
Kami duduk di pojok lobby hotel. Sejujurnya aku bingung mau memulainya dari mana. Karena aku tahu masalah ini bukan hal yang baik, namun aku harus membicarakannya karena aku sudah terpaut janji di istriku.
"Ada apa Pak Pram... Apa yang ingin dibicarakan, sepertinya penting." Kata Muhlas memulai pembicaraan. Mungkin Pak Muhlas membaca kebingungan ku.
Aku menarik nafas dan menghembuskan ya perlahan.
"Begini Pak... Aku sebelumnya minta maaf..Ini ada hubungannya dengan Ara." Kataku memulai pembicaraan.
Muhlas hanya mengangguk dan mendengarkanku.
" Tapi aku mohon jangan salahkan Ara. Ini murni kesalahanku. Sebenarnya aku sangat menyayangi Ara sejak SMA Pak. Aku sangat mengaguminya,. Aku dah lama mencarinya tapi aku tak berhasil menemukannya. Yaah ini perjalanan takdir, aku bertemu dengan Ara setelah kami masing-maaing berkeluarga. Dan aku menjalin hubungan dengan Ara."
"Istriku baru-baru ini tahu hubunganku dengan Ara. Dan sejak itu kami ribut terus Pak."
"Oleh sebab itu, aku memutuskan untuk mengakhiri semua urusan yang berhubungan dengan Ara. Termasuk group yang sudah aku buat, aku sudah keluar dari group."
Aku melihat kemarahan di wajah suami Ara. Aku maklum dan bisa mengerti kalau dia marah. Itu haknya.
" Aku gak tahu harus bilang apa. Aku percaya ma istriku karena aku tahu dia gak pernah macam-macam."
__ADS_1
"Aku memang ada rasa curiga dengan hubungan kalian bukan hanya sekedar bisnis."
"Aku gak nyangka. Harusnya Pak Pram tahu batasan!!!"
Aku diam menunduk, aku terima apapun yang dikatakan Muhlas suami Ara.
"Trus sekrang bagaimana? Apa Pak Pram mau menghancurkan rumah tangga bapak sendiri? "
"Aku sudah bilang tadi, kalau hubunganku dengan Ara sudah berakhir. Hubungan bisnis pun sudah kuakhiri." Kataku.
"Syukurlah kalau begitu. Itu memang harus Pak Pram lakukan." Kata Muhlas.
"Ya Pak, tapi tolong jangan marah atau salahkan Ara. Aku yang salah." Kataku.
"Pak, aku minta maaf sebelumnya. Aku mohon, tolong jaga Ara. Tolong sayang dan cintai dia seutuhnya. Aku sangat menyayanginya. Aku mohon. Karena kalau Pak Muhlas sampai mengecewakan Ara, bapak berhadapan dengan aku." Kataku tegas sambil menatap matanya.
Kami saling berpandangan.
"Baik, aku akan menjaga dan menyayangi Ara sepenuh hatiku." Kata Muhlas.
__ADS_1
"Terima kasih Pak." Kataku.
"Sama-sama Pak. Sekarang Pak Pram perbaiki hubungan Pak Pram dengan istri di rumah karena kasian anak-anak."
"Lupakan masa lalu yang akan merusak keharmonisan rumah tangga kita."
Aku hanya mengangguk.
Kemudian kami ngobrol-ngobrol tentang hal-hal lain. Namun karena malam semakin larut akhirnya aku minta diri di Muhlas.
Aku berpamitan, dan kami berjabat tangan kemudian aku memeluk Muhlas.
"Oh iya Pak... Tolong sampaikan salam maafku ke Ara yaa..." Kataku sebelum pergi.
"Iyaa , nanti aku sampaikan." Kata Muhlas.
Aku pulang dengan perasaan hancur. Di satu sisi aku sudah memenuhi janjiku di istriku namun di sisi lain aku pasti melukai hati Ara. "Maafkan aku Ara..." bathinku.
Aku berdoa semoga Ara bisa memaklumi sikapku ini. Aku nermaksud menenangkan keadaan dulu. Dan aku sudah menjelaskannya ke Ara melalui pesan.
__ADS_1
Aku mengendarai motor bututku dengan pelan. Pikiranku penuh. Pikiranku penuh ke Ara. Aku tidak tahu apa yang seharusnya aku lakukan.
Tapi sudahlah, aku jalani saja semuanya. Semua sudah menjadi takdir Tuhan. Aku harus ikhlas menjalaninya. Pasti ada hikmah dari semuanya.