa Ar... I love you .... " kata Pram kemudian mengecup keningku lewat handphone nya.
***
Hari berganti hari... Hubunganku dengan Pram semakin dekat. Namun kami lebih berhati-hati.
Kami sama-sama semangat jalani kehidupan kami masing-masing. Kami punya mimpi yang akan kami wujudkan suatu saat nanti jika Tuhan ijinkan.
Suatu hari Pram mengirimkan pesan untukku. Oh iyaa Pram sekarang kalau menghubungiku menggunakan nomor khusus tidak lagi memakai nomor pribadinya.
Ternyata yang dikirim adalah sebuah puisi.
__ADS_1
Garis waktu mempertemukan kembali setangkai bunga gunung...
Yang katanya abadi...
Kamu sering kesal kenapa tidak dari dulu...
Namun Kita tidak bisa memutar waktu..
Yaa sudahlah ..
Biarlah garis waktu menyelesaikan tugasnya ...
Untuk menyatukan kita kembali...
Terimakasih untuk hadirmu kembali...
Untuk menemui keabadian...
Semoga....
Aku terharu membaca puisi yang dikirim Pram. Begitu besar harap dan keinginannya untuk bersatu denganku.
Aku mengaminkan puisinya... "Semoga Pram..." Kataku dalam hati dan teriring doa kupanjatkan pada Tuhan semesta alam....
Aku membalas pesan Pram, dan kulihat Pram sedang online.
"Amiin ..Kabulkanlah Yaa Allah..."
__ADS_1
Pram langsung membaca pesanku, kemudian ada panggilan masuk dari nomor yang biasa dipakai Pram untuk menghubungiku.
"Iyaa Pram...Pa kabar?" Tanyaku...
"Aku lagi gak enak badan Ar...Badanku meriang dari semalam. Aku nelponnya gak lama yaa... Aku cuma ingin tahu keadaanmu aja. Kamu sehat kan sayang..."Kata Pram.
Aku langsung mengalihkan panggilan ke panggilan video dan Pram menerimanya.
Aku melihat Pram tersenyum, namun tak bisa ditutupi kalau Pram lagi kurang sehat. Wajahnya tampak pucat.
"Pram... Sakit apa? Hmm???" Tanyaku.
"Ahhh.... cuma meriang aja kok Ar... Kamu gak usah khawatir. Ntar aku minumin obat penurun panas juga dah baikan. Cuma aku perlu istirahat kayaknya." Kata Pram sambil tersenyum kemudian mengecup keningku lewat handphone nya.
"Gak ke dokter sayang?"
"Gak perlu lah... Aku dah bilang tadi kan, kalau aku tu cuma demam biasa aja, gak serius kok. Jangan ditekuk seperti itu dong mukanya.... Mana senyumnya, hmmm..." Kata Pram.
Aku kemudian tersenyum. "I love you Pram...."
"Iyaa sayang.... Kamu sehat kan?" Tanya Pram.
" Iyaa aku sehat Pram..."
"Syukurlah... Sekarang aku balik ke rumah dulu yaa... Aku tadi ijin ke Pak Amin untuk gak masuk kantor. Besok kalau aku sudah baikan aku telpon yaa sayang..." Kata Pram sambill tersenyum.
Aku mengangguk, kemudian Pram mengecup keningku lagi.
__ADS_1
""Cepet sembuh yaa sayang....Istirahat yang bener sayang yàaa.... I love you..." Kataku.
"I love you too sayangku....Udah yaa..."Kata Pram dan aku mengangguk. Lalu panggilan diakhir Pram.