
ARA
Aku masih duduk bengong di depan meja kerjaku. Aku masih di toko menunggu suamiku menjemputku.
Sementara Siti sudah ijin pulang duluan karena akan mengantar ibunya ke dokter.
Aku teringat telponan dengan Pram tadi. Cuma ada yang mengganjal, kenapa Pram tiba-tiba ingin melihatku setelah lama kami tidak pernah melakukan video Call.
Aku khawatir. Namun aku menciba menenangkan hatiku, aku berdoa agar Pram baik-baik saja.
Aku tahu dan bisa mengerti perasaan Pram, namun aku tak ada bedanya dengan Pram. Aku tetap menyayangi Pram, ini berat untukku Pram. Namun aku yakin langkah yang sudah kuambil dengan Pram adalah yang terbaik.
Aku menghela nafas.
Aku melihat kontak Pram, tak aktif lagi sejak terakhir kami telponan.
Aku mendengar suamiku memberi salam dari luar. Aku menjawab salamnya, kemudian aku langsung menutup pintu belakang toko dan pulang.
Malam hari selesai makam malam denagn anak-anak dan suamiku, aku duduk di teras sambil memandang bunga-bunga yang ada di pot gantung.
Aku melihat kuncup bunga Wijaya Kusuma sudah siap merekah. Aku senang. Aku teringat Pram Wijaya. " Kamu harus sehat slalu Pram." Batinku.
Suamiku menghampiriku.
__ADS_1
" Wah, itu kuncupnya siap merekah yaa Ma... " Kata suamiku.
"Iya Pa... Banyak banget nih kuncupnya. Besok bakal berbunga semua nih." Kataku senang.
"Ma... Aldi ma Arjun kapan pulang Ma?"
" Minggu depan Pa, tadi Mama telponan ma Aldi. Mereka sudah selesai semesteran, jadi minggu depan bisa pulang."
"Iya Ma...Kita bakal jalan-jalan terus nih..." Kata suamiku dengan tawa kecilnya.
Aku mengangguk.
Jujur, pikiranku ke Pram. Aku benar-benar khawatir keadaannya.
" Kenapa Ma? Sepertinya ada yang Mama pikirkan. Ada masalah?" Tanya suamiku.
" Gak ada Pa... Mama cuma agak letih aja.." Aku menghela nafas.
Suamiku menatapku.
"Yaa udah kalau emang Mama lagi letih, sebaiknya Mama istirahat aja. Atau mau Papa buatin wedang jahe?"
Aku tersenyum menatap suamiku. Aku melihat ketulusan dan bisa merasakan rasa sayang suamiku. Suamiku sekarang lebih banyak waktunya di rumah daripada kumpul dengan teman-temannya.
__ADS_1
"Makasi Pa... Mama mau tidur duluan yaa..."
"Iyaa... Atau mau Papa kerokin?" Kata suamiku.
"Gak usah Pa, Mama ngantuk. Dah yaa, Mama masuk kamar dulu." Aku mencium pipi suamiku dan beranjak masuk kamar.
Aku duduk di tempat tidurku. Aku merebahkan tubuhku, kutarik selimut.
Aku bersiap untuk tidur, dan mencoba menutup mataku. Namun mengapa tiba-tiba aku merasa sesak nafas. Aku segera duduk bersandar di tempat tidurku.
Pikiranku tiba-tiba ke Pram. Mengapa perasaanku jadi gak enak seperti ini, aku gelisah.
Aku mengambil handphone ku. Kupandangi foto profil Pram. " Kamu kenapa Pram?" Hati kecilku menangis.
Air mataku tiba-tiba menetes. Aku menarik nafas, "Tenang Ara..." Kataku dalam hati menenangkan hatiku yang tiba-tiba gelisah.
Pram masih belum aktif sejak tadi sore. Pikiranku semakin tak tenang. Aku ingin menanyakan keadaan Pram pada mbak Pipin, namun aku takut nanti mbak Pipin salah sangka lagi.
Akhirnya, aku memilh menenangkan diriku dan mendoakan Pram. Aku menarik nafas, dan teringat kata-kata Pram. " Berfikir yang baik-baik maka hal baiklah yang akan terjadi."
Aku menaruh handphone ku di dekat meja lampu tidurku, lalu lampu kumatikan.
Aku mencoba memejamkan mataku. Aku tertidur.
__ADS_1