Cintaku Gak Salah

Cintaku Gak Salah
Pipin ikut pulang kampung dengan Pram


__ADS_3

PRAM


Seminggu setelah aku tamat kuliah, aku berniat akan pulang kampung. Aku tidak memberitahu Pipin.


Aku mengunci pintu kostku. Ketika aku berbalik, betapa kagetnya aku, karena ternyata Pipin berdiri di hadapanku.


Pipin berdiri sambil membawa tas tentengan besar yang ditaruh di lantai


Aku gugup.


"Pram, kenapa kamu mau pergi meninggalkan aku?"


"Maafin aku Pin, aku kan sudah bilang kalau aku akan pergi untuk mencari pekerjaan dulu. Nanti kalau aku berhasil aku akan balik ke sini mencarimu."


"Aku tidak mau kamu pergi Pram, aku gak mau jauh dari kamu. Aku akan ikut kamu ke kampungmu."


"Jangan Pin,, please... Kami kan tahu bagaimana sikap papa dan mamamu. Kalau mereka tahu kamu ikut sama aku, mereka bakal lebih membenciku." Aku memohon pada Pipin.


Pipin menangis dan duduk di dekat tasnya.


"Aku gak mau pisah sama kamu, aku sangat mencintaimu Pram.,"


Pipin menangis dan duduk seperti anak kecil yang menangis kehilangan mainannya.


Aku paling tidak bisa melihat perempuan' menangis. Kemudian aku duduk di samping Pipin.


"Siapa yang memberitahu kamu kalau aku akan pulang kampung?" Agus yaa??"


Pipin mengangguk.


"Jangan salahkan Agus, aku yang memaksanya memberitahu aku."


Aku mengelus rambut Pipin.


"Pin, kamu sadar apa yang akan kamu lakukan ini?"


"Aku sadar Pram, sangat sadar."


"Kalau kamu ikut denganku, artinya kamu akan menikah denganku, sementara aku belum punya pekerjaan. Kamu bakal menderita Pin. Kamu sadar itu Pin???" Aku berkata dengan nada agak tinggi.

__ADS_1


Pipin tiba-tiba memelukku.


"Apapun yang terjadi aku mau Pram, yang penting aku ada di dekatmu."


Aku bingung. Ini semua begitu mendadak tanpa akku rencanakan. "Apa kata orang tuaku nanti, masak aku pulang malah membawa istri sementara aku masih jadi pengangguran." Pikirku.


"Pram... Aku janji gak akan merepotkanmu di sana, aku janji akan jadi istri yang baik."


Aku menoleh dan menatap Pipin. Akhirnya aku luluh, kemudian aku memeluk Pipin.


"Baiklah kalau kamu memang mau menerima aku apa adanya." Kataku.


Pipin langsung berhenti menangis dan aku pun tersenyum.


Aku dan Pipin akhirnya berangkat pulang ke kampungku. Kami memakai kapa


Pikiranku masih belum tenang, aku masih kepikiran bagaimana tanggapan kedua orang tuaku. Tidak pernah terpikir olehku bahwa aku akan menikah secepat ini. Aku bingung.


Pipin tertidur, bersandar di bahuku. Aku melihat cinta dan ketulusan Pipin yang mencintaiku apa adanya. Aku memandang wajah Pipin yang tertidur pulas. Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.


Setelah menempuh perjalanan hampir 2 harian, akhirnya aku sampai di rumah. Kedua orang tuaku kaget bukan main karena aku pulang tidak sendiri, aku membawa anak gadis orang.


Kemudian papa memanggilku untuk masuk ke kamar.


Aku tertunduk dan bingung jawaban apa yang terbaik yang harus aku katakan pada papa.


" Pram, kamu jawab pertanyaan Papa, jangan cari masalah kamu!" Suara papa mulai meninggi.


"Namanya Pipin pa... Pipin kekasih Pram di kota M. Dan rencana Pram mau menikahinya Pa." jawabku memberanikan diri.


"Yang benar saja kamu Pram, kamu ini baru tamat kuliah, kerja juga belum masak kamu mau menikah. Terus kamu mau kasi makan apa anak gadis orang. Hah!!!"


Aku tertunduk gak tahu harus menjawab apa.


Papaku membakar rokoknya, kemudian duduk di hadapanku. Papa menarik nafas...Hmmmm


"Pram, apakah kamu sudah pikirkan baik-baik keputusan mu itu? Ini masa depanmu sendiri nak, jadi kamu yang memutuskan apa yang harus kamu lakukan. Kamu dengar apa kata Papa barusan? " Suara papa mulai melemah.


Aku mengangguk.

__ADS_1


"Sekarang bagaimana?" tanya Papa lagi.


Aku memberanikan diri menjawab pertanyaan papa.


"Pa, aku akan menikahi Pipin pa... Keputusanku sudah bulat."


"Pram, apakah Pipin sedang mengandung anakmu? Maaf Papa bertanya yang sangat pribadi."


Aku kaget bukan main mendengar pertanyaan papa.


"Pipin masih suci Pa, aku gak pernah menyentuh Pipin." Jawabku dengan nada tinggi dan tegas


"Maafin papa Nak, papa hanya ingin tahu kenapa kamu ingin menikah secepat ini, sementara kamu belum mempunyai pekerjaan. "


Aku mengerti kenapa papa bertanya seperti itu.


"Iya pa, Pram ngerti pa... Wajar papa bertanya seperti itu. Maafin Pram pa."


"Pram ingin cepat menikah hanya karena tidak ingin ada fitnah pa, tolong ngertiin Pram pa." Aku menjelaskan lagi.


"Baiklah kalau begitu. Terus bagaimana dengan orang tua gadis itu. Apakah kedua orang tuanya sudah tahu?"


Aku menggeleng. " Belum tahu Pa..." Kemudian aku tertunduk.


"Kalau begitu kamu segera beritahu kedua orang tua gadis itu, bahwa kamu akan menikahinya."


"Iya pa.. Nanti Pram akan memberi tahu orang tua Pipin." Jawabku.


"Ya sudah, kamu bicarakan dulu sana ma gadis itu."


Kemudian aku keluar mencari Pipin yang sedang duduk di ruang tamu.


"Pin, sebaiknya sekarang aku mengabari kedua orangtuamu."


"Sebelum pergi, aku sudah menulis surat untuk orang tuaku. Aku mengatakan kalau aku akan menikah denganmu." Pipin menundukkan kepalanya.


"Iyaa sudah kalau begitu. Tapi akau akan mengabari lagi ke kedua orang tuamu. Aku gak mau dibilang sebagai laki-laki yang tidak bertanggung jawab."


Pipin menatapku dan tersenyum. "Aku sangat mencintaimu Pram.."

__ADS_1


Aku mengangguk kemudian mengelus rambut Pipin.


Sorenya aku mencoba menelpon kedua orang tua Pipin.


__ADS_2