Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Menelpon suami Ara


__ADS_3

Dua hari berlalu sejak suami Ara menelpon, tak ada kabar lagi tentang Ara.


Aku melewati hari-hariku terasa sangat lama dan berat. Aku tak tenang.


Bagaimana keadaan Ara sekarang?


Tuhanku.... Aku resah.


Hari ini aku tak ke kantor. Aku merasa lemes sekali.


" Pa.... Nanti sore jadwal Papa kontrol ke dokter. Nanti biar diantar Rahma yaa..." Kata istriku dan duduk di sampingku membawa segelas teh dan camilan pisgor.


"Papa sudah sehat kok Bu... Menurut Papa sebaiknya sudah cukup Papa kontrolnya." Kataku.


"Papa masih sering cepet letih dan lemas, menurut ibu sebaiknya Papa tetap jalani kontrol berobatnya. Yaa Pa..."


Aku menatap istriku dan mengangguk.


"Makasi teh nya Bu." Kataku.


"Oh iyaa Pa... Ibu nunggu kabar dari Ara tapi kok sudah 2 hari gak ada kabar yaa Pa...Ibu jadi khawatir. Papa punya nomornya suami Ara?"


Tanya istriku.


Aku mengangguk. Sebentar biar Papa aja yang telepon suami Ara. Papa akan tanyakan keadaan Ara.


"Iyaa Pa ..."


Aku minta tolong istriku mengambil handphone ku yang sedang dicash di kamar.


Kemudian aku menelpon suami Ara. Aku coba lagi, namun tetap belum tersambung.


"Mungkin suami Ara lagi sibuk Bu..." Kataku.

__ADS_1


Istriku mengangguk. Aku duduk di samping istriku sambil memeluknya.


Selang beberapa menit, teleponku berdering. Kulihat ternyata dari suami Ara dan akupun langsung menerimanya.


" Halloo...."


"Iyaa Pak Pram ... Maaf tadi aku lagi nyetir Pak jadi gak bisa terima telponnya."


"Iyaa gak apa-apa Pak. Maaf Pak, aku terima informasi dari istriku katanya Ara sakit. Gimana keadaan Ara sekarang?"


"Iyaa Pak Pram... Ara sakit, sudah beberapa hari Ara dirawat inap di rumah sakit. Ara masih lemas. Demamnya masih tinggi. Tolong bantu doa yaa Pak."


Aku ingin menangis namun kutahan.


"Iyaa Pak, aku dan istriku selalu mendoakan Ara."


Handphone aku speaker jadi istriku juga bisa mendengar pembicaraanku dengan suami Ara.


" Iyaa... Tolong nanti sampaikan salam kami untuk Ara."


"Baik Pak.. Nanti kusampaikan. Nah ini aku sudah sampai di kamar Ara. Ne Ara sudah bangun dari tidurnya."


"Maaf Pak, bisa tolong aku ingin bicara pada Ara." Kataku meminta.


"Iyaa yaa, tunggu... Sayang... Ini ada telpon dari Pak Pram dan istrinya..."


"Ar...Ini aku. Ar ..." Kataku...


"Hmmm.... Pramm...." Aku mendengar suara Ara.


"Iyaa sayang...Ooh maaf.... Iya Ara... Kamu kenapa bisa sampai seperti ini? Kamu buat aku khawatir Ar..."


" Aku gak kenapa-kenapa Pram... Mana mbak Pipin?" Suara Ara terdengar sangat lemah.

__ADS_1


"Bu..." Kataku pada istriku dan hanphone keberikan pada istriku Istriku sedang menangis.


"Iyaa Ara... Ini mbak... Kamu harus semangat Ar, Mbak selalu doain kamu. Mbak rindu denger suaramu bercerita. Mbak kangen Ar ..."


"Iyaa mbak...Ara juga kangen... Maaf Ara gak pernah telpon." Terdengar suara Ara seperti menangis.


" Sekarang kamu harus semangat, semangat untuk sembuh. Liat suamimu, anak-anakmu... Mereka butuh kamu, mereka sangat membutuhkanmu. Kamu denger kata-kata mbak kan..." Kata istriku.


"Iyaa mbak...Makasi... Doain Ara yaa mbak, Pram...Doain Ara..."


"Iyaa Ar.... Mbak dan Pram selalu berdoa untuk kesembuhanmu."


" Mbak...Maafin Ara yaaa.... Aku sudah nyakitin hati mbak. Maafin yaa..."


" Hmmm kamu ngomong apa Ar... Kamu gak salah, sudah gak usah bahas itu lagi. Sekarang kamu cuma harus semangat untuk sembuh. Itu aja. Ya... Janji ma mbak, yaa Ar..." Terdengar suara Ara menangis.


Istriku masih menangis. Sementara aku berdiri menatap jauh ke lorong jalan menuju rumahku. Pikiranku ke Ara, khawatir akan keadaan Ara.


Dari suara Ara, aku bisa tahu bahwa Ara dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.


"Sekarang, kamu istirahat dulu yaa... Tenangkan pikiranmu, yakin bahwa Tuhan akan memberikan kesembuhan untukmu. Mbak yakin kamu akan sembuh. Dah dulu yaa... Besok mbak telpon lagi..." Kata istriku.


"Iyaa mbak ..." Kemudian terdengar Ara memanggil suaminya.


Dan istriku memberikan handphone nya kepadaku.


" Makasi yaa, aku dan istriku diijinkan bicara ma Ara." Kataku.


"Sama-sama Pak Pram. Aku juga berterima kasih padamu, smoga Ara bisa berangsur-angsur membaik. Salam ma istrimu."


"Iya Pak... " Kataku dan teleponpun berakhir.


Aku duduk memandang handphone ku. istriku menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku menghela nafas panjang.

__ADS_1


__ADS_2