
Aku adalah laki-laki yang gak punya keberanian untuk menjalin hubungan dengan seorang gadis, aku gak percaya diri untuk itu. Aku merasa belum pantas karena begitu banyak kekurangan yang aku miliki. Apalagi ditambah dengan keadaan ekonomi orang tuaku sejak mengalami kebangkrutan usaha. Itu sebabnya aku gak pernah berani benar-benar mendekati perempuan.
Kejadian tadi siang membuatku gelisah. Aku terbawa suasana, aku sampai lepas kontrol dan berani mencium Pipin.
Seumur hidup baru pertama kali aku mencium seorang gadis. Gadis itu Pipin. Entah kenapa aku bisa dan berani melakukannya. Mungkin karena aku mulai mencintai Pipin.
Hatiku luluh karena cinta dan ketulusan Pipin.
Sesungguhnya aku menyesali kejadian tadi siang, namun aku menikmati indahnya gejolak yang ada dalam hatiku.
Aku teringat kata-kata Edo, "Sudah jalani aja yang ada di dekatmu sekarang, apalagi Pipin begitu perhatian dan gak segan-segan menunjukkan betapa dia sangat mencintai kamu."
Aku duduk di dekat tempat tidurku sambil memandang foto Ara. "Apakah Ara merasakan perasaan sayangku juga seperti apa yang aku rasakan??"
Lamunanku buyar karena ada suara Agus memberi salam.
__ADS_1
Aku membuka pintu kamarku dan mempersilahkan Agus masuk.
"Gus, kita ngobrolnya di dalam kamar aja yaa, soalnya aku lagi sakit kepala nih dari tadi siang" kataku sambil kembali tiduran di kasurku.
Agus mengangguk. Kemudian melihat ada mie instan dan kopi di meja kecilku.
"Wah, kamu baru dapat kiriman yaa dari orang tua di kampung," Agus cengar cengir sambil mengambil 1 bungkus mie.
"Kiriman dari mana? Kiriman dari Hongkong.. ini tadi Pipin yang beli di warung depan kos tu," aku menjelaskan sambil tertawa.
Aku menghela nafas. Kemudian aku bilang sejujurnya ke Agus kalo aku dan Pipin sudah jadian.
Agus sangat terkejut dan bertanya," Kapan Pram jadiannya??"
Aku menjawabnya singkat ,"tadi siang..."
__ADS_1
"Oooh selamat yaa Pram akhirnya jadian juga., aku gak ditraktir ne?"
"Traktir apaan, kan sudah aku bilang tadi kalo aku belum dapet kiriman dari kampung? Tu kamu seduh mia instan aja sana, aku jadi pingin ngeteh juga, biar pusingku hilang," aku menyuruh Agus membuat mie dan teh hangat.
"Siap bos." Agus langsung menyalakan kompor untuk buat mie. Agus membuat 2 bungkus mie , 1 gelas teh dan 1 gelas kopi.
Kemudian aku dan Agus menyantap mie dan minuman kita masing-masing.
"Pram, kamu jangan permainkan perasaan Pipin yaa... Kasian dia, aku melihatnya begitu perhatian dan sayang ma kamu sejak pertama kali ketemu kamu." Agus mengingatkan.
Aku diam saja. Aku terbayang wajah ceria Pipin, yang selalu mendekatiku, perhatian ma aku. Bahkan sejak ospek dulu, setiap ada teman-teman cewek atau kakak tingkat cewek mendekatiku, Pipin langsung menutup jalan mereka. Di mana ada aku di situ ada Pipin.
"Kok kamu malah bengong gitu? Kamu kenapa? " tanya Agus karena melihat aku diam gak banyak bicara dari tadi.
"Sudahlah Gus... Aku jalani aja dulu seperti air mengalir. Aku mau kuliah yang serius dulu Gus, aku gak mau mengecewakan orangtuaku. Soal Pipin, aku tahu dia begitu sayang dan perhatian padaku, dan aku gak berniat sedikitpun untuk menyakitinya."
__ADS_1
Agus adalah teman Pipin satu angkatan yang kebetulan satu daerah denganku. Agus memang sering menyarankan aku untuk jadi pacar Pipin, karena Agus gak suka dengan Armando yang terkenal di kampus sebagai mahasiswa yang sombong, kasar dan seenaknya kalo bersikap dan bicara. Maklum Armando anak orang berada.