
"Ara... Kamu masih marah padaku?"
"Gak... Aku gak marah Pram. Aku prihatin ma keadaanmu."
'Trus kenapa kamu gak balas pesanku kapan tu."
"Maafin aku Pram, aku hanya ingin menenangkan diri. Karena jujur waktu itu aku gak tahu harus bilang apa ke suamiku. Aku bingung menjelaskannya." Kataku.
"Yaa maafin aku Ar.. Aku lakukan itu karena permintaan Pipin. Pipin memperbolehkan aku bertemu denganmu dan keluargamu asal aku melakukan syarat itu. Selain itu Pipin mengancam akan bunuh diri."
"Jadi aku bingung. Dan sangat terpaksa aku lakukan itu Ar...Aku tahu ini bakal jadi masalah di hubunganmu dengan suamimu. Tapi aku sangat terpaksa dan terjepit Ar."
Aku mendengarkan penjelasan Pram, dan tanpa sadar air mataku menetes.
"Iyaa Pram ... Aku minta maaf, aku membuat masalah di rumah tanggamu. Aku ingin minta maaf di mbak Pipin. Bagaimana menurutmu?" Tanyaku.
"Jangan Ar... Percuma. Pipin masih marah. Aku tahu sifat dna watak istriku. Biarkan saja, nanti ada saat Pipin akan baik lagi."
"Tapi ini sudah cukup lama Pram. Aku khawatir keadaanmu Pram."
Pram mengalihkan panggilannya ke panggilan video. Aku menerimanya.
Pram menatapku. Aku melihat Pram agak kurus dan tampak kusut.
"Ara... Aku kangen ma kamu Ar...Maaf aku lama sekali gak menelponmu. Lama aku gak liat kamu Ar..."
__ADS_1
Aku menangis.
"Sayangku, tolong jangan menangis. Aku gak bisa liat kamu nangis. Berapa kali aku bilang, aku hanya ingin melihatmu selalu tersenyum dan bahagia. I love you..."
Aku menghapus air mataku.
"Pram, aku gak tega liat kamu seperti ini. Aku sedih liat keadaanmu Pram."
Pram tersenyum.
"Hmmm be liat ne... aku baik-baik saja Ara. Aku gak nangis dan aku tetep gagah dan ganteng kan..." Kata Pram menghiburku sambil memainkan alisnya.
Aku tertawa.
"Na gitu dong... tolong jangan sedih lagi yaa Ar... Aku sudah biasa alami sakit dan pedih dalam hidupku. Jadi kamu gak perlu khawatirkan aku."
"Kalau kamu bener-bener sayang ma aku, please tolong bahagia selalu Ar... Tunggu aku sampai saat itu tiba. Jangan macam-macam ma pelanggan dan ma yang lain yaa..." Kata Pram sambil melotot di akhir kata-katanya.
Aku tersenyum dan mengangguk.
"Ihh... kok ngomong gitu sih. Emang Ara apaan sih. Lagian kamu tubharus liat Pram. Aku ini sudah tuan, sudah hampir kepala 5. Dan mulai keriput... Kaki aja sudah mulai sakit-sakit."
"Aku serius Ara... Kamu punya daya tarik sendiri. Pokoknya kamu jangan terlalu banyak senyum dan terlalu ramah dengan orang lain yaa.. Aku serius kali ini."
Aku mengangguk dan menaikkan jempolku.
__ADS_1
"Oh iya Pram, aku mau tanya. Ngomong-ngomong, nomorku sudah gak diblokir yaa.."
"Yaa ... Pipin yang membuka blokirannya. Tapi tolong jangan hubungi aku. Aku gak mau ada masalah baru lagi."
"Baik aku nurut aja."
Pram kemudian mencium keningku dari Hp nya.
"Sesekali aku akan menelponmu, tunggu aja yaa..Aku yang akan menelponmu. Maaf aku membatasimu untuk menghubungiku. Keadaan memang harus seperti ini." Kata Pram memelas.
"Iyaa Pram."
Kemudian Pram menanyakan keadaan anak-anakku, jualanku yang online dan offline. Kami telponannya cukup lama. Kebetulan sekali Siti gak masuk. Karena Siti sudah beberapa hari ini sakit. Jadi Siti minta ijin tidak masuk kerja.
"Ar ... Udah dulu yaa.. aku mau jalan dulu ma bosku. Doain aku yaa... I love you.."
" Tolong jaga hatimu untukku."
Aku mengangguk.
" Iyaa Pram....I love you... Yang kuat yaa..Aku akan menunggumu."
Kemudian Pram mengakhiri panggilan videonya.
"
__ADS_1