
PRAM
Aku senang bisa chatting dengan Ara. Aku merasa bahagia melihat Ara bahagia.
Aku sangat bersyukur pada Tuhan atas ijinNya, aku bisa bertemu dengan Ara lagi. Setelah sekian lama aku tak tahu kabarnya, aku gak pernah menyangka bahwa aku akan menemukan Ara kembali. Walaupun dalam keadaan yang berbeda.
Aku sudah mempunyai keluarga sendiri dan demikian pula dengan Ara. Aku bahagia dengan keluarga kecilku, dan aku yakin Ara juga bahagia dengan keluarga kecilnya.
Setelah chatting dengan Ara, aku mencoba istirahat. Namun mataku tak dapat aku pejamkan. Bayangan masa-masa bersama Ara dulu di waktu masih duduk di bangku SMA bermain-main di angan-angan ku.
Ara... gadis lugu, lembut dan sangat keibuan...
Aku menarik nafas dalam-dalam.
"Pak... belum ngantuk nih." Tanya Andre kepadaku.
"Belum Dre... Aku gak bisa tidur ne..Hmmmm..."
"Kenapa Pak, ada masalah kerjaan?" Andre bertanya lagi.
Aku tersenyum... Dan kembali memandang foto profil Ara. Dan aku gak sadar kalau Andre sudah berada di belakangku dan ikut memperhatikan foto Ara.
__ADS_1
"Itu siapa Pak... Kalem bener..Kayaknya lembut banget orangnya." Kata Andre semakin mendekat.
Aku bingung menjawabnya... Tapi kupikir lebih baik kukatakan apa adanya.
"Ooh ini, temenku Dre.. Temen SMAku... ini dulu gadis pujaanku waktu SMA.." Kataku sambil tetap memperhatikan foto profil Ara.
"Wah sepertinya pak Pram lagi mengenang masa lalu nih..." Kata Andre sambil tersenyum menggodaku.
"Ah kamu ada-ada saja... Gak Dre.. kami masing-masing sudah punya keluarga. Yaa itu hanya masa lalu, kenangan masa remaja Dre..."
"Bener ne... kelihatannya pak Pram masih kagum tu ma mbk yang di foto tu."
"Waduh parah ne... Pak Pram malah senyum-senyum sendiri. Kalo boleh tahu mbk yang di foto tu tinggal di mana Pak? Dekat-dekat sini kah?" Tanya Andre penasaran.
"Gak Dre... Dia tinggal di kota asalku Dre." Jawabku singkat.
"Wah syukurlah kalo begitu." Kata Andre.
"Maksudnya apa ne Dre? " Tanyaku karena aku tidak mengerti jalan pikiran Andre.
"Yaa bahaya Pak kalau tinggal di sini. Pak Pram bakal ketemuan terus ma dia." Kata Andre sambil senyum menggodaku.
__ADS_1
"Hmmmm... Awas jangan ngawur ne ngomongnya...Sudah kamu tidur duluan sana biar gak ke sana kemari ne pertanyaannya, biar besok bisa bangun pagi. He he.."
" Baik Pak, aku tidur duluan yaa... Mataku juga sudah ngantuk banget ne..." Andre menepuk pundakku dan berlalu. Dan aku mengangguk.
Waktu sudah menunjukan pukul 1 pagi. Aku keluar dari ruang kerja, dan pergi menuju kamar yang memang disediakan untukku beristirahat.
Aku mencoba tidur, namun mataku sulit aku pejamkan. Bayangan Ara seperti bermain-main di angan dan pikiranku.
Aku tidak menyesali semua yang sudah terjadi. Semua sudah menjadi ketentuan Tuhan. Aku sadar bahwa semua ini memang sudah digariskan Tuhan.
Melihat Ara yang hidup penuh dengan materi yang berkecukupan membuatku bahagia. "Orang yang aku sayangi hidup bahagia,"bathinku.
"Sementara andai Ara hidup bersamaku mungkin dia tidak akan bahagia. Ara akan hidup susah denganku. Ara akan menderita dengan semua perjalanan hidupku." Pikirku.
Bermacam-macam pikiran mengganggu kepalaku, hingga akhirnya aku sampai pada titik bahwa aku akan membahagiakan Ara di sisa-sisa hidupku dengan slalu menjadi orang yang akan slalu melindunginya, menjadi teman di saat dia butuh teman, menjadi orang yang slalu ada di saat dia butuh seseorang.
"Aku akan menjagamu Ara, walaupun kamu tidak menjadi milikku. Bahagiamu adalah bahagiaku..." bathinku.
"Rasa yang aku miliki sungguh suci untukmu Ara...
Tak lama kemudian, akhirnya aku tertidur.
__ADS_1